REJEKIPOKER
PERKASA99
BADUTQQ
GADISQQ
BABEQQ
KEPOQQ
BUNGAQQ
TATOQ
BAJUPOKER
SEHATPOKER

Cerita Sex Ngentot Dengan Keponakan Nakalku

Cerita Sex 2018 –¬†Cerita Penis Vagina adalah cerita sex panas terbaru 2018 dengan Cerita Sex Ngentot Dengan Keponakan Nakalku. Situs ini dikhususkan untuk orang dewasa saja yang berisikan cerita-cerita seru dan terlengkap untuk usia 18 tahun keatas yang dapat meningkatkan nafsu birahi jika ingin mastrubasi atau bersetubuh dengan lawan jenis anda. Selamat membaca.

Nadin berusia 29 tahun, tapi sudah menjanda karena suaminya meninggal dalam sebuah kecelakaan bus, meninggalkan sendirian dengan tiga orang anak yang masih kecil-kecil. Hidupnya jadi susah, karena itulah dia pulang ke desa untuk hidup bersama kedua orang tuanya.

Menjadi seorang janda bukan berarti sudah tidak menginginkan sex lagi. Itu salah, buktinya Nadin masih saja menginginkannya, apalagi sudah lama dia tidak mendapatkannya. Memeknya jadi gatal, tapi dia harus sekuat tenaga menahannya. Sebagai seorang wanita yang baik, dia tidak boleh terlalu vulgar mengumbar nafsu birahinya.

Di desa, Nadin memelihara bebek dan ayam. Dia juga mempunyai sebuah kolan ikan peninggalan almarhum suaminya serta beberapa petak sawah dan sedikit ladang kering. Sehari-hari dia sibuk mengurusnya, lumayan untuk sedikit mengalihkan perhatiannya.

Sehari-hari dia akrab dengan seorang anak pengangon kambing yang sesekali suka mengusilinya. Namanya Dio, umurnya baru lima belas tahun. Selain usil, Dio juga suka bicara seenaknya. Mulanya Nadin risih juga mendengar perkataannya yang tidak senonoh itu. Tapi setelah memperhatikan, ternyata anak itu hanya berkata jorok bila mereka berdua saja, dan semua kata-katanya tidak sampai terdengar keluar. Hanya mereka berdua yang tahu. Itu membuat Nadin yakin kalau Rio adalah anak yang pintar menjaga rahasia.

Sampai akhirnya terjadilah peristiwa itu… Hari sudah beranjak sore ketika Nadin berniat untuk mandi. Itu adalah rutinitasnya seperti biasa, tapi entah mengapa, sore itu dia merasa tidak enak hati, seperti ada yang membuatnya deg-degan. Perasaannya jadi tidak menentu, naluri kewanitaannya mengatakan bakal ada sesuatu yang terjadi. Entah itu baik ataupun buruk.

Dan benar saja, saat mau menyirami tubuh telanjangnya yang sudah disabuni, tiba-tiba dia dikejutkan oleh sepasang mata yang mengintip penasaran dari balik dinding gedek. Seperti umumnya kamar mandi di desa, kamar mandi Nadin juga cuma ditutup gedek atau ayaman bambu sebagai sekatnya. Siapapun yang berniat mengintip akan dengan mudah melihat dari celah dinding bambu. Dan sore ini, Rio melakukannya. Ya, Nadin sangat hafal sekali, itu adalah sepasang mata milik bocah itu.

“Rio, ngapain kamu?” tanya Nadin dari dalam.

“Ya ini aku, Tante….” jawab Rio enteng tanpa merasa bersalah sedikitpun. Dia malah tersenyum lebar karena sudah berhasil mengintip tubuh montok Nadin yang sehari-hari tertutup jubah panjang dan jilbab lebar. Memang, tidak semua orang bisa seberuntung dirinya saat ini.

Dalam hati Nadin membatin, “Nakal sekali anak ini, harus aku kasih pelajaran!” Dan pelajaran yang cocok untuk anak semakin Rio adalah Nadin akan membiarkan bocah kecil itu terus mengintip tubuhnya! Rasain, biar saja dia jadi puyeng karena melihat seluruh tubuhnya. Nadin tidak peduli, salah sendiri jadi anak kok nakal banget.

Pura-pura tidak terjadi apa-apa, Nadin meneruskan acara mandinya. Sambil mengguyur tubuh montoknya yang masih penuh busa sabun, dia sedikit meliuk-liukkan tubuhnya, memamerkan bokong dan payudaranya yang bulat montok pada Rio. Tersenyum dalam hati, Nadin memperhatikan betapa Adi terdiam dan terkagum-kagum memandanginya. Bocah itu melotot dengan air liur hampir menetes keluar.

Jangankan Rio yang baru beranjak dewasa, orang-orang di pasar saja suka usil bila melihat Nadin. Mereka suka mencolek dan menggodanya kala Nadin menjual telur bebek ke salah satu kios langganannya. Dengan kemolekan tubuhnya, Nadin dengan cepat menjadi idola para pedagang telur di pasar inpres. Tapi untunglah, dengan dandanannya yang alim dan sopan, sampai saat ini belum ada yang berani berbuat macam-macam kepada dirinya. Dan Nadin berharap, semoga selamanya juga tidak ada. Dia ingin menjalani hidupnya di desa ini dengan tenang. Nadin tidak ingin mencari masalah.

Setelah tubuhnya bersih, Nadin mengambil handuk yang ada di cantolan baju. Pelan dia mengusap sisa-sisa air yang masih menempel di tubuh montoknya. Diperhatikannya Rio yang masih tetap setia mengintip dari celah dinding. Nadin tersenyum, dia berniat untuk unjuk diri sekali lagi. Entah kenapa, menghadapi Rio yang usil, sisi liar Nadin jadi bergelojak seperti ini. Padahal biasanya dia cukup teliti menjaga aurat, buktinya dia selalu mengenakan baju panjang dan jilbab kalau keluar rumah. Nadin tidak ingin ada yang menikmati lekuk tubuh montoknya secara gratis.

Menghadap persis ke arah Rio, Nadin mulai beraksi. Sedikit membusungkan dada, dia mulai meremas-remas kedua bukit kembarnya berulang kali, membuat benda yang masih kelihatan padat meski sudah digunakan menyusui 3 orang bayi itu semakin terlihat indah. Nadin juga memilin-milin putingnya yang mungil kecoklatan, yang kelihatan sangat kontras dengan kulit tubuhnya yang putih mulus. Tak berhenti sampai di situ, tangan Nadin turun ke bawah dan mulai mengusap-usap bibir memeknya. Dia mencolokkan dua jarinya ke dalam dan mulai mengocoknya dengan begitu lembut. Di luar, Rio menegang dan terpana saat melihat Nadin yang mulai bermasturbasi di depan matanya.

Adegan itu terus berlangsung selama beberapa menit sampai akhirnya Nadin menjerit keenakan tidak lama kemudian. Dari memeknya memancar air bening yang amat deras. Rio tidak berkedip memandanginya, bahkan dia terlihat semakin menempelkan matanya di dinding kamar mandi agar bisa melihat lebih jelas lagi.

Terengah-engah penuh kepuasan, Nadin mengguyur tubuhnya. Dia mandi sekali lagi. Dilihatnya Rio masih setia mengintip apapun yang dia lakukan. Nadin segera menegurnya. “Sudah, Rio. Sudah tidak ada yang bisa dilihat,” katanya begitu acara mandi sore itu selesai.

Tidak mendengar jawaban, Nadin menebak kalau Rio sudah pergi. Hari sudah mulai gelap hingga dia tidak bisa melihat ke antara celah dinding kamar mandi. Nadin segera mengenakan baju panjangnya kembali dan berjalan keluar menuju rumah.

Hari masih pagi ketika Nadin pergi ke sawah untuk melihat bebek-bebeknya. Saat itu dia membawa beberapa buah singkong goreng sebagai bekal. Setelah memastikan bebeknya tidak ada yang hilang dan selesai memberi makan mereka, Nadin pergi ke gubuk di tengah sawah untuk beristirahat. Saat sedang asyik memakan bekalnya, dilihatnya Rio datang mendekat, “Hmmm… mau apa bocah nakal itu sekarang?” batin Nadin dalam hati. Dilihatnya muka Adi seperti tidak merasa bersalah dengan peristiwa kemarin.

“Pagi Tante… habis ngasih makan bebek ya?” tanyanya.

“Iya,” Nadin mengangguk. “Mana kambingmu?” dia bertanya. Tidak biasanya Rio pergi sendirian ke sawah tanpa dibuntuti kambing-kambingnya.

“Sudah dibawa Bapak ke bukit sana,” kata Rio menunjuk bukit kecil yang ada di sebelah kiri mereka.

“Kemarin kamu mengintip Tante ya, kenapa?” tanya Nadin saat RIo sudah duduk di sebelahnya.

“Rio suka lihat tetek Tante yang besar,” jawab Rio enteng.

Nadin memperhatikan payudaranya. Memang benar, meski tertutup baju panjang dan jilbab lebar, benda itu terlihat sangat bulat dan menggiurkan. Anak sekecil Rio aja tahu kalau tetek Nadin begitu montok dan besar. Bocah itu tidak salah, “Selain tetek Tante, kamu mau lihat apa lagi?” pancing Nadin, entah kenapa dia jadi bertanya seperti ini.

“Ya… apalagi kalau bukan tempek Tante,” kata Rio seenaknya. Yang dimaksud dengan tempek adalah memek wanita, alias kemaluan.

“Kamu masih kecil, tapi sudah gatal,” Nadin nyeletuk. Meski tahu kalau Rio sedikit nakal, dia tetap sayang kepada bocah itu karena Rio suka membantunya kalau Nadin lagi sibuk di sawah sendirian. Semua penduduk desa tahu kalau mereka sangat dekat dan akrab. Tapi tidak seorang pun yang tahu kalau Rio suka ngomong jorok dan seenaknya.

“Memek Tante kemarin gatal ya, kok sampek digaruk segala?” tanya Rio mengenai masturbasi Nadin.

Nadin tersenyum lebar, “Bukan gatal, Tante cuma pengen kencing saja,” dia mengarang alasan.

“Perasaan kalau Ibuku kencing ngak sampai seperti itu deh,” sahut Rio.

“Kamu pernah melihat Ibumu kencing?” tanya Nadin tidak percaya, benar-benar sudah kelewatan bocah satu ini.

“Ngak lihat langsung, cuman ngak sengaja saat Ibu jongkok di kebun belakang,” jelas Rio.

“Dasar kamu ya,” Nadin mengacak-acak rambut bocah itu. “Eh, kalau ngintip Ibumu mandi pernah ngak?” tanya Nadin, tiba-tiba saja terlintas pikiran itu di otaknya yang tertutup jilbab.

Rio mengangguk, “Iya pernah.”

“Gimana tetek Ibumu, besar kan?” tanya Nadin penasaran. Dia memang pernah sekali melihat Ibu Rio sedang mandi di sungai, dan menurutnya tubuh perempuan itu cukup menarik juga meski wajahnya tidak cantik-cantik amat.

Rio terdiam membayangkan, “Lumayan sih, tapi tetap lebih besar punya Tante,” jawabnya sesaat kemudian.

Nadin tertawa mendengarnya, “Itu karena usia Ibumu sudah tua, jadi teteknya kendor. Coba kalau seusia Tante, pasti ukurannya bakal sama,”

Rio menggeleng, “Ngak, masih lebih bagus punya Tante,”

Nadin tertawa lagi. “Terus, emang kenapa kalau lebih bagus punya Tante? Kamu mau ngapain?” tantangnya.

Rio tersipu malu, “Ya ngak apa-apa sih. Rio cuma pengen pegang, pengen hisap, pengen remas-remas!” kata bocah itu sekenanya.

“Aah,, kamu ini… dasar anak kecil!” Nadin kembali mengacak-acak rambut gondrong Rio.

“Kecil apanya? Nih Tante lihat!” tanpa disangka oleh Nadin, Rio tiba-tiba berdiri dan memelorotkan celananya.

“Rio!” pekok Nadin saat melihat kontol Rio yang sudah tegang keras. Walau bulunya masih sangat sedikit, tapi benda itu tampak begitu mempesona. Bagi seorang wanita yang haus akan sentuhan seperti Nadin, melihat kontol tepat di depan matanya seperti sekarang, tidak urung dengan cepat membuat darahnya berdesir, “Gila. Anak umur lima belas tahun, tapi kontolnya sudah mirip orang dewasa,” batin Nadin dalam hati.

“Gimana, besar kan Tante?” tanya Rio bangga sambil semakin memamerkan kontolnya.

“Ya lumayan juga,” Nadin tidak sanggup memalingkan mukanya dari benda coklat panjang itu.

“Kok cuma lumayan, ini kan sudah besar banget,” protes Rio tidak terima.

“Memang besar sih, tapi kan belum pernah dipakai. Mana bisa tahu kuat apa ngak?” pancing Nadin lebih nakal lagi.

“Dipakai buat ngentot ya, Tante?” tanya Rio polos.

Nadin mengangguk mengiyakan, “Iya, kamu sudah pernah ngentot belum?” Aku yakin belum!” yakin Nadin.

Rio tersipu malu, “Aku kepengen ngentot, Tante, tapi bagaimana?” tanyanya bingung.

“Bukan bagaimana, tapi sama siapa! Kalau soal cara ngentot sih, Tante bisa ngajarin,” tawar Nadin.

Rio langsung menyeringai lebar mendengarnya, “Ya Betul! Kenapa ngak sama Tante saja?” kata Rio ceplas-ceplos.

“Gila kamu! Ngajarin kan bisa lewat tulisan atau cerita, ngak perlu harus ngentot langsung,” kilah Nadin.

“Ayolah Tante. Masak cuma lewat tulisan, ngak seru dong!” kata Rio.

Nadin diam tidak menjawab. Dia tampak berpikir keras. Sebagai seorang wanita berjilbab, dia tidak boleh melakukannya. Tapi di sisi lain, hati kecilnya tidak bisa dibohongi. Pembicaraan ini telah memancing gairahnya. Ditambah dengan kontol Rio yang besar, yang terus tersaji indah di depannya, membuat Nadin jadi sangat kesulitan untuk menentukan sikap.

Bebek-bebek terus bersuara di sekitar mereka, terkadang berenang kian kemari di air sawah yang baru saja dipanen. Binatang berkaki selaput itu berebutan memakan biji padi yang masih banyak berserakan disana. Sisanya yang tidak kebagian mencocorkan paruhnya ke pamatang sawah, berharap mendapat cacing atau siput yang sedang sial.

“Boleh ya Tante?” Rio mendesak semakin berani.

Nadin menghela nafas. Dia memandangi bocah kecil itu dan tersenyum, “Benar kamu mau tahu?” tanyanya penasaran dengan kemampuan Rio.

“Iya Tante. Aku pengen sekali ngentot. Apalagi dengan orang secantik Tante, aku pengen sekali!” seru Rio penuh semangat.

“Tapi kamu tidak boleh bercerita kepada siapapun juga. Sumpak?” kata Nadin serius.

“Sumpah Tante. Aku ngak bakal cerita sama siapapun,” Rio menganggukkan kepalanya.

Nadin tersenyum dan kembali mengacak-acak rambut gondrong Rio, “Sebentar ya,” dia melihat sekeliling, memastikan kalau mereka aman. Gubuk itu berbentuk terbuka, dengan anyaman bambu yang menutupi hingga sebatas pundak. Kalau mereka duduk, dari kejauhan, hanya kepala mereka yang terlihat. Nadin menyadari hal ini dan tersenyum. Mereka bisa melakukannya!

Situasi juga sangat memungkinkan. Hari yang masih pagi membuat para petani sibuk di sawah masing-masing. Tidak akan ada yang melihat ke arah gubuk, atau bahkan mendatangi tempat dimana Rio dan Nadin sedang berada sekarang. Ditambah suara ratusan bebek yang berkuek-kuek nyaring, itu bisa menyamarkan dengan baik suara desahan mereka saat ngentot nanti, “Sempurna!” Nadin membatin dalam hati. Dia kemudian berpaling kembali pada Rio.

“Kamu telentang di sini dan tetap pakai bajumu. Kalau ada orang lewat, kamu cepat menaikkan kembali celanamu!” kata Nadin memberi instruksi.

Rio segera mengikuti apa yang dianjurkan oleh perempuan cantik itu. Dia tidur telentang dan celana melorot hingga sebatas paha, memperlihatkan kontol besarnya yang mendongak gagah mencari mangsa. Nadin mengelus-elus batang kontol Rio sebentar sampai kontol itu benar-benar keras. Gila, ternyata kontol itu bisa membengkak sampai dua kali lipat, ukurannya juga menjadi sedikit lebih panjang. Nadin sampai geleng-geleng kepala dibuatnya.

“Baru umur segini sudah begini besar, gimana kalau sudah besar nanti?” Nadin membatin dalam hati, menyadari potensi pada diri Rio sebagai pria perkasa.

Tak tahan, Nadin segera mengangkat baju panjangnya ke atas, dia menyingkapnya hingga ke pinggang. Dibiarkannya Rio mengelus-elus kulit pahanya yang putih mulus sebentar. “Kamu suka Rio?” tanyanya sambil melepaskan celana dalam. Dengan nakal dipamerkannya lubang memeknya yang sempit pada bocah kecil itu.

“Su… kaa… suka banget Tante!” sahut Rio dengan mata nanar menatap gundukan memek Nadin yang tersaji indah di depan hidungnya. Dengan tangan gemetaran dia mulai mengusap-usap dan memijitnya.

“Isap Rio,” kata Nadin sambil menggeser sedikit tubuhnya, dia menaruh belahan memeknya tepat di depan mulut di bocah kecil itu.

Rio dengan penasaran segera menjulurkan lidahnya. Rasa memek Nadin yang segar dan harum membuatnya suka, dia pun menjilat dan menghisap memek itu dengan begitu rakus. Rio bahkan sampai membenamkan muka ke dalam lubangnya dan bernafas di sana. Nadin yang menerimanya jadi menahan geli tidak karuan. Sudah lama dia tidak merasakan yang seperti ini, dan begitu mendapatkannya, ternyata Rio begitu pintar. Gerakan lidahnya bagai orang yang sudah berpengalaman bertahun-tahun, padahal Nadin tahu, ini juga saat pertama kali Rio menikmatinya.

“Aaah… terus… Rio. Ya.. disitu…. isep yang mungil itu. Itu namanya itil Rio. Enak banget kalau diisep… Ouuhhh…!” Nadin merintih tidak karuan. Tangannya menggapai-gapai untuk mencari pegangan agar tidak sampai ambruk karena saking nikmatnya. Tapi yang dia temukan malah kontol besar Rio. Tidak apalah, daripada tidak ada sama sekali. Nadin segera memeganginya dan mulai mengocoknya pelan.

Rio yang mendapat suntikan rangsangan dari Nadin, melenguh pelan dan mulai menjilat semakin keras. Sekarang bukan lidahnya saja yang bekerja, tapi juga tangannya. Rio menyusupkan tangannya ke balik baju terusan Nadin dan menyelipkannya di balik BH perempuan cantik itu. Diremas-remas tetek Nadin yang menggantung indah, yang selama ini selalu menjadi obsesinya dengan penuh nafsu. Uuhh.. tetek itu terasa begitu empuk dan kenyal. Ukurannya yang sangat besar membuat tangan mungil Rio tidak bisa mencakup semuanya. Dengan dua jari, Rio menjepit dan memilin-milin putingnya yang terasa mengganjal. Sebentar saja, puting susu itu sudah menjadi begitu kaku dan keras, sama dengan kontolnya yang kini mulai dijilat dan diciumi oleh Nadin.

Saling mengulum kemaluan, mereka kini berposisi 69. Nadin di atas dan Rio dibawah. melihat kontol Rio yang menjadi kian keras dan panjang membuat Nadin jadi tidak tahan. Maka sambil menyodorkan memeknya ke mulut mungil si bocah, dia pun mulai menunduk untuk mengulum dan menjilati batang kontol Rio.

Rio yang mendapat tambahan rangsangan dari Nadin, memekik gembira. Dengan penuh nafsu dia menjilat dan menghisap memek sempit si ibu muda, sementara kedua tangannya terus bergerilya meremas-remas gundukan payudara Nadin yang sekarang menggantung indah di balik bajunya dan sudah tidak tertutup BH.

Cukup lama mereka berada dalam posisi seperti itu sebelum akhirnya Nadin bangkit dan mulai mengangkangi tubuh Rio. Menghadap lurus ke arah si bocah, Nadin menaruh kedua lututnya di atas balai-balai gubuk yang terbuat dari bambu. Ditangkapnya kontol Rio yang sudah menyundul-nyundul tidak sabar di depan pintu gerbang surganya, lalu dituntunnya benda itu agar segera memasukinya secara perlahan. Memek Nadin terasa sangat lengket dan basah, campuran antara cairan kewanitaannya yang merembes keluar dan air liur Rio. Nadin terus menekan tubuhnya ke bawah saat batang kontol Rio sudah menyelinap masuk.

“Ouuggghhh…” Rio merintih begitu merasakan kehangatan lubang memek Nadin yang menyelimuti batang kontolnya. Lorongnya terasa begitu lembut dan hangat, juga sangat menggigit sekali hingga membuat Rio yang doyan onani jadi merem melek keenakan. Cerita Ngentot 2018

Sambil mengoyang perlahan-lahan, Nadin berpura-pura lagi menjaga bebeknya. Ketika ada seseorang lewat di pematang seberang, dia sengaja berteriak-teriak menghalau bebek-bebeknya. Orang itu tersenyum dan menyapa Nadin, “Giat amat, Mbak Nadin. Pagi-pagi sudah ke sawah.”

Menahan desahannya, Nadin tersenyum dan menjaab, “Iya nih Pak, Ougghhh… bebeknya nakal, Aaahh… suka nyosor ke sawah orang… Ugghhh!”

Petani tua yang menyapanya memicingkan mata, “Mbak Nadin ngak apa-apa? Kok kayak kesakitan gitu?” tanyanya curiga.

Nadin kembali tersenyum, “Ba…banyak semut, Ehss.. pada ngegigit kaki aku!”

Pak tua tersenyum, “Hati-hati Mbak. Disini semutnya nakal-nakal, sukanya gigit wanita cantik.”

“Iyyaa pak.. Argghh!” Nadin memekik. Saat itu, berbaring dibawah tubuhnya, Rio menggenjotkan kontolnya semakin keras. Begitu kencangnya tusukan itu hingga beberapa kali kontolnya yang panjang menembus memek Nadin hingga ke rahim. Nadin jadi terangsang dibuatnya. Dia merasa sangat nikmat sekali.

Tetap tersenyum, sambil geleng-geleng kepala, si Petani Tua pergi meninggalkan Nadin. Dia meneruskan langkah menuju ke sawahnya sendiri.

“Aaakkh… Tante!” Rio memeluk kedua paha Nadin dan menggoyang pinggulnya semakin cepat. Dia juga merasa nikmat, bahkan lebih nikmat daripada yang dirasakan Nadin, mungkin karena ini adalah persetubuhan pertamanya.

Setiap hari, setiap kali angon kambing, Rio selalu berfantasi dan berbicara tentang kecantikan Nadin dengan teman-temannya. Bocah-bocah kecil itu ramai ngomongin betapa molek dan montoknya ibu muda itu. Beberapa kali mereka saling menantang, bertanya siapa yang berani mendekatinya. Dan sekarang dia mendapatkan hasilnya, Rio bisa merasakan tubuh montok Nadin meski dalam situasi yang sangat menegangkan. Tapi justru itu yang bikin nimat, rasa deg-degan karena takut terpergok membuat mereka meresapi setiap detik nikmatnya alat kelamin mereka.

Memandang sekeliling, Nadin memastikan kalau tidak ada lagi orang yang lewat. Sambil terus menggoyang tubuhnya dari atas, dia semakin kencang menekan pinggulnya jauh ke bawah, membuat kontol Rio jadi menusuk dan menancap lebih dalam. Mereka mendesah bersamaan, cukup keras terdengar, tapi untung ada suara bebek yang menyamarkannya. Nadin membungkuk dan mengeluarkan tetaknya dari balik jubah, dia meminta Rio untuk menghisapya, “Ini kan yang kamu inginkan?” tanyanya dengan ucapan yang nakal.

Tidak menjawab, Rio segera menyosor benda bulat itu. Gerakan mulutnya secepat paruh para bebek yang lagi berebutan cacing. Bedanya, kali ini puting Nadin lah yang menjadi sasarannya. Rio mencucup dan menghisapnya dengan rakus. Dia menjilatinya secara bergantian, dua-duanya dia garap secara agil, dari kiri ke kanan, lalu balik lagi ke kiri. Kalau sudah kelelahan, dia benamkan mukanya ke belahannya yang curam.

“Auuww!” Nadin mengerang kegelian menerimanya, tapi bukannya berhenti, dia malah meminta Rio agar menggigit-gigit ringan putingnya. Dengan senang hati, Rio pun melakukannya. Dan Nadin semakin kenikmatan dibuatnya, dia terus menekan tubuhnya sampai dirasakannya Rio orgasme tidak lama kemudian. Sperma bocah itu berhamburan memenuhi lubang memeknya.

“Tante, aku keluar!” kata bocah itu sambil meremas kuat-kuat tetek besar Nadin.

Nadin terdiam, membiarkan Rio menikmati puncak kenikmatan. “Dasar bocah, baru sebentar sudah keluar,” batinnya dalam hati. Tapi Nadin tidak bisa menyalahkannya juga. Siapa juga yang bisa tahan main lama dengannya? Jangankan Rio yang masih bau kencur, dulu suaminya saja hanya sanggup bertahan lima menit.

“Tubuhmu terlalu nikmat sayang!” begit kata suaminya beralasan kalau Nadin mendengus kecewa. Dan sampai laki-laki itu meninggal, Nadin tidak pernah merasakan indahnya orgasme. Jadi dia maklum saja kalau Rio yang baru pertama kali ini ngentot, jadi kelihatan cupu di depannya.

“Kamu salah memilih sasaran Rio,” gumam Nadin sambil membenahi pakaiannya. Dia sudah mencabut kontol Rio dari belahan memeknya dan sekarang menyuruh bocah nakal itu untuk mencuci tubuhnya di sungai. Nadin menyusul tidak lama kemudian jongkok di tepi sungai, dia membersihkan lubang kencingnya yang penuh oleh sperma Rio.

“Tante, punyaku bangun lagi,” seru Rio yang duduk di sebelahnya.

Nadin menoleh, dan mendapati kontol Rio yang sudah tegang kembali, “Kenapa kamu pengen lagi?” tanya Nadin menggoda. Dia memegangi kontol itu dan kembali mengocoknya pelan.

Rio mengangguk malu-malu, “Iya Tante.”

“Kan tadi sudah,” kilah Nadin.

“Tapi masih pengen,” rengek Rio manja.

“Besok lagi ya? Sekarang Tante harus pulang, sudah siang,” Nadin melepas kontol Rio membuat si bocah melenguh kecewa.

“Besok? Disini? Seperti tadi?” tanya Rio penasaran.

Nadin hanya tersenyum dan mengangguk. Hatinya gembira, dia kini sudah punya teman yang bisa membantunya melepas birahi, meski itu adalah Rio, anak tetangga yang baru berusia lima belas tahun. Tapi tidak apa, biarpun masih kecil, tapi kontolnya sudah keras dan panjang. Dan kalau dilatih dengan benar, dengan bimbingan Nadin tentunya, sebentar lagi kontol itu akan menjadi besar dan siap untuk digunakan sepenuhnya.

“Gimana Tante?” tanya Rio lagi, menagih janji Nadin.

Nadin mengangguk, “Iya, disini. Tapi ingat, kamu harus jaga rahasia ini. Kalau sampai ada orang yang tahu, bisa-bisa kamu akan dibunuh orang. Kamu ngak mau kan itu terjadi?” ancam Nadin. Rio hanya mengangguk setuju.

Esoknya, setelah mengikat kambing-kambingnya ke pohon terdekat, Rio mendekati Nadin yang sudah menunggu di dalam gubuk. “Pagi, Tante?” sapanya ramah.

Nadin melirik celana bocah itu, tampak sudah ada sedikit tonjolan disana, Rio rupanya sudah tidak sabar, “Kok bawa kambing, kemana Bapakmu?” tanya Nadin basa-basi.

Tidak menjawab, Rio malah meloncat duduk di samping Nadin dan langsung menjulurkan tangannya untuk meremas-remas tetek Nadin yang tersembunyi di balik baju kurung. “Rio kangen ini Tante.” kata bocah itu.

Nadin tersenyum dan tetap membiarkan Rio melakukannya, “Tante juga kange ini?” balas Nadin sambil mengelus-elus kontol Rio dari luar celana. Cukup lama mereka saling merangsang hingga ada beberapa orang ibu-ibu yang lewat di belakang gubuk.

Nadin segera berpura-pura menawari Rio minum kopi, “Cepat minum Rio, sebelum keburu dingin!”

Rio langsung menenggaknya, sama sekali tidak menyangka kalau kopi itu masih sangat panas. Dia langsung mengaduh sambil jingkrak-jingkrak, lidahnya serasa terbakar. Para ibu tertawa melihatnya, bahkan Nadin juga ikutan tertawa. Rio jadi tersipu karena jadi bahan tertawaan. Tapi untunglah, karena tingkahnya itu, jadi tidak ada yang curiga dengan apa yang baru saja dia lakukan bersama Nadin.

“Dapat kue apa Rio dari Tante Nadin?” tanya salah seorang ibu. Mereka rupanya hendak menuju sawah Haji Lilik yang hari ini dipanen.

Rip pun menjawab sekenanya, “Ini, ada singkong goreng. Tapi masih belum boleh dimakan, nunggu dibuka dulu.”

Ibu-ibu tertawa mendengarnya, setelah pamit pada Nadin, mereka melanjutkan perjalanan. Nadin yang mengerti apa yang dimaksud oleh Rio, langsung menjitak kepala bocah itu kuat-kuat.

“Hati-hati kalau bicara, kan sudah Tante peringatkan kemarin,” ancam Nadin.

“Iya Tante,” sambil mengusap-usap kepalanya yang jadi benjol, Rio menjawab takut-takut.

Nadin jadi kasihan melihatnya. Setelah melihat sekeliling, memastikan kalau situasi aman, dia pun berkata pada Rio, “Sudah sini, sekarang kamu rebahan di pahaku. Kepalamu di sini,” Nadin menunjuk pangkal paha di bawah perutnya. “Kamu hisap tetek Tante biar lidahmu jadi dingin lagi,” kata Nadin merujuk pada kekonyolan Rio tadi.

Mengangguk kesenangan, Rio pun merebahkan kepalanya di paha Nadin, dinantikannya Nadin yang sedang sibuk melepas kancing baju panjangnya. Rio tersenyum saat Nadin mengeluarkan teteknya dan memberikannya padanya, dia menarik keluar dua-duanya, menyajikan pemandangan yang sangat indah di mata si bocah. Tidak berkedip, Rio segera mencium dan mengulumnya, dia hisap teteknya yang bulat runcing bergantian, kiri dan kanan. Bagai bayi yang kehausan, mulutnya terus menempel di dada Nadin. Dengan jilbab lebarnya, Nadin menyembunyikan kepala Rio, membuat perbuatan mesum mereka jadi terasa aman.

Di sisi lain, Nadin juga tidak mau tinggal diam, dia mulai mengelus-elus kontol Rio. Tidak puas dari luar celana, dia masukkan tangannya ke dalam celana si bocah. Masih tidak puas juga, akhirnya dia pelorotkan celana pendek Rio ke bawah hingga kontolnya yang sudah menegang dashsyat terlontar keluar. Nadin segera menangkap dan menggenggamnya, lalu dengan perlahan mulai dielusnya. Sementara Rio terus menghisap teteknya secara bergantian, Nadin mulai mengocok kontol itu kuat-kuat, dia benar-benar gemas dengan kontol muda Rio.

“Eeeehh…. eenak Tante!” desis Rio dengan mulut tetap menempel di puting Nadin, sekarang tetek itu sudah terlihat basah dan memerah karena air liurnya.

Nadin membalas dengna mengocok kontol Rio semakin cepat, dan saat itu sudah mulai tidak tahan, cepat-cepat Nadin menyingkap baju panjangnya dan berbaring telentang di papan. Sedikit tidak sabar, dia bimbing Rio agar segera menindih tubuhnya. Gemas ditangkapnya kontol bocah itu lalu cepat dimasukkanya ke dalam memek saat Rio tampak kesulitan melakukannya. Begitu sudah masuk, reflek Rio segera memompa tubuhnya, membuat alat kelamin mereka sekali lagi saling mengisi dan menggesek.

Mereka melenguh berbarengan, juga merintih bersama-sama, serta berkeringat berdua sampai akhirnya Rio melepaskan spermanya tidak lama kemudian. Sama seperti kemarin Nadin juga belum apa-apa. Dia baru merasa nikmat, tapi Rio sudah keburu terkapar duluan. Tapi lumayan, sudah sedikit lebih lama dari kemarin.

Rio segera mencabut kontolnya dan duduk terengah-engah di samping Nadin, dia melihat sekeliling sembari memperbaiki celananya.

“Bagaimana, ada orang” tanya Nadin yang masih tiduran. Tangannya menarik kembali bajunya ke bawah hingga menutup ke mata kaki. Untuk payudaranya, tetap dia biarkan terbuka karena Rio masih mengusap-usap dan meremas-remasnya pelan. Bocah itu tampak sangat menyukainya.

Tidak menjawab, mata Rio tetap awas melihat sekeliling. Sementara tangannya juga tetap berada di atas gundukan payudara Nadin, meremas-remas lembut disana sambil sesekali memijit dan menjepit putingnya yang bulat mungil.

Mereka diperdayai, Nadin segera bangkit dan duduk di samping Rio. Benar, sawah kelihatan sepi, sama sekali tidak ada orang. Dia segera menjitak kepala bocah itu keras-keras, “Dasar kamu ya!” umpatnya karena sudah dibohongi.

Rio tertawa cengengesan sambil mengusap-usap kepalanya yang nyeri, sama sekali tidak kelihatan marah. Malah dia mengajak Nadin untuk pergi ke sungai membersihkan diri.

Sejak itu hubungan mereka menjaid semakin akrab. Rio setiap hari meminta jatah kepada Nadin, dia sudah tidak malu-malu lagi melakukannya, seperti dia sudah ketagihan dengan tubuh molek ibu muda itu. Hubungan itu terus berjalan hingga tanpa terasa sudah memasuki bulan ketiga. Rio sudah semakin ahli dan pintar, beberapa kali dia bisa mengantar Nadin menuju orgasmenya. Nadin senang bukan main menerimanya, dia semakin sayang pada bocah itu. Untuk jaga-jaga, Nadin ikut KB. Tiap hari dia minum pil agar tidak sampai hamil.

— S E L E S A I —

Jangan lupa di share ya Cerita Sex Ngentot Dengan Keponakan Nakalku … Dibaca juga kisah¬†Cerita Sex Aku Jadi Pemuas Nafsu Istri Tetanggaku … Dan nantikan cerita-cerita yang lebih horny dan sange dari kami www.ceritapv.com selanjutnya. Cerita Sex Sedarah 2018

One thought on “Cerita Sex Ngentot Dengan Keponakan Nakalku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: