REJEKIPOKER
PERKASA99
BADUTQQ
GADISQQ
BABEQQ
KEPOQQ
BUNGAQQ
TATOQ
BAJUPOKER
SEHATPOKER

Cerita Sex Ngentot Mbak Dea Istri yang Kesepian

Kumpulan Cerita Sex dan Sange 2018 – Cerita Penis Vagina adalah cerita sex panas terbaru 2018 dengan Cerita Sex Ngentot Mbak Dea Istri yang Kesepian. Situs ini dikhususkan untuk orang dewasa saja yang berisikan cerita-cerita seru dan terlengkap untuk usia 18 tahun keatas yang dapat meningkatkan nafsu birahi jika ingin mastrubasi atau bersetubuh dengan lawan jenis anda. Selamat membaca.

Perkenalkan namaku Danu berumur 26 tahun, aku bekerja menjadi karyawan swasta ternama di kota Kembang (Bandung). Kesibukanku selain bekerja rutin, aku suka online marketing untuk menambah uang sakuku untuk membeli bensin dan rokok. Aku orangnya tergolong pemuda yang atletis karena setiap cabang olahraga bisa aku ikuti. Ya meskipun tidak jago-jago amat, setidaknya aku bisa menyeimbangi ketangakasan setiap cabang olahraga yang ada seperti voli, badminton, basket dan sepakbola. Badanku yang profesional membuatku bisa bergerak lincah serta energik setiap melakukan aktivitas.

Aku tinggal di perdesaan yang sangat asri dan nyaman. Itu kampung tercintaku dimana aku lahir disitu juga. Disekitar rumahku terdapat tetangga-tetangga yang baik dan ramah-ramah. Ada pendatang, ada pula yang memang asli pribumi warga setempat. Sebut saja Mbak Dea berusia 29 tahun dengan tinggi, kulit putih bersih, tubuh seksi dan hidungnya mancung, mirip artis indonesia dengan rambut panjang lurus bagaikan iklan shampo di TV, Mbak Dea adalah salah satu tetangga pendatang dari kota. Sudah 4 tahun Mbak Dea, suaminya dan seorang anak berumur 1 tahun menjadi tetangga dekatku.

Aku juga sering mengobrol dengan Mas Randi suami dari Mbak Dea sehingga cukup dekat dan santai dengan mereka. Apalagi anaknya yang masih lucu-lucunya sering aku ajak bermain ke dalam kamarku. Mas Randi itu kerjaannya menjadi hotskeeping di kapal pesiar internasional, sehingga waktu kerja dan waktu libur sudah terjadwal bagaikan sistem blok. 8 bulan berlayar, 2 bulan liburan jadi Mas Randi itu bisa kumpul dengan keluarganya 1 tahun hanya 1 kali dalam waktu 2 bulan saja. Gaji yang besar ternyata tidak selalu membuat seseorang bisa bahagia dengan selalu berkumpul bersama keluarganya.

Sore itu aku lihat Mbak Dea yang sedang menggendong anaknya dengan wajah yang sedih berada di pagar halaman rumah. Dan di depannya sudah ada mobil taxi menjemput Mas Randi yang pastinya kembali bekerja berlayar dikapal pesiar. Benar-benar tidak sanggup melihat itu andai kelak aku harus meninggal istri dan anakku yang lama hanya untuk urusan pekerjaan. Aku tidak ingin bekerja seperti itu. Bagiku yang penting gajiku cukup asal tidak selalu meninggalkan keluarga dalam tempo waktu yang cukup lama.

Terlihat Mbak Dea dikecup keningnya oleh Mas Randi, kemudian dipeluknya dan tetesan air matanya berlinang. 5 menit kemudian setelah taxi pergi membawa Mas Randi, aku mendatangi rumah Mbak Dea. Memang seperti biasanya aku sering bermain disitu. Entah itu bermain bersama anaknya atau kadang juga dimintai bantuan dikala Mas Randi tidak dirumah seperti benerin genteng bocor, kran mampet, lampu rusak dan lain-lain. Jadi sudah seperti rumah sendiri dan Mas Randi juga sering bilang kepadaku untuk menitipkan anak dan istrinya itu diwaktu sedang berlayar.

“Mas Randi sudah berangkat lagi ya Mbak?” sapaku dari samping halaman.

“Iya Mas Danu, barusan aja kok. Hmmm…. sendiri lagi deh aku Mas,” jawab Mbak Dea sambil menghela nafas.

“Berlayar kemana lagi Mas Randi Mbak?” tanyaku.

“Bilangnya sih ke Eropa. Eh… ayo masuk aja, itu Mbak ada kue, sayang kalau ngak ada yang makan,” tawar Mbak Dea sambil kemudian menyuruhku masuk untuk ditawari makan kue.

Sambil mengganti menggendong anaknya, aku masuk ke rumah Mbak Dea. Kemudian diambilkannya segelas Jus Timun yang dingin beserta kue yang tadi sudah ditawarkan ke aku.

“Ayo Dan, diminum dan dicicipi kuenya. Buatan Mbak sendiri,” kata Mbak Dea menawarkan.

“Siap Mbak, santai saja… pasti nanti Danu makan dah,” jawabku sambil masih menggendong anaknya yang sedang bercandaan denganku.

Kemudian aku minum jus timun dan mencicipi kue buatan Mbak Dea. “Giaman Dan rasanya? Enak ngak? Jawab yang jujur loh,” tanya Mbak Dea sambil tersenyum manisnya terurai.

“Wahhh muannntap Mbak. Kalau dijual pasti laris ini kue buatanmu Mbak,” jawabku sambil makan kue buatan Mbak Dea.

“Halahh… pinter kamu tu gombalnya Dan…” sahut Mbak Dea sambil ketawa tersipu.

Disela-sela aku memakan kue buatan Mbak Dea, aku diajak ngobrol dengan Mbak Dea. Sepertinya Mbak Dea ingin melepas penat dalam pikirannya dengan sharing denganku. Terlihat jelas wajah serius Mbak Dea saat mulai mengeluarkan unek-uneknya ke aku. Mbak Dea merasa ingin bilang ke Mas Randi kalau untuk cari pekerjaan lainnya biar bisa berkumpul setiap harinya dengan keluarga. Mbak Dea merasa sangat kesepian ditinggal Mas Randi pergi berlayar.

“Mbak tuh mau bilang ke Mas Randi, tapi belum berani Dan. Takut menyinggung perasaan Mas Randi,” keluh Mbak Dea sambil menyilakkan rambutnya.

“Yang sabar Mbak, siapa tahu ini ada hikmahnya, mungkin juga Mas Randi ada planning untuk mengumpulkan modal dulu lewat bekerja di kapal pesiar. Tentunya dengan gaji besar akan cepat mengumpulkan modalnya kan Mbak?” jawabku sedikit menenangkan Mbak Dea.

“Iya juga sih Dan, tapi kalau kamu sendiri gimana? Maksudku jika kamu bekerja seperti Mas Randi terus kamu sudah punya keluarga dan momongan. Apa kamu juga bisa seperti Mas Randi?” tanya Mbak Dea.

“Wah kalau aku punya keinginan harus bisa kumpul dengan keluarga Mbak. Tidak masalah bagiku dengan gaji kecil asalkan cukup. Yang penting bisa ketemu keluarga setiap harinya. Itu kalau aku loh Mbak, kan pemikiran orang beda-beda, termasuk juga Mas Randi,” jawabku tegas.

“Eemmm… sejujurnya aku juga memiliki pemikiran yang sama kayak kamu Dan, ngak perlu harta yang melimpah, asalkan bisa terus berkumpul dengan keluarga,” seru Mbak Dea sambil menganggukkan kepala.

“Eh, bentar ya itu Dafa (anak Mbak Dea) tertidur, tak pindahin dia ke kamarnya bentar ya Dan,” kata Mbak Dea sambil menghampiri Dafa yang tertidur didepan TV sambil ngedot susu, yang memang sedari tadi aku ngobrol dengan Mbak Dea, DAfa ditidurkan di depan TV.

Ketika Mbak Dea berjalan menuju Dafa yang sedang tertidur, tampak jelas tubuhnya yang seksi, antara pantat yang berisi, lekukan celana dalamnya yang terlihat jelas dan cara berjalannya yang bagaikan pragawati dengan pinggulnya bergerak kekanan ke kiri semakin menyempurnakan keindahan tubuh Mbak Dea yang notabene sering melakukan perawatan di salon kecantikan ternama di Bandung.

Kuperhatikan dengan seksama seluruh tubuh Mbak Dea itu, saat dia jongkok mau mengangkat anaknya terlihat kaos ketatnya terangkat naik sehingga terlihat celana dalam warna pink dan kulit punggungna yang putih bersih. Semakin aku menjadi penasaran seperti apa kalau Mbak Dea itu tanpa busana. Dalam hati aku hanya berkata, “Beruntungnya Mas Randi punya istri secantik Mbak Dea.”

Kemudiam kulihat Mbak Dea menggendong Dafa dan di bawa ke kamarnya. Tak lama kemudian Mbak Dea kembali ke ruang dimana kita tadi sedang ngobrol. Pucuk dicinta ulam pun tiba, pemandangan superhot hadir dengan sendirinya ketika Mbak Dea tidak sadar kalau kancing kaosnya terlepas, mungkin akibat menggendong Dafa tadi. Jadi cukup terlihat jelas garis bukit lembah buah dada Mbak Dea yang terbelah dan menampakkan warna kuning bersih dan berisi itu.

Warna BH yang sama dengan celana dalam Mbak Dea yang tadi juga sempat aku lihat. Dipastikan kalau Mbak Dea itu type wanita yang mecing dengan dandanan termasuk urusan mengenakan pakaian dalam. Kemudian kami lanjutkan mengobrol dan bercanda ria hingga cukup malam.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan telah membuat suasana aku dan Mbak Dea semakin dekat bahkan sedikit intim. Tidak sedikit SMS dari Mbak Dea kalau malam sama-sama belum tidur berisikan SMS berbau tentang sex. Aku berkesimpulan bahwa Mbak Dea itu sedang kesepian dan aku diajak gituan. hahahahhaa.. ya kayak gitu bayanganku itu. Mau gimana lagi, melihat wanita cantik, super seksi, putih bersih dan lagi kesepian, tentunya normal dong terbesit ada lamuman seperti itu.

Tidak terasa sudah 3 bulan lamanya Mbak Dea dan Dafa sendirian di rumah ditinggal Mas Randi bekerja. Tampak terlihat sekali wajah gelisah dan seperti butuh teman sekedar ngobrol. Dari hal itulah aku jadi dekat dengan Mbak Dea, dan suatu ketika kurang lebih sekitar jam delapanan, aku yang sedang nongkrong di warung kopi, tiba-tiba HPku bergetar. Aku cek ada SMS masuk. Setelah kubuka ternyata SMS dari Mbak Dea.

“Danu, kamu lagi dimana? Bisa kerumah Mbak sekarang ngak? Ini ada Dafa. Mbak lagi ngak enak badan, agak meriang ini. Kalau ngak keberatan Mbak tolong kamu segera ke rumah Mbak ya!! Makasih.” tulis Mbak Dea.

Dengan cepat aku langsung membalasnya, “Baik Mbak.. Danu segera ke rumah Mbak.” balas SMSku untuk Mbak Dea.

Setelah aku membayar jajananku di angkringan, aku bergegas menuju rumah Mbak Dea yang tidak begitu jauh dari tempat dimana aku nongkrong. Kuketuk pintu rumah Mbak Dea dan tidak berselang waktu lama dibuka pintunya. Mataku terbelalak lebar ketika itu lihat Mbak Dea yang tengah menggendong Dafa anaknya cuma memakai celana senam ketat pendek dan mini sekali dengan atasan cuma memakai tanktop warna hita,. Sungguh bukan main istri Mas Randi ini dan membuat bulu romaku bagaikan dijamah hantu. Inda sekali.

Kakinya yang putih mulus dari ujung sampai hampir pangkal selangkangannya. Ditengah selangkangannya juga terlihat menyembul empuk dan tampak ada garis kemaluannya. Aku lihat keatasnya lagi terlihat perutnya yang masih langsing putih mulus tanpa ada jahitan bekas ibu hamil dan payudaranya tertutup dengan tank top warna hitam dibalut BH yang terlihat garisan lekuknya.

Spontan aku cuma bisa menelan ludahku sendiri. Apalagi terlihat Mbak Dea yang keringetan mungkin karena menggendong Dafa yang lagi rewel, keringat yang dilehernya seakan-akan ingin aku usap dengna belaian lidahku. Benar-benar seksi sekali. Ditengah lamunanku itu aku tersadar dengan perkataan Mbak Dea.

“Danu, malah diam melototot sih… masuk sini… coba kamu gantian yang gendong Dafa ya, Mbak capek dari tadi sore gendong Dafa terus,” sambil menyerahkan gendongan Dafa ke aku.

Lalu aku masuk ke rumah Mbak Dea. Pandanganku tidak terhenti meskipun aku menggendong Dafa. Ketika Dafa sudah aku gendong Mbak Dea berjalan menuju dapur, mungkin haus karena banyak keringatnya yang bercucuran. Dan aku juga bertanya-tanya, mengapa Mbak Dea hanya mengenakan pakaian kayak gitu? Terlihat santai juga dihadapanku? Ah, mungkin karena biar ngak terlalu ribet dan lebih sejuk aja gendong Dafa kali ya, batinku.

“Dan, kamu mau minum apa? Kopi, teh atau jus?” teriak Mbak Dea dari dapur.

“Sudah Mbak, nanti aja. Aku barusan minum kok tadi di warung depan,” jawabku.

Sambil terus menggendong Dada, sambil aku timang-timang akhirnya Dafa terdiam dan tertidur pulas dipelukan gendonganku. “Danu, kamu sudah pantes kayaknya punya anak. Sejak tadi Dafa sama aku yang statusnya Mamanya aja tetap rewel. Ehh… giliran kamu gendong kok diam dan tidur pulas. Hebat kamu Dan,” puji Mbak Dea berjalan keluar dari dapur.

“Aahh.. Mbak Dea, kebetulan aja kali ya Mbak mungkin karena Dafa sudah capek. Kan dari tadi rewel? Nah ini pas aku gendong sudah capek-capeknya mungkin,” jawabku sambil sedikit memberikan senyuman pada Mbak Dea.

“Perasan kamu tuh ngak ikut buat Dafa, tapi Dafa kok kayaknya lengket banget dan terlihat nyaman ya Dan sama kamu?” tanya Mbak Dea sambil mendekati aku yang lagi menggendong Dafa kemudian di elus-elusnya rambut Dafa.

Mendengar pertanyaan itu dalam hati aku cuma berkata, wah, Mbak Dea ini sadar ngak ya bertanya sama aku seperti itu. Spontan karena aku sudah cukup dekat sama Mbak Dea aku jawab saja, “Mungkin kali ya Mbak, masak Mbak Dea lupa sih? Dulu kita kan sempat…?” jawabku terhenti tidak berani melanjutkan perkataanku.

“Sempat apa? Hayoooo…. ” ujar Mbak Dea cepat sambil mencubit perut bagian sampingku.

Terasa geli sih waktu Mbak Dea mencubitku. Seperti kode untuk melakukan apa gitu kalau boleh aku terjemahkan. “Sudah Dan, kayaknya Dafa sudah pulas itu, tolong sekalian kamu tempatkan Dafa di ranjang bayi kamarnya, sini ayo biar aku benahi bantal dan gulingnya!” pinta Mbak Dea.

Kemudian kita menuju kamar Dafa, Mbak Dea membenahi kamar Dafa dengan menata bantal guling dan alas tidur untuk Dafa. Nah, ketika sedikit membungkuk, kulihat jelas buah dada Mbak Dea yang putih kuning kenyal itu menggelembung seakan mau keluar dari BH dan tanktop Mbak Dea yang bercampur dengan keringat sehingga warna dan bentuknya lebih eksotis. Ingin sekali aku memegang dan meremas-remasnya.

“Sudah sini Dan, Dafa aku bobokkan aja,” perintah Mbak Dea.

Dengan pelan-pelan aku turunkan Dafa dari gendonganku dan aku tidurkan ke posisi boboknya. Disela-sela itu aku berkata sama Mbak Dea. “Dafa lucu banget ya Mbak? Ini bubuknya pules banget!” kataku.

“Iya Dan, bersyukur banget aku dianugrahi anak seperti Dafa. Sangat menemaniku sekali!” jawab Mbak Dea sambil mencium lembut kening Dafa anaknya.

Kemudian sambil meninggalkan kamar Dafa pelan-pelan kita menuju ruang tengah rumah Mbak Dea. Aku duduk, kemudian diikuti Mbak Dea yang duduk di depanku. Dan aku awali obrolan itu. “Mbak katanya tadi lagi ngak enak badan? Kok malah pakai baju super seksi seperti itu?” tanyaku sambil sedikit tersenyum.

“Iya Dan, kayaknya Mbak masuk angin ini. Aku pakai baju ini tadinya mau aku buat senam biar keluar keringat. Kan kalau keluar keringat, biasanya bisa sembuh kalau cuma masuk nagin aja,” jawab Mbak Dea.

“Terus sekarang gimana Mbak? Sudah sembuh kan? Tuh butkinya keringat Mbak sudah keluar banyak sampek membasahi tubuhmu Mbak,” kataku.

“Entah Dan, Mbak masih terasa ngak enak badan dan masih pusing sedikit ini. Biasa kalau pas Mas Randi dirumah pasti aku minta dipijatin kemudian tak suruh kerokin juga. Dan besoknya langsung sembuh,” jawab Mbak Dea.

Seketika itu antara berani dan tidak ingin kutawarkan diri untuk memijit dan mengerokin Mbak Dra. Dengan sedikit grogi aku beranikan diri. “Gimana kaa… kalau Danu yang pijit dan kerokin Mbak?” tanyaku agak sedikit gugup.

“Kamu yakin Dan? Ngak ngerepotin ini? Serius?” balas Mbak Dea sambil tersenyum manis.

“Serius dong Mbak, masak bohong sih. Danu beneran mau mijitin Mbak Dea,” sahutku cepat dan tegas.

“Loh..lohh… santai saja kali jawabnya Dan, iya-iya,,, Mbak tahu kok kamu pasti mau bantu Mbak, tapi… apa nanti kalau pacarmu tahu dia apa ngak marah?” tanya Mbak Dea.

“Ya Mbak Dea ini mau sindir atau apa ini? Secara Danu itu sudah 2 tahun menduda alias menjomblo gitu,” jawab ku sambil melucu candaanku.

“Masak sih kamu jomblo Dan? Ngak percaya deh Mbak. Kamu orangnya capek dan sudah punya kerjaan kok ngak punya calon sih? Coba kalau Mbak masih single, boleh juga tuh,” jawab Mbak Dea sedikit memancingku dengan terpaan kata-kata yang menjurus.

Aku sedikit percaya diri ketika Mbak Dea bilang seperti barusan. Aku juga telah merasakan kode lampu hijau untuk bisa mendekati Mbak Dea lebih dekat lagi. Dengan sabar aku atur nafas dan kembali ke topik utama.

“Ini Mbak jadi ngak Danu pijitin?” tanyaku.

“Kalau kamu ngak keberatan boleh,” jawab Mbak Dea agak sedikit malu.

“Ya sudah mau dipijit dimana ini Mbak?” tanyaku lagi sedikit mengerucutkan tujuan.

“Ke kamar Mbak aja yuk Dan,” jawab Mbak Dea sambil berjalan menuju kamar Mbak Dea.

Kulihat kamarnya yang elegan, besih dan wangi, terpasang foto dengan Mas Randi dan Dafa. Terlihat juga kaca besar dan didepannya banyak produk kosmetik yang aku prediksikan harganya mahal. Tentu sebanding dengan yang dicapai Mbak Dea saat ini. Kulitnya putih bersih, merah merona, bibirnya merah muda, kuku tangannya rapi dan halus, rambutnya hitam pekat lurus dan lembut, serta bulu mata Mbak Dea yang sungguh anggun ketika matanya berkedip.

“Dan, Mbak telungkup aja ya, kamu naik aja di atas biar lebih enak posisinya kamu memijit Mbak!” kata Mbak Dea memecah kesunyian lamunanku.

Kulihat Mbak Dea sudah dalam posisi telungkup di springbadnya seperti sudah pasrah untuk aku pijit sekujur tubuhnya. Dari itu aku lihat pemandangan yang membuatku ingin ngiler aja. Jelaslah, pantat Mbak Dea menyembul bulat padat berisi dengan kulit yang pastinya putih karena terlihat dari pahanya yang putih bersih. Sontak kontolku berdiri tegang dan aku sedikit menutupinya agar Mbak Dea tidak mengetahuinya. Dan aku pun naik ke kasur yang empuk itu, mulai aku piji bagian pundaknya.

“Maaf ya Mbak, Danu mulai memijit.” sapaku.

“Eeehhh… yang enak ya Dan, yang lama juga, sudah Mbak mau menikmati pijitanmu dulu. Nanti kalau Mbak tidur tolong dibangunkan ya,” sambung Mbak Dea.

Hatiku ngak karuan ketika tanganku sudah menyentuh tubuh Mbak Dea meskipun baru dipundaknya. Rambutnya yang diuraikan dan diikat ke atas semakin terlihat jelas lehernya yang seksi itu. Warna kuning yang ranum sekali ingin aku kecup lembut leher serta tengkuknya. Sepertinya Mbak Dea menikmati pijatan-pijatan yang aku lakukan. Kemudian aku lanjutkan pijatanku ke bagian punggungnya dengan menekan tulang punggung dan kedua ibu jariku.

“Uuuggghhh… enak juga pijitanmu Dan,” Mbak Dea memujiku.

Kulanjutkan dengan deikit memberi rangsangan berupa sentuhan lembut di punggungnya. tanpa aku sangka Mbak Dea menggelembungkan punggungnya dan berkata, “Bentar Dan, Mbak lepasin aja ikatan BH Mbak, agak ngak leluasa ini nafas Mbak!” kata Mbak Dea.

Wow… pikiranku makin tidak karuan apa jadinya nanti nih. Pikiran kotorku semakin merasuki otakku. Tak lama kemudian dengan posisi telungkup Mbak Dea melepas ikatan BHnya dan melepas baju tank topnya. Kini kulihat segar sekali punggung Mbak Dea yang putih bersih dan terlihat keluarnya buah dadanya yang menyembul kesamping karena terjepit tubuh Mbak Dea. Sungguh indah sekali.

“Sudah Dan, ayo lanjutkan pijatanmu dibagian punggung dulu ya. Enak juga pijitanmu,” kata Mbak Dea sambil memposisikan kepalanya diatas bantal.

Dengan nafas terbata-bata dan jantung yang berdetak ngak karuan, aku mulai menyentuh punggung putih bersih dan disuguhi gumpalan buah dada yang tertindih. Haduh.. benar-benar merontokkan imanku. Dengan terus mengatur nafas, aku meneruskan dengan memijit punggung Mbak Dea.

“Danu, coba kamu ke meja rias Mbak, cari disitu minyak zaitun botol bening ada gambar putri mahkota daun hijau. Nah kamu ambil itu, kemudian lumasi punggung Mbak dan kamu lanjutkan mijatnya!” perintah Mbak Dea.

Bergegaslah aku ke meja rias Mbak Dea, aku dapati produk yang dimaksud Mbak Dea. Ku lumuri punggung Mbak Dea dengan minyak zaitun, kemudian mulai ku lanjutkan pijatan lembutku sesekali kuusap melingkar. Aku mulai mendengar desahan lirih keluar dari mulut Mbak Dea, sepertinya Mbak Dea terangsang dengan kenimatan yang aku berikan lewat pijatan-pijatan lembutku.

“Eehhhmmm…. sssshhhh…… eeeessshhh….” desah Mbak Dea lirih.

Mendengar desahan itu, aku semakin termotivasi untuk melakukan pijatan yang lebih nakal lagi. Yang semula cuma punggung aja yang kuusap-usap, kini aku juga mengusap bagian bawah ketiak Mbak Dea. Sehingga menyentuh buah dada yang putih bersih dan kenyal itu. Sontak Mbak Dea menggelinjang kencang dan mendesah lebih keras.

“Uuuuuggghhh…. eeeessshhh…..” desah Mbak Dea.

Kulihat pantatnya di angkat ke atas diikuti desahan kenikmatan. Beberapa kali aku lakukan usapan itu dan kini pijatanku mulai turun diarea sekitar atas pantatnya. Dimana Mbak Dea masih mengenakan celana senam dan terlihat tidak mengenakan pakaian dalam.

Ku lumuri dengan minyak zaitun dan aku pijat kemudian aku kombinasikan dengan usapan-usapan. Menyadari itu kesempatan untukku memberanikan diri dengan mengusap masuk ke celana dalamnya dan mengusap pantatnya. Benar dugaanku, Mbak Dea tidak mengenakan celana dalam. Nikmat sekali rasanya akhirnya aku bisa menyentuh pantat Mbak Dea yang kenyal itu. Ku remas-remas dan ku usap-usap. Kini desahan Mbak Dea tidak terhela lagi.

“Aaaaauuuhh…. eeeeessshhhh…. Uuuuggghhhhh…. Oouuuhhh….” sambil matanya terpejam.

Kini aku sudah paham jika Mbak Dea sudah terangsang total. Tanpa aku duga sekali lagi, Mbak Dea melepaskan celana senamnya sambil posisi masih telungkup. Aku saat itu cuma terbelanga meotot menelan ludahku dalam-dalam saat aku bagaikan mimpi melihat Mbak Dea yang bahenol, cantik dan seksi itu sudah tanpa sehelai benang pun dengan posisi telungkup.

Aku lanjutkan pijatanku, mirip film porna jepang tentang massage dan aku menirukannya. Aku pijit mulai dari telapak kakinya, betisnya hingga ke bagian pahanya. Saat itu Mbak Dea sudah tidak canggung lagi untuk mengeluarkan desahannya.

Disaat aku memijat pahanya, aku lumuri minyak zaitun lebih banyak. Aku pijat dan aku usap-usap melingkar dan sedikit aku lebarkan posisi paha kanan dan kirinya. Terlihat bulu halus dan rapi serta kulit memeknya Mbak Dea yang berwarna merah mudah itu. Kontolku secara otomatis menonjol ingin menerobos celanaku sehingga benar-benar terlihat jika aku sedang dalam posisi tegang maksimal. Pertama aku usap pahanya melingkar, kemudian aku usap sampai bagian pangkalnya.

“Aaaakkkhh… ssssshhhh….. Uuuuggghhh….” Mbak Dea menggelinjang hebat sambil meremas-remas dadanya sendiri masih dalam posisi telungkup.

Dan akhirnya aku beranikan diri untuk menyentuh pelan dan mengusap lembut memeknya. Aku lumuri tanganku dengan minyak zaitun, terus aku usap-usap dulu ke telapak tanganku dan baru aku sentuh lembut ke memeknya Mbak Dea. Lembut dan empuk ditambah hangat sekali, saat aku sentuh memeknya Mbak Dea itu. Bulunya yang tipis dan lembut bercampur dengan cairan kewanitaannya ditambah minyak zaitun menjadi semakin licin dan makin mudah untuk dirangsang.

Jari tengahku kemudian aku arahkan ke garis tengah memek Mbak Dea. Aku cari G-spot Mbak Dea bagian luar dan aku dapat seperti biji kacang di ujung garis tengah memek Mbak Dea itu. Aku sentuh dan aku putar-putar pelan.

“Aaaakkkkhh….  Ooooohhhh…… Uuuuuhhhh….. Kamu pinter Dan” desah Mbak Dea menikmatinya.

Aku putar lebih cepat kacang dalam memeknya Mbak Dea itu. Tidak lama kemudian Mbak Dea menggelinjang hebat dan berkata, “Teruuussss…… Terruuussss…..  sayanggggg….. terussss….. Aaaakkkkhhh….!” Cairan hangat bercampur air kewanitaan Mbak Dea mengalir deras membasahi tanganku dan kasur Mbak Dea.

“Aaaauuuuhh….. Uuuuuuuhhhhh….. nikmat sekali….. baru kali ini aku merasakan kenikmatan yang belum aku rasakan!” kata Mbak Dea sambil masih tersentak-sentak nafasnya.

Setelah itu Mbak Dea memintaku untuk melepas semua pakaianku. Tanpa basa-basi karena aku sudah nafsu amat segera melepas seluruh pakaian yang menempel ditubuhku. Kini aku sudah telanjang bulat dengan kontolku yang cukup besar 17 cm berdiameter 4 cm atau ukuran yang sangat besar bagi orang pribumi.

Mbak Dea kemudian mendekat dan memegang kontolku dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya mengelus-elus buah zakarku. Sungguh nikmat yang tiada duanya. Dikocoknya kontolku kemudian dijilat-jilati ujung kontolku. Seperti Mbak Dea sangat menikmatinya. Aku cuma bisa terpejam dan mengerang-erang kenikmatan.

Mantap benar permainan Mbak Dea, jilatannya bagaikan alat sedot yang sempurna. Kontolku dilumat habis meskipun tidak semuanya tenggelam dalam mulutnya, mungkin karena kontolku yang terlalu besar untuk bibirnya yang seksi itu.

Setelah puas bermain dengna kontolku, kemudian aku disuruh tidur terlentang, dan Mbak Dea naik diatasku. Dengan bantuan tangannya Mbak Dea memegang kontolku dan mengarahkan ke lubang memeknya. Begitu lihai Mbak Dea mengepaskan ujung kepala kontolku ke lubang memeknya. Begitu terangsang sekali saat ujung kontolku digesek-gesekkan dengan bibir memeknya Mbak Dea.

“Aaaakkkkhhh….. Uuuuuhhhhhh…. Oooouurrgghhh….” desahan Mbak Dea begitu bergairah dan tampak dia sangat menikmatinya.

Beberapa saat kemudian dengan sedikit tekanan begitu lembut dan sangat hati-hati, Mbak Dea menekan ke bawah pinggulnya sehingga kontolku dengan lembut menerobos lubang memeknya. Seiring dengan kurasakan cairan yang sangat licin yang keluar dari organ vital Mbak Dea membuatku merasakan kehangatan yang begitu nikmat ditambah gigitan memek Mbak Dea yang begitu kencang dan sempit. Sering terasa kontolku seperti ada yang menyedot-nyedot.

“Uuuuhhhh… Aaaakkkhhh….. Ooouuuuuhhhhh… nikmat sekali Danu….. Sungguh jauhhh sekali saat aku berhubungan dengan suamiku sendiri. Aku bakal ketagihan Danu main sama kamu!” kata Mbak Dea sambil terus mencoba memasukkan kontolku yang besar itu sambil sedikit digoyang-goyang pinggulnya.

“Aku akan selalu menuruti kamu Mbak.. mau minta kapan pun aku siap Mbak. Aku juga merasakan hal yang sama seperti apa yang kamu rasakan Mbak. Kepuasan yang tidak ternilai harganya. Terus… mbak….. Terus…. goyang terus….. Uuuuhhh…. nikmat sekali!” jawabku sambil ikut membantu menggoyangkan demi kenikmatan bersama Mbak Dea.

Kontolku kini sudah lenyap masuk sempurna ke dalam lubang memek Mbak Dea. Mbak Dea sangat lihai sekali, tanganku yang diam diraihnya dan diarahkan ke bagian klitoris dibagian memeknya sambil terus menggoyangkan pinggulnya naik turun. Sedangkan tangannya sendiri meremas-remas budah dadanya. Sungguh terlihat mengalami kenikmatan yang begitu hebat.

15 menit kemudian, goyangan Mbak Dea tidak terasa semakin cepat dan bergerak memutar serta memaju mundur pinggulnya. Sesekali sedikit menaikkan dengan membusungkan dadanya.

“Ooouuuhhh….. Oouuuuuhhhh…. Ouuuhhh….. Uuuuhhh…. aku mau sampai Danu…. Uuuhhhhhh,” desah Mbak Dea.

Kurasakan cairan kental yang hangat menyembur sampai batang kontolku dan menetes hingga kebuah zakarku. Benar-benar aku rasakan tetesan cairan yang keluar dari mulut memek Mbak Dea itu. Orgasme baginya begitu dinikmatinya. Kemudian aku diciumi, dipeluk, dijilati dadaku dan terus menggoyangkan pinggulnya dimana lubang memeknya masih terpenuhi oleh kontol besarku yang masih mengeras.

Kemudian Mbak Dea dengan dorongan yang kuat membalikkan posisiu. Bergulinglah aku sehingga kini posisiku ada diatas menindih tubuh Mbak Dea yang seksi itu. Aku sedot putingnya yang ranum itu, sesekali kuremas putingnya yang kenyal dan aku goyangkan maju mundur kontolku untuk menusuk-nusuk lubang memeknya. Bulu lembut memek Mbak Dea semakin membuat keadaan itu menjadi indah. Desahan yang merdu dan eksotis menambah birahiku semakin memuncak.

“goyang yang keras sayang…!” ucap Mbak Dea sambil memegang pundakku dengan menekuk lutut dan menaikkannya ke atas. Memang aku sadari posisi itu paling enak untuk dirasakan oleh wanita saat berhubungan sex.

Aku pun mulai menambah kecepatan goyanganku untuk membuat Mbak Dea terpuaskan dan tidak lama kemudian. “Aaaaaakkkhhhh….. Aaaaaaahhhh…… Uuuuhhhhhh…..” tubuh Mbak Dea menggelinjang kejang-kejang hebat.

“Aku sampai lagi Daaaannnnu….. sungguh kamu hebat sekali… belum pernah aku orgasme sampai lebih seperti ini,” ungkap Mbak Dea.

Diraihnya tubuhku, didekapnya erat sambil pinggangku terus diapitnya agar tusukan kontolku tetap terjaga tingkat kedalamannya. Karena aku merasakan ujung kontolku menyentuh pangkal dalam memek milik Mbak Dea.

“Sayang, kamu sudah mau keluar belum? Kamu ingi  gaya seperti apa untuk mengeluarkan spermamu ke dalam lubang memek Mbak?” tanya Mbak Dea romantis sambil diteruskan mencium bibirku.

“Aku ingin Mbak Dea telungkup, aku ingin menggenjot dari belakang karena aku suka sekali lihat pantatmu Mbak,” jawabku memohon.

Kemudian Mbak Dea membalikkan tubuhnya dan posisinya kini telungkup. Aku pandangi pantatnya yang bohai dan seksi itu, kemudian kuciumi, ku jilati dan ku usap memeknya dengan tanganku.

“Uuuuhhh….. Ooooohhh….” desah Mbak Dea.

Aku memposisikan sambil memeluk Mbak Dea dan aku masukkan kontolku ke lubang memek Mbak Dea dari belakang dengan posisi telungkup. Inilah moment yang aku rasakan paling suka karena batang kontolku lebih terasa dengan himpitan pantat Mbak Dea yang super bohai dan seksi itu. Nampak juga anusnya yang bersih tidak hitam melainkan merah muda sama persis dengan garis tengah memeknya. Sempurna sekali semua alat kewanitaan milik Mbak Dea. itu.

Aku genjot kencang-kencang sehingga bunyi sisa tekanan genjotanku yang membuat pantatnya bergetar-getar. Nikmat sekali rasanya lubang memeknya. Kulihat mata Mbak Dea yang terpejam menandakan dia juga merasakan kenikmatan yang sama. Sambil terus aku genjot, sesekali ku ciumi leher dan tengkuknya. Aku beri tanda merah dengan bibirku di bagian samping lehernya yang penuh dengan keringat itu. Nampak sekali bulatan merah kini membekas dilehernya.

“Daaaannu…. kamu pengalaman sekali ya… Mbak benar-benar puas. Sungguh puas banget…!!” puji Mbak Dea.

Tanpa menggubris pujian Mbak Dea aku semakin meningkatkan frekuensi goyanganku. Terasa sekali mani dalam kontolku sudah sampai ke batang kontolku.

“Mbak….. Ooooooohhhhh…. aku sudah mau sampaaaii….. Oooohhhh…… Ooooohhhh….” desahku.

“Goyang yang lebih cepat sayang… keluarin saja di dalam. Mbak ingin rasakan kehangatan semprotan air manimu.. Ayooo sayang…. terus,….. terus……. terruuuussss….. Ooooohhhh nikmat sekali…. terus sayang….. lebih cepat lagi….!” seru Mbak Dea yang juga merasakan kenikmatan.

Dan akhirnya aku menyemburkan cairan maniku ke dalam lubang memek Mbak Dea. Terus saja ku goyang-goyangkan dengan sedikit memutar setelah air maniku sudah membanjiri lubang memek Mbak Dea. Kupeluk erat tubuh Mbak Dea, lalu kuciumi leher, pipi dan ku lumat bibir seksinya.

“Terima kasih Mbak… Sungguh nikmat sekali… Danu puas banget….” ucapku mesra sambil terus memeluknya dari belakang dengan posisi tidur telungkup.

“Iya sayang…. Mbak apalagi. Sampai ngak bisa Mbak ungkapkan dengan kata-kata. Malam ini sungguh bagaikan malam kenikmatan yang baru pertama kali Mbak rasakan. Ingin sekali aku sering merasakan kenikmatan ini sayang,” kata Mbak Dea mesra kepadaku.

Kami pun kemudian saling berpelukan dengan posisi tidur terlentang dengna posisi Mbak Dea kini kepalanya ada di dadaku. Kami menggunakan selimut, dan sambil ku belai rambutnya, Mbak Dea juga memelukku. Kami tidur terlelap bagaikan pasangan suami istri. Dan kami pun mengulanginya di tengah malam hari. Sungguh pengalaman yang luar biasa aku lakukan dengan tetanggaku yang seksi itu.

Kejadian itu kini sering aku lakukan setiap ada kesempatan apalagi saat Mas Randi sedang berlayar, aku bagaikan suami kedua Mbak Dea disaat suami Mbak Dea tidak ada dirumah. Untuk Mbak Dea, sungguh saat ini aku justru benar-benar ingin memilikimu seutuhnya. Aku mencintaimu tulus dari lubuk hatiku yang paling dalam.

— S E L E S A I —

Jangan lupa di share ya Cerita Sex Ngentot Mbak Dea Istri yang Kesepian …. Dibaca juga kisah Cerita Sex Kuatnya Kontol Perkasa Supir Pribadiku … Dan nantikan cerita-cerita yang lebih hornya dan sange dari kami www.ceritapv.com selanjutnya. Cerita Sex Sedarah 2018

One thought on “Cerita Sex Ngentot Mbak Dea Istri yang Kesepian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: