REJEKIPOKER
PERKASA99
BADUTQQ
GADISQQ
BABEQQ
KEPOQQ
BUNGAQQ
TATOQ
BAJUPOKER
SEHATPOKER

Selingkuh Dengan Ibu Mertuaku yang Bahenol Part 1

Cerita Sex 2018 – Cerita Penis Vagina adalah cerita sex panas terbaru 2018 dengan Selingkuh Dengan Ibu Mertuaku yang Bahenol Part 1. Situs ini dikhususkan untuk orang dewasa saja yang berisikan cerita-cerita seru dan terlengkap untuk usia 18 tahun keatas yang dapat meningkatkan nafsu birahi jika ingin mastrubasi atau bersetubuh dengan lawan jenis anda. Selamat membaca.

Aku berbaring di sofa dengan segelas anggur sambil mendengarkan siaran dari stasiun radio lokal. Istriku, Lidya sedang pergi beberapa hari untuk berbisnis, dan dia mengambil kesempatan ini untuk bersantai sendirian di sore hari, dimana semua perhatian dan kekhawatiran tidak terpikirkan olehku seperti yang biasanya terjadi. Aku hanya bisa duduk dengan santai.

Sewaktu aku hendak menuangkan kembali anggur ke gelasku, aku mendengar suara hujan yang turun menerpa dengan keras jendela ruangan dimana tempat aku bersantai. Dihadapanku terdapat suatu perapian dengan kayu yang terbakar, yang memberikan kehangatan.

Meskipun musim dingin tahun ini agak ringan, tapi hari ini tetap terasa sangat dingin. Dengan udara yang dingin ditambah dengan derasnya hujan. Malam ini terasa seperti malam yang terasa agak mesum bagiku dan aku juga merasa tidak perlu untuk keluar dari rumah.

Aku hanya menuangnkan gelas demi gelas anggur dan merapihkan serta menyusun kayu pada perapian, dan pada saat itu bell rumahku berbunyi. Aku meneguk seteguk anggur dari gelasnya dan menunggu beberapa saat. Hanya ada 2 hal yang ada pada pikiranku saat itu, membukakan pintu atau tidak, dan siapakah yang mencoba mengganggu diriku malam ini.

Sebenarnya aku telah memutuskan untuk memberi tahu kondisiku kepada seseorang yang ada diluar, aku mencoba menjawab saat suara bell terdengar untuk kedua kalinya. Aku meletakan minumanku di meja dan mulai melangkahkan kakiku maju kedepan pintu menyalakan lampu di teras depan.

Meskipun aku dapat melihat bentuk bayangan dari orang yang datang malam itu, aku tetap belum bisa menentukan siapakah itu, ataupun dengan sebab yang lain, apakah itu wanita atau pria? Melepaskan grendel lalu membuka pintu yang ternyata adalah Susanti, Ibu Mertuaku yang sedang berdiri di berenda teras rumahku, yang akan kebasahan bila tidak segera kupersilahkan masuk.

“Hai sayang, aku pikir dirumah ngak ada orang,” kata Ibu Mertuaku.

Walaupun tidak berharap, aku juga tidak terlalu surprise dengan kedatangan perempuan yang biasa dpanggil dengan sebutan Susanti. Ibu Mertuaku ini sangat dekat dengan anak perempuannya yang kini menjadi istriku. Sering sekali mereka berkomunikasi melalui telepon untuk mengobrol, sejak dia kehilangan suaminya setahun yang lalu.

“Silahkan masuk Bu,” aku mempersilahkan masuk Ibu Mertuaku yang berdiri di berenda teras.

“Lidya lagi ngak dirumah, dia pergi berbisnis, aku pikir dia memberi tahu Ibu,” kataku sambil menutup pintu rumah untuk menghalau angin dan hujan yang memang agak kencang.

Ibu Mertuaku membalikkan badan dan wajahnya kearahku, “Gak. Istrimu belum bilang tuh, malahan sekarang Ibu berpikir untuk menghubungi istrimu untuk mengatakan bahwa aku akan menghabiskan waktu disini selama satu atau dua hari untuk menyelesaikan beberapa hal,” kata jawab Ibu Mertuaku.

“Memang ada yang penting, Bu?” tanyaku.

“Gak lah, ngak juga sih, tapi Ibu muncul tiba-tiba karena memang Ibu butuh teman untuk ngobrol, tapi kalau sibuk ya udah gak apa-apa kok, Ibu pulang lagi ya.” jawabnya.

Ibu Mertuaku mengatakan hal tersebut sambil membuat bahasa tubuh seakan-akan siap untuk pergi meninggalkan diriku.

“Ya sudah sih Bu, gak apa-apa kok. Masa cepat amat langsung pergi, aku lagi gak ngapain-ngapain kok, sebenarnya sekarang aku sedang bersantai aja di sore hari menjelang malam ini. Mari Bu aku bantu untuk melepaskan mantel Ibu,” kataku dengan sigap membantah kata-kata Ibu Mertuaku.

Ibu Mertuaku membalikkan badannya agar diriku bisa dengan mudah membantu melepaskan mantelnya, dengan demikian secara tidak sengaja Ibu Mertuaku menawarkan sebuah pemandangan punggungnya keapdaku. Selagi Ibu Mertuaku membuka kancing depan mantelnya, aku meraih mantel dari pundak Ibu Mertuaku dan menurunkannya melalui bahunya.

Dengan cepat dan inisiatif aku menurunkan dan melepaskan mantelnya, membuat mantel yang dikenakan oleh Ibu Mertuaku. Mantel yang berwarna biru terang terbuat dari rajutan bulu domba, dan ketika mantelnya dibuka terlihatlah baju Ibu Mertuaku bermodelkan terusan langsung tanpa kerah yang berbentuk huruf “V” yang agak menonjolkan dadanya yang terlihat begitu menggoda.

Pada kenyataannya pakaian yang dipakai oleh Ibu Mertuaku terlihat sangat cocok dan enak dilihat mata. Aku melihat Ibu Mertuaku dengan pakaian seperti itu mungkin hanya pada acara-acara tertentu saja. Atau mungkin saat kebetulan bila Ibu Mertuaku sedang memakainya, dan aku tidak cukup mempunyai alasan untuk meminta Ibu Mertuaku spesial memakai pakaian seperti itu hanya untuk diriku, dan memang hal seperti ini menjadi favorit diriku.

Terutama hal ini diperlihatkan oleh Ibu Mertuaku saat dia sudah menginjak umur 54 tahun, tetapi pada umurnya yang sudah cukup tua itu, Ibu Mertuaku lebih terlihat seperti perempuan berumur 36 tahun, atau mungkin 25 tahun, yang pasti jika orang melihat pasti masih cocok di skala umur 35 tahunan. Satu hal sudah pasti Ibu Mertuaku sangat menjaga penampilannya agar selalu bisa tampil anggun dan cantik.

“Masuk Bu, silahkan ke dalam,” kataku sambil menggantungkan mantelnya.

Seperti yang aku lakukan, aku tidak bisa mengantar Ibu Mertuaku masuk ke dalam, tetapi aku memperhatikan bagian belakang Ibu Mertuaku yang terlihat sangat memukau dengan gaya jalannya dan lenggokan pinggulnya saat berjalan menuju ruangan tengah tempat aku bersantai.

Tampak belakang dari tubuhnya terlihat sangat indah, aku berkata di dalam hati “Aku juga memperhatikan pantat Ibu Mertuaku yang sangat elok nan rupawan yang bergoncang dan bergoyang ke kanan dan ke kiri terbungkus oleh kain halus pakaian terusannya yang agak ketat di daerah pinggulnya, seiring dengan langkah kakinya yang indah dan rupawan.

Ibu Mertuaku, Susanti menghilang masuk ke dalam rumah dan aku mengetahui bahwa diriku sedang berfantasi tentang kemolekan Ibu Mertuaku. Apa reaksi Ibu Mertuaku apabila dia tahu bahwa tubuhnya sedang diperhatikan oleh menantunya atau dia tahu bahwa menantunya sangat mengaggumi dirinya.

Lalu kemudian, aku sedikit banyak mulai berharap, aku mulai melangkahkan kaki ketempat dimana Ibu Mertuaku berada. Dan aku juga sambil mengkhayal apabila Ibu Mertuaku tahu dengan perasaannya yang sedang diperhatikan oleh menantunya.

Aku mengikuti Ibu Mertuaku dari belakang ke ruangan tengah dimana sebelumnya aku sedang bersantai dan memberikan isyarat kepada Ibu Mertuaku supaya membuat dirinya nyaman selagi aku menuangkan segelas Wine. Meskipun demikian, aku tetap tidak bisa menahan untuk tidak memandangi tubuh Ibu Mertuaku dari pojok mataku sewaktu dia duduk di sofa.

Lalu aku berjalan sambil meminum segelas wine yang ada di genggamanku. Lalu aku menawarkannya segelas wine yang memang sudah kusediakan untuk Ibu Mertuaku. Untuk beberapa menit kami mulai membicarakan tentang Lidya, istriku dan pekerjaannya yang memang membutuhkan dan menyita banyak waktu.

Sementara kami berbicara, aku mengalami kehilangan kontrol pada mataku dan aku sangat susah untuk mencegah mataku memperhatikan tubuh Ibu Mertuaku yang sangat mengundang birahi. Dua kali aku mencoba membenarkan posisi dudukku dari kekhawatiranku terhadap Ibu Mertuaku yang mungkin bisa melihat sesuatu yang berubah pada celanaku.

Kami melanjutkan perbincangan tentant suatu hal yang memang menarik tetapi juga mungkin hanya perbincangan kosong dan tidak terlalu penting sehingga aku semakin dibuat mabuk kepayang oleh kesensualan dan keindahan tubuh Ibu Mertuaku.

Memang sudah tidak diragukan lagi tentang hal itu, aku merenung dalam hati. Ibu Mertua atau bukan Susanti adalah seorang perempuan yang sangat menarik. Aku tersenyum kecil dan membayangkan perkataan dari orang-orang bahwa diriku mempunyai Ibu Mertua yang cantik dan sangat modis, terlebih lagi pada saat malam ini berpakaian rapih ketat walau tidak minim tapi memperlihatkan lekuk tubuh yang sangat sempurna.

Semua yang aku bayangkan secara tepat adalah sebuah sosok yang sangat menantang, sesosok perempuan yang menggoda yang sedang duduk dan secara tidak langsung Ibu Mertuaku juga terkadang menyembunyikan lirikan matanya. Aku juga tahu bahwa mungkin Ibu Mertuaku sudah masuk ke dalam sebuah atmosfer ketertarikan lawan jenis.

Jika itu benar, aku akan sangat sulut untuk mempercayainya karena memang sejauh yang aku tahu, Ibu Mertuaku tidak mempunyai ketertarikan untuk makan malam atau minum wine dengan lawan jenis atau membina hubungan dengan lawan jenis semenjak ditinggal oleh suaminya.

Mataku hanyut pada dadanya yang cukup montok dan tubuh bahenolnya, kedua mataku menelusuri kerah-kerah pakaiannya yang berbentuk “V” yang agak rendah mulai dari atas kerah dari leher sampai ke akhir dari kerah tersebut. Ukuran dari dada Ibu Mertuaku cukup membuat pakaian yang dikenakan olehnya menjadi sangat ketat dan menggoda sangat mempesona dan menggairahkan. Lalu aku diam-diam meyakinkan ukuran buah dada dari Ibu Mertuaku itu melalui belahan dada yang terlihat dari kerah “V” nya.

Belahan buah dada Susanti, Ibu Mertuaku terlihat naik turun seirama dengan nafasnya yang kadang ditarik cukup dalam saat menghela nafas. Mataku terus tertuju kearah garis payudara dan lekukan tubuhnya yang tercetak pada pakaiannya yang ketat. Pinggangnya yang ramping, belahan pinggulnya yang sangat montok dan bahenol itu terus tertuju kearah kaki Ibu Mertuaku. Kaki yang sangat bagus, mulus terawat dengan sangat baik serta betisnya yang sangat menggoda.

“Mmmhh…” aku bergumam dalam hati dan berfantasi apabila aku bisa menaklukkan tubuh Ibu Mertuaku dan merabanya. Aku juga mengetahui bahwa Susanti, Ibu Mertuaku mengenakan kaos kaki panjang nilon atau lebih tepatnya stoking, atau jika dilihat sesaat seperti celana ketat tapi memang terlihat seperti stoking.

Mengetahui dirinya mengenakan stoking, aku berasumsi bahwa itu adalah benar-benar stoking, pendapatku dalam hati. Mungkin Ibu Mertuaku agak malu untuk mengenakan celana ketat, tapi itu hanya pendapatku saja.

Hampir tersadar dari lamunan tentang Ibu Mertuaku, aku mencoba mendengarkan perkataan Ibu Mertuaku sekali lagi dan sesaat diriku seperti mencoba tersadar dari khayalan nakalku, dan setelah tersadar ternyata aku tidak menyimak semua obrolan yang sedang kami perbincangkan.

“Eee… ya… duh, Maaf Bu kenapa?” kataku. “Tadi aku lagi sedikit melamun, Bu. Tadi Ibu bilang apa?”

“Ya ampun, Yuda… Hey, kamu sudah bosan ya mendengarkan ocehan Ibu Mertuamu?” kata Ibu Mertuaku.

“Gak.. gak kok Bu, ya ampun gak bosen juga kali Bu,” sahutku. “Aku hanya gak ngerti banget maksud dari perkataan Ibu.”

Ibu Mertuaku melihat kearah diriku dan menganggukkan kepalanya dan mencoba kembali menjelaskan pertanyaannya itu.

“Tadi Ibu tanya, apa kamu akan jemput Lidya di airpot, sepulangnya istrimu itu?”

Aku meneguk wine dan berkata, “Tidak biar dia naik taksi saja, lagi pula dibayarin kok sama perusahaannya.”

“Dan Lidya pulangnya hari Kamis ya, katamu tadi?” tanya Ibu Mertuaku.

“Ya mungkin pada sore harinya,” jawabku sambil terus melirik kearah tubuhnya.

“Ooo.. kasian banget kamu tidur sendirian di tempat tidur sebesar itu untuk beberapa malam. Pasti kamu akan merasa kesepian banget,” kata Ibu Mertuaku sambil menurunkan tangannya kearah kedua belah pahanya dengan bersamaan menyilangkan pahanya bertumpu ke paha yang lain dengan gerakan yang tidak menentu.

Bagiku, sementara komentar itu muncul dari mulut Ibu Mertuaku yang akhirnya keluar ke dalam pembicaraan, membuat diriku seperti terkaget akan komentarnya yang seperti itu. Dengan nada rendah aku menjawab.

“Ya Bu, memang sudah seharusnya seperti itu,” jawabku.

Kulanjutkan perhatian kepada tubuh Ibu Mertuaku, sementara Ibu Mertuaku tetap mengoceh memperhatikan pakaian terusan yang agak ketat di badannya sampai dengan lututnya. Hampir saja terpikir olehku, bahwa Ibu Mertuaku seperti akan menunjukkan untuk memperlihatkan betapa mulusnya kaki dan pahanya.

Tapi hal tersebut tetap tidak bisa membantu diriku untuk memulai berkhayal jika tanganku bisa membelai mulusnya paha dari Ibu Mertuaku yang terlihat sangat terawat dengan mahal. Ujung kakinya yang terbalut oleh kain stoking dan juga meraba indahnya tubuh dibalik pakaiannya yang menutupi suatu perubahan pada diriku.

Pembicaraan terus berlangsung diantara kami, satu-satunya persoalan yang mengganggu diriku adalah sewaktu aku berdiri untuk menuangkan wine ke gelas Ibu Mertuaku. Sewaktu pembicaraan masih berlangsung, Ibu Mertuaku berbicara kepadaku.

“Bagaimana jika kita nonton Film yang selalu di rekan oleh Lidya?” kata Ibu Mertuaku.

Karena waktu kerja Lidya yang sangat panjang dikantornya, istriku selalu merekam film yang terlewat untuk di tontonnya kemudian. Seperti aku, Ibu Mertuaku pun tahu kesenangan anak perempuannya. Sesampainya dirumah, lalu menyalakan TV, duduk relaks dan menonton salah satu film yang sudah dia rekam, Ibu Mertuaku pun juga kadang-kadang suka begitu ataupun bergabung bersama anak perempuannya itu.

“Oke boleh juga tuh Bu,” sahutku.

Aku tuangkan segelas wine untuknya, lalu aku berjalan kearah TV, membuka lemari dan menyalakan TV lalu mulai membaca judul-judul film yang akan diputar. Ada sebagian film yang tidak ada judulnya, disitu hanya tertera nomor dari film tersebut.

Aku tersenyum kecil melihat hal itu dan mempunyai ide di dalam pikiranku. Aku tahu bahwa sebagian itu adalah film porno, dan aku ingin tahu apa reaksi Ibu Mertuaku jika aku secara tidak sengaja memutar film porno itu.

“Apa yang akan dikatakan oleh Ibu Mertuaku?” gumamku dalam hati.

Dan jika ternyata Ibu Mertuaku menolak dengan tegas, yang kuperlukan adalah meminta maaf, dan menjelaskan bahwa ini murni ketidak sengajaan, dan mengganti dengan film yang lain.

Waspada jika Ibu Mertuaku tahu bahwa diriku mempunyai niat kotor dengan senyuman kecilku itu, aku memutuskan untuk segera memutar film porno itu, berharap dia tidak sangat tersinggung dengan kenakalanku dan tetap baik kepada menantu laki-lakinya ini. Dan mudah-mudahan film itu menuntun kami ke arah yang lain. Kumpulan Cerita Sex dan Sange 2018

“Film apa nih, Yud?” tanya Ibu Mertuaku sebelum film itu mulai berputar.

“Aku juga gak tahu Bu,” jawabku polos. “Aku sih berharap ini adalah salah satu film televisi yang baru saja direkam oleh Lidya.”

Aku meperhatikan Ibu Mertuaku yang sedang meneguk winenya. Film yang sudah dimulai menampilkan adegan pertama dan aku akan secepatnya bilang seperti yang aku rencanakan tadi. Aku tahu kapan aksi pertama film itu akan dimulai, film ini berlatar di Jerman, dimana Ibu Mertuaku pasti akan menanyakan soal itu.

Setelah aku sudah cukup yakin, dan adegan pertama mulai, dimana adegan itu menampilkan seorang suami yang sedang bercakap-cakap dengan seorang perempuan purang, lalu Ibu Mertuaku berpaling kepadaku.

“Film ini berlatar dimana ya? Asal negaranya?” tanya Ibu Mertuaku.

“Ya ampun…” aku berkata agak keras, bahwa aku salah memutar film, yang kuputar itu adalah film horor.

“Jika aku sekarang salah memutar film pasti Ibu gak mau nonton ya?” kataku.

“Kenapa? Ada yang salah?” kata Ibu Mertuaku.

“Gak sih Bu, gak apa-apa,” kataku sambil berdiri dari kursi. “Aku akan mengganti dengan film yang lain Bu,” kataku sambil berdiri.

“Sudahlah gak apa-apa kok,” kata Ibu Mertuaku. “Kalau kamu mau nonton ya gak apa-apa, kalau emang film horornya bagus kenapa ngak?”

“Bukan itu Bu, maksud aku…” kubalas pendapat Ibu Mertuaku.

“Film yang satu ini… bisa dikatakan film ini agak nakal gitu deh Bu. Aku gak yakin Ibu setuju untuk menontonnya.”

“Oohh… ya ya ya. Ibu tahu sekarang,” jawab Ibu Mertuaku.

Dimana film tersebut sedang menampilkan adegan seorang wanita berambut pirang sedang menurunkan celana seorang laki-laki. Untuk sementara aku terdiam mematung, satu matanya kearah screen TV, satu matanya agak melirih kearah Ibu Mertuaku.

“Hmmm… sudahlah Yud.. gak usah khawatir dengan Ibu,” kata Ibu Mertuaku sambil menyenderkan punggungnya di sofa.

“Sudah lama banget nih Ibu gak nonton film kaya gini. Sejak dulu Ibu pernah nonton sekali, terus kamu sesekali juga nonton film beginian, apa kamu nonton semuanya. Iya kan?” kata Ibu Mertuaku sambil sedikit tersenyum nakal.

“Tuh kan Bu… kan aku sudah bilang kalau ini film…” aku membalas pertanyaannya sambil menyenderkan punggungnya ke senderan kursi agar diriku bisa sedikit santai dari ketegangan akibat pertanyaan Ibu Mertuaku.

“Ibu yakin nih, mau nonton film ini?” aku langsung menyambung penyataannya dengan bahasa tubuh seperti orang tidak berdosa dan berharap semua berjalan lancar dan sesuai rencana.

“Ya gak apa-apa. Sudah gak usah takut,” kata Ibu Mertuaku.

Beberapa menit kedepan kami menyaksikan di layar TV dimana adegan itu menampilkan wanita pirang mulai membuka celananya di depan suaminya. Lalu adegan tersebut berlangsung panas si suaminya mulai menggoda istri mudanya yang berambut pirang itu dengan meraba payudara sampai dengan rabaan pada puting payudaranya.

Aku memperhatikan adegan itu dengan sangat konsentrasi dan membayangkan wanita yang sedang ada di dalam adegan itu adalah Ibu Mertuaku sendiri yaitu Susanti dan aku juga membayangkan bahwa laki-laki yang ada dalam adegan itu adalah diriku sendiri, yang sedang membelai payudara Ibu Mertuaku.

Dalam khayalan aku membelai kedua payudara Ibu Mertua dari satu ke yang satunya dengan sangat lembut dan aku hanya bisa mengkhayalkannya saja.

Kami berdua duduk dengan meyandarkan punggung kami pada senderan kursi, dan memperhatikan video itu dengan seksama sejalan dengan jalan cerita dari film itu, sehingga aksi dari film di video itu berjalan sesuai dengan alur cerita dan cerita kian memanas.

Dalam beberapa kesempatan aku mulai terangsang dan makin terangsang karena aku membayangkan yang ada di film itu adalah aku dan Ibu Mertuaku yang menjadi artis porno dan memainkan suatu adegan ranjang yang sangat panas.

Aku membayangkan seperti adegan yang ada pada film itu, bersetubuh dengan berpelukan, persetubuhan dengan gaya doggy style, bahkan hubungan seks anal dan oral. Aku membayangkan diriku melakukannya bersama Ibu Mertuaku sesuai dengan tampilan yang ada pada layar TV.

Akhirnya film itu selesai dan habis dan aku sudah membenarkan posisiku berkali-kali sejak film itu mulai sampai dengan selesai. Karena beberapa kali aku sangat susah menutupi keterangsanganku bila aku berdiri dari bangku yang kududuki. Kira-kira apa yang akan terjadi pada kami berdua, karena memang aku merasa bahwa Ibu Mertuaku kadang juga memperhatikan keterangsangan yang aku alami.

“Hhhmmm… terus sekarang apa yang ada di dalam pikiranmu Yud?” tanya Ibu Mertuaku yang sama sekali tidak terpikirkan oleh diriku dan spontan membuatku kaget.

“Mmm…. sebenarnya sih, jujur aku agak malu Bu, duduk disini bersama Ibu nonton film beginian dan aku tidak tahu apa yang harus aku katakan sekarang,” jawabku.

“Ya sudah deh, jangan sok bego gitu deh kamu. Kan tadi Ibu sudah bilang, aku juga sudah pernah nonton film kaya gini sebelumnya, dan Ibu yakin kamu sama Lidya juga sering kan nonton film beginian berdua?” Ibu Mertuakua bertanya lagi.

“Ya pernah dong Bu, tapi kan gak sama rasanya. Aku nonton sama Lidya dan sekarang aku nontonnya sama Ibu, beda kan Bu rasanya?” kataku.

“Ya jelas beda dong Yud, harus berbeda dong, aku kan Ibu Mertuamu, terus kalau kamu sama istrimu lagi nonton, reaksi Lidya seperti apa?” tanya Ibu Mertuaku seperti ingin tahu.

Pertama kalinya aku terlihat sangat malu walau sedikit. “Kalau Lidya sih santai-santai saja Bu, nonton film beginian sama aku, ya kadang agak kaget juga sih Bu.” jawabku.

“Nah terus reaksi kamu gimana Yud?” tanya Ibu Mertuaku lagi.

“Ya jelas lah Bu, reaksi aku ya tergantung reaksinya Lidya gimana ke aku.. hehehee….” jawabku sambil malu-malu.

“Itu menurut kamu, bisa juga karena kalian nonton film porno non lokal atau film porno dengan gaya sex kasar gitu kali ya. Jadi itu yang bisa bikin kalian terangsang,” kata Ibu Mertuaku.

Aku bertambah kaget ketika Ibu Mertuaku memberikan pertanyaannya yang sangat jujur.

“Gak juga sih Bu, mungkin kadang-kadang gitu,” jawabku. “Ibu mau minuman yang lain Bu?” aku sedikit menghindar untuk mengganti topik pembicaraan.

“Boleh juga tuh, mau dong,” jawab Ibu Mertuaku.

BERSAMBUNG ……

Jangan lupa di share ya Selingkuh Dengan Ibu Mertuaku yang Bahenol Part 1 …. Dibaca juga Ngentot Tanteku Yang Seksi dan Kesepian… Dan nantikan cerita-cerita yang lebih horny dan sange dari kami www.ceritapv.com selanjutnya. Cerita Sex Sedarah 2018

One thought on “Selingkuh Dengan Ibu Mertuaku yang Bahenol Part 1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: