Nama Situs
Games
Deposit Promo Link Daftar
RejekiPoker Poker, DominoQQ, AduQ, Capsa Susun, BandarQ, Bandar Poker, Sakong Rp 20.000 Bonus CashBack 0.3% - 0.5%
Bonus Referal 20%
Klik Di sini
RejekiPoker
BadutQQ Poker, DominoQQ, AduQ, Capsa Susun, BandarQ, Bandar Poker, Sakong Rp 15.000 Bonus CashBack 0.3%
Bonus Referal 20%
Klik Di sini
BadutQQ
GadisQQ Poker, DominoQQ, AduQ, Capsa Susun, BandarQ, Bandar Poker, Sakong Rp 15.000 Bonus CashBack 0.3%
Bonus Referal 20%
Klik Di sini
GadisQQ
BabeQQ Poker, DominoQQ, AduQ, Capsa Susun, BandarQ, Bandar Poker, Sakong Rp 20.000 Bonus CashBack 0.5%
Bonus Referal 20%
Klik Di sini
BuabeQQ
BungaQQ Poker, DominoQQ, AduQ, Capsa Susun, BandarQ, Bandar Poker, Sakong Rp 20.000 Bonus CashBack 0.5%
Bonus Referal 20%
Klik Di sini
BungaQQ
KepoQQ Poker, DominoQQ, AduQ, Capsa Susun, BandarQ, Bandar Poker, Sakong Rp 20.000 Bonus CashBack 0.3%
Bonus Referal 20%
Klik Di sini
KepoQQ
JadwalPoker Poker, Ceme, Capsa Susun, DominoQQ Rp 15.000 Bonus TurnOver 0.5%
Bonus Referal 20%+10%
Klik Di sini
JadwalPoker
Perkasa99 Poker, DominoQQ, AduQ, Capsa Susun, BandarQ, Bandar Poker, Sakong Rp 20.000 Bonus CashBack 0.5%
Bonus Referal 20%
Klik Di sini
Perkasa99
DepoQQ Poker, DominoQQ, AduQ, Capsa Susun, BandarQ, Bandar Poker, Sakong Rp 20.000 Bonus CashBack 0.5%
Bonus Referal 20%
Klik Di sini
DepoQQ
TatoQQ Poker, DominoQQ, AduQ, Capsa Susun, BandarQ, Bandar Poker, Sakong Rp 20.000 Bonus CashBack 0.5%
Bonus Referal 20%
Klik Di sini
TatoQQ
TahunQQ Poker, DominoQQ, AduQ, Capsa Susun, BandarQ, Bandar Poker, Sakong Rp 20.000 Bonus CashBack 0.5%
Bonus Referal 20%
Klik Di sini
TahunQQ

Cerita Sex Aku Jadi Pemuas Nafsu Istri Tetanggaku

Kumpulan Cerita Sex dan Sange 2018 – Cerita Penis Vagina adalah cerita sex panas terbaru 2018 dengan Cerita Sex Aku Jadi Pemuas Nafsu Istri Tetanggaku. Situs ini dikhususkan untuk orang dewasa saja yang berisikan cerita-cerita seru dan terlengkap untuk usia 18 tahun keatas yang dapat meningkatkan nafsu birahi jika ingin mastrubasi atau bersetubuh dengan lawan jenis anda. Selamat membaca.

Pada sore hari itu, aku terbangun. Kulihat jam mejaku menunjukkan pukul lima sore. Iseng-iseng aku memanjat dinding tembok pembatas kamarku, mau melihat tetangga sebelahku. Melalui ventilasi, kulihat Mas Indra dan Mbak Siti sedang tidur-tiduran sambil mengobrol di atas tempat tidur. Aku mengawasi terus, kulihat Mas Indra hanya memakai singlet, begitu juga Mbak Siti yang hanya memakai baju dalam.

“Dasar pengantin baru, pasti mau main, aku kapan mainnya?” pikirku mulai tak sabar.

Kulihat Mas Indra dan Mbak Siti berbicara sambil berpelukan, aku kurang bisa menangkap apa yang mereka bicarakan. Sesekali Mbak Siti tertawa cekikikan. Beberapa kali pula aku amati Mas Indra meremas payudara Mbak Siti. Lama aku menunggu, hingga akhirnya yang aku harapkan terjadi juga. Tiba-tiba Mas Indra membuka celana pendeknya dan memegang tangan Mbak Siti, menyuruh istrinya itu memegang kontolnya. Mbak Siti sepertinya menurut dan segera memasukkan tangannya ke dalam celana suaminya, tetapi baru sebentar sudah ditariknya kembali, tampaknya Mbak Siti menolak.

“Yah, itu aja ngak mau, apalagi kalau disuruh kulum,” desahku dalam hati, kecewa.

Namun kekecewaanku terobati karena sejurus kemudian Mas Indra tiba-tiba bangkit dari tempat tidur dan melepas celananya. Kini dia hanya bercelana dalam dan bersinglet. Kemudian serta merta dia memeluk Mbak Siti. Aku tersenyum kegirangan, keinginanku untuk melihat keduanya mengentot tampaknya akan terpenuhi.

Tidak lama kemudian Mas Indra melepas pelukannya dan Mbak Siti pun mulai melepas celananya. Kini sama seperti suaminya, Mbak Siti hanya bersinglet dan bercelana dalam. Kulihat pahanya yang putih dan mulus sekali. Kemudian mendadak Mas Indra mengeluarkan kontolnya dari celana dalamnya. “Kecil sekali, dibandingkan punyaku,” kataku dalam hati.

Mas Indra pun langsung menghimpit Mbak Siti, tampaknya Mas Indra akan penetrasi Mbak Siti langsung. Kulihat Mbak Siti melorotkan celana dalamnya hanya sampai sebatas paha. Sejurus kemudian aku melihat pelan Mas Indra memasukkan kontolnya ke dalam lubang memek Mbak Siti yang tertutup bulu jembut. Setelah kontol Mas Indra masuk semuanya ke dalam memek Mbak Siti, Mas Indra langsung memeluk Mbak Siti sambil menciumnya bertubi-tubi. Itu dilakukan cukup lama.

Aku sedikit keheranan kenapa Mas Indra tidak melakukan genjotan, tidak mendorong-dorong pinggulnya? Mas Indra hanya diam memeluk Mbak Siti. “Wah, ini pasti karena Mas Indra ngak tahan bermain lama, ngak seperti aku,” kataku dalam hati tertawa, merasa unggul dari Mas Indra.

Disinilah aku mulai melihat adanya kesempatanku untuk turut melakukan perselingkuhan dengan Mbak Siti tanpa Mas Indra tahu. Ditambah lagi, kejadian itu hanya berlangsung singkat-singkat, sekitar 5 menit. Meskipun kulihat Mbak Siti tetap bisa mencapai orgasmenya, tapi cepat pula Mas Indra menyusulnya. Aku menangkap kekecewaan di muka Mbak Siti, meski Mbak Siti berusaha tersenyum setelah berhubungan suami istri, tapi aku yakin dia tidak puas dengan permainan suaminya.

Peristiwa hari kemarin itu membuatku mengambil kesimpulan, ada kemungkinan aku menyetubuhi Mbak Siti dan merasakan nikmat tubuhnya, kalau perlu aku juga akan menanam benih di lubang memek Mbak Siti. Itulah tekadku, aku mulai menyusun taktik. Mas Indra itu belum bekerja, ada kesempatan bagiku untuk membuatnya berpisah cukup lama dari Mbak Siti. Apalagi aku punya kenalan yang bekerja di perusahaan, namanya Arif. Siang ini aku menjumpai Arif di kantornya.

“Hei No, apa kabar?” tanya Arif sambil menjabat tanganku.

“Baik,” jawabku sambil tersenyum.

“Silahkan duduk,” suruhnya.

Setelah aku duduk di kursi kantornya yang empuk itu, aku mulai mengajukan permintaan, “Rif, aku butuh bantuanmu.”

“Oh, itu semua bisa diatur, bantuan apa?”

“Aku butuh pekerjaan.”

“Bisa, bisa, kamu mau kerja di mana? Gaji berapa?”

“Ohh, ngak! Maksudku bukan untuk diriku, tapi ini untuk orang lain.”

“Hmm, memangnya untuk siapa?”

“Untuk temanku, Maf Indra. Kamu wawancarai, tempatkan dimana saja kamu suka, ngak perlu tinggi-tinggi betul jabatannya.”

“Aneh. Tapi jika itu maumu, ya tidak apa-apa.”

“Yang penting kamu wawancarai dia cukup lama, beberapa kali.”

“Oke, baik kalau begitu.”

“Tapi nanti jadwal wawancaranya aku yang tentuin.”

“Terserah kamu.”

Maka mulailah aku menyusun jadwal wawancaranya, mulai lusa, hari rabu sampai jum’at dari jam 7 sampai jam 10 pagi. Arif menyetujuinya, kemudian aku permisi pulang. Dalam perjalanan pulang, hatiku sangat senang, sudah terbayang nikmatnya tubuh Mbak Siti itu. Sesampainya di kos-kosanku, aku langsung bertemu dengan Mas Indra di tempat cuci, tampak Mas Indra sedang menyuci bajunya.

“Mas, aku ingin bicara sebentar,” kataku mulai membuka percakapan.

Mas Indra pun menoleh dan menghentikan pekerjaannya, “Ada apa, No?”

“Begini, aku dengar Mas Indra mencari pekerjaan, kebetulan tadi aku ke tempat temanku, dia perlu pengawai baru, dianya sih malas menaruh iklan di koran, soalnya dia hanya butuh satu orang,” jawabku panjang lebar menjelaskan.

Sedikit berdebar-debar aku menunggu tanggapannya, takut tawaranku ditolak. Lama Mas Indra kulihat terdiam, merenung, lalu… “Hhhmm, aku pikir dulu ya, sebelumnya terima kasih Nino!”

“Ya Mas,” kataku dengan senyuman. Dalam hatiku,, aku berpikir, “Habislah sudah kesempatanku!”

Tapi setelah di dalam kamar, sekitar dua jam kemudian aku yang tertidur, terbangun oleh ketukan di pintu. Aku lalu bangun, mengucek-ngucek mataku, melihat dari jendela. Tampak Mas Indra berdiri menunggu. Aku pun cepat-cepat membuka pintu.

“Wah, sedang tidur ya, kalau gitu nanti saja,” Mas Indra tiba-tiba permisi.

“Eee.. ngak kok Mas, aku sudah bangun nih,” kataku berusaha mencegah Mas Indra pergi.

“Gangguin tidur kamu ngak?”

“Ngak, ngak kok, masuk saja,” kataku mempersilahkan.

Setelah kami berdua duduk di karpet kamarku, “Begini, ini soal lamaran kerja yang kamu bilang itu, tempatnya di mana sih?” Mas Indra bertanya.

“Ooo.. itu di Surakarta nomor 15, nama perusahaan Testil. ngak jauh kok.”

“Syaratnya gimana?”

“Aku kurang tahu juga tuh, Mas Indra pergi saja ke sana. Temui temanku, Arif, katakan Mas butuh pekerjaan, tahunya dari Nino.”

“Wah, kok rasanya kurang enak ya, seperti nepotisme aja,” Mas Indra sepertinya keberatan.

“Ngak..  ngak kok, perusahaannya besar. Mas kesana juga belum tentu diterima. Mas tetap melalui tes dulu,” kataku meyakinkan Mas Indra.

“Hmm.. baiklah, tak coba dulu, jam berapa ya ke sana?”

“Sekitar jam kerja saja baiknya, jam 7 pagi saja,” kataku menyarankan.

Mas Indra hanya mengangguk tersenyum, ,lalu permisi dan tidak lupa mengucapkan terima kasih kepadaku. Aku hanya tersenyum, berati selangkah lagi keinginanku tercapai.

Hari ini selasa, sesuai prediksiku, Mas Indra pagi-pagi sudah berangkat, dan sekitar jam 11 siang baru pulang. Aku menuju ke kamarnya, lalu mengetuk pintu, “Assalamu’alaikum,” aku memberi salam.

“Wa’alaikumussalam,” terdengar jawaban Mas Indra dari dalam kamarnya.

Lama baru pintu dibuka, dan Mas Indra mempersilahkanku untuk masuk. Kulihat di dalam kamarnya, istrinya tengah duduk di pinggir tempat tidur dengan memakai jilbab putih, tersenyum kepadaku. Mbak Siti tampak cantik sekali.

“Bagaimana Mas, tadi?” tanyaku.

“Oh, nanti aku disuruh ke sana lagi besok untuk test wawancara,”

“Alhamdulillah, tak doain supaya berhasil.” kataku.

“Terima kasih,” katanya.

Setelah berbasa-basi cukup lama, aku pun permisi untuk pulang.

“Eh, nanti dulu, kamu kan belum minum,” Mas Indra berusaha mencegahku, “Ayo Siti, buatkan air minumnya dong,” perintah Mas Indra menyuruh istrinya Mbak Siti.

Aku menolak dengan halus, “Ah, ngak usah Mas, aku sebentar aja kok, ada urusan.”

“Oh, baiklah kalau begitu, sekali lagi terima kasih ya.”

Aku tersenyum mengangguk, kulihat Mbak Siti tidak jadi membuatkan minuman. Aku pun pergi ke kamarku, senang karena sebentar lagi kontolku akan masuk ke lubang memek Mbak Siti.

Hari ini Rabu, Mas Indra sudah berangkat dan meninggalkan Mbak Siti sendirian di rumahnya. Rencana mulai kulaksanakan. Aku membongkar beberapa koleksi VCD pornoku, memilih salah satunya yang aku anggap paling bagus, VCD porno dari Indonesia sendiri, lalu membungkusnya dengan kertas merah jambu. Kemudian sambil membawa bungkusan VCD itu, aku menuju ke rumah tetanggaku dan mengetuk pintu, “Assalamu’alaikum,” aku memberi salam.

Lama baru terdengar jawaban, “Wa’alaikum salam,” jawab Mbak Siti dari dalam rumah itu. Pintunya pun terbuka, kulihat Mbak Siti melongokkan kepalanya yang berjilbab itu dari celah pintu, “Ada apa ya?” tanyanya.

“Ini ada hadiah dari aku, aku mau memberikan kemarin tetapi lupa,” kataku sambil menunjukkan bungkusan VCD itu.

“Oh, baiklah,” kata Mbak Siti sambil bermaksud mengambil bungkusan di tanganku itu. “Eee.. tunggu dulu Mbak, ini isinya VCD, aku mau lihat apa bisa mutar ngak di komputer Mas Indra,” kataku mengarang alasan.

Sedikit keberatan kelihatannya, akhirnya Mbak Siti mempersilahkanku untuk masuk, aku yakin dia juga kurang mengerti tentang komputer. Di dalam kamar, aku menghidupkan komputer dan mengoperasikan program VCD playernya, lalu kumasukkan VCD ku itu dan kujalankan. Sesuai dugaanku, VCD itu berjalan bagus.

“Mbak ngak pengen nonton?” tanyaku sambil melihat Mbak Siti yang sedari tadi duduk di belakang memperhatikanku.

“Film apa sih?” tanya Mbak Siti kepadaku.

“Pokoknya bagus,” jawabku sambil kemudian memberikan petunjuk bagi Mbak Siti, bagaimana cara menghentikan player dan mematikan komputernya.

Mbak Siti hanya mengangguk, lalu kupermisi untuk pergi mumpung filmnya belum masuk ke bagian intinya. Pintu kamar tetanggaku itu pun kembali ditutup. Aku bergegas ke kamarku mau mengintip apa yang dilakukan Mbak Siti. Setelah di kamarku, melalui ventilasi, kulihat Mbak Siti menonton di depan komputer. Dia tampaknya kaget begitu melihat adegan porno langsung hadir di layar monitor komputer itu. Dengan cemas aku menantikan reaksinya.

Menit demi menit berlalu hingga sudah 15 menit kulihat Mbak Siti masih tetap menonton. Aku senang, berarti Mbak Siti menyukainya. Lalu terjadi sesuatu yang lebih dari harapanku, tangan Mbak Siti pelan masuk ke dalam roknya, dan bergerak-gerak di dalam rok itu.

“Sssshhhh… Oooouhh… Aaaahhh….” suara Mbak Siti  mendesah-desah, tampaknya merasakan kenikmatan.

Aku kaget, “Wah, hebat. Dia masturbasi,” kataku dalam hati.

Ingin sekali aku masuk ke kamar Mbak Siti, memeluknya dan langsung menyetubuhinya, tetapi aku sadar, ini perlu proses. Akhirnya aku memutuskan untuk tetap mengintip, dan berinisiatif mengukur kemampuanku. Aku pun mulai melakukan onani dengan memain-mainkan kontolku. Film di komputer itu terus berjalan, hingga telah 1,5 jam lamanya, pertanda film itu akan habis dan Mbak Siti kulihat sudah empat kali orgasme, luar biasa. Dan ketika filmnya berakhir, Mbak Siti ternyata masih meneruskan masturbasinya hingga menggenapi orgasmenya menjad lima kali.

“Aaakkkhhh..” Mbak Siti mendesis pelan menandai puncak kenikmatannya.

Sesaat setelah orgasme Mbak Siti yang kelima, aku pun ejakulasi, “Ouuurrgghhh..” suara beratku mengiringi muncratnya sperma di tanganku. Aku senang sekali, berarti aku lebih tangguh dari Mas Indra dan bisa memuaskan Mbak Siti nantinya karena bisa orgasme dan ejakulasi bersamaan. Kemudian Mbak Siti sesuai petunjukku, kulihat mengeluarkan VCDnya dan mematikan komputernya.

Setelah siang hari, Mas Indra baru pulang. Sedikit berdebar-debar aku menunggu perkembangan di kamar tetanggaku itu, takut kalau Mbak Siti ngomong macam-macam soal VCD itu, bisa habis aku! Tetapi lama kelihatannya tidak terjadi apa-apa. Kembali aku mengintip lewat ventilasi, apa yang terjadi di sebelah.

Begitu aku mulai mengintip, aku kaget! Karena kulihat Mbak Siti dalam keadaan hampir bugil, hanya memakai celana dalam dihimpit oleh Mas Indra, mereka bersetubuh! Namun seperti yang dulu-dulu, permainan itu hanya berlangsung sebentar dan tampaknya Mbak Siti terlihat tidak menikmati dan tidak bisa mencapai orgasme. Bahkan aku melihat Mbak Siti seringkali kesakitan ketika penetrasi atau ketika payudaranya diremas.

“Ah, Mas Indra ngak pandai merangsang sih,” pikirku.

Bagaimanapun aku senang, langkah keduaku berhasil membuat Mbak Siti tidak bisa lagi mencapai orgasme dengan Mas Indra. Prediksiku, Mbak Siti akan sangat tergantung pada VCD itu untuk kepuasan orgasmenya, sedangkan cara menghidupkan VCD itu hanya aku yang tahu, disinilah kesempatanku.

Pada hari Kamis sekitar jam 98 pagi aku bangun dari tidur, mempersiapkan segala sesuatunya, karena hari ini bisa jadi saat yang sangat bersejarah bagiku. Kemarin aku telah mengintip Mbak Siti dan Mas Indra seharian, mereka kemarin bersetubuh hanya dua kali, itu pun berlangsung sangat cepat, dan yang penting bagiku, Mbak Siti tidak bisa orgasme.

Malam kemarin aku juga sudah bersiap-siap dengan minum segelas jamu kuat, yang bisa menambah kualitas spermaku. Pagi itu, setelah mandi, aku berpakaian sebaik mungkin, parfum bearoma melati kuusapkan ke seluruh tubuhku, rambutku juga sudah disisir rapi. Lalu dengan langkah pasti aku melangkah ke rumah tetangga sebelahku, Mbak Siti yang sedang sendirian.

Kembali aku mengetuk pintu kamarnya pelan, “Assalamu’alaikum,” aku memberi salam.

“Wa’alaikum salam,” suara lembut Mbak Siti menyahut dari dalam kamar.

Mbak Siti pun membuka pintu, kali ini dia berdiri di depan pintunya, tidak seperti kemarin yang hanya melongokkan kepala dari celah pintu yang sedikit terbuka. Dia memakai jilbab pink dengan motif renda, manis sekali.

“Oh ya, aku lupa memberitahukan cara menghidupkan VCD kemarin,” kataku sambil tersenyum.

Tiba-tiba raut muka Mbak Siti menjadi sangat serius, “Kamu kurang ajar ya, masa ngasih VCD porno gituan ke Mbak.” kata Mbak Siti sedikit keras.

Aku kaget, ternyata dia marah, pikirku. Lalu cepat aku mengarang alasan, “Oh, maaf Mbak, VCDnya yang hadiah itu, isinya film soal riwayat Nabi-Nabi buatan TV3 Malaysia, maaf kalau tertukar, Yah aku ambil saja lagi.”

Mbak Siti masuk ke dalam kamarnya, dia tampak kecewa. Aku senang, berarti dia takut kehilangan VCD itu. Lalu aku pun masuk ke kamarnya melalui pintu yang sedari tadi terbuka. Mbak Siti kaget, melihatku mengikuti langkahnya, “Eh, kamu kok ikut masuk juga?” Sambil menutup pintu, tenang aku menjawab, “Alaahh… Mbak jangan munafiklah, Mbak suka juga dengan VCD porno itu. Aku sudah lihat Mbak sampai masturbasi segala.”

“Kurang ajar kamu! Keluar! Kalau tidak aku akan berteriak!” bentak Mbak Siti.

“Mbak jangan marah dulu, coba Mbak pikirkan lagi, sejak menonton VCD itu, Mbak tidak bisa lagi orgasme dengan Mas Indra kan?” kataku sambil merebut VCD itu dan mematahkannya.

Mbak Siti terkejut, “Kamu…”

Tak sempat dia menyelesaikan kata-kata, aku memotongnya, “Aku bersedia memberikan kepuasan kepada Mbak Siti, aku jamin Mbak Siti bisa orgasme bila main denganku.”

“Kurang ajar! Keluar kamu!”

“Ee.. tidak segampang itu. Ayolah Mbak Siti jangan marha, pikirankan dulu, aku satu-satunya kesempatan, bila Mbak Siti tidak memakai aku, seumur-umur Mbak Siti ngak akan pernah mencapai orgasme lagi.” aku mulai menghasutnya.

Mbak Siti terdiam sebentar, aku senang dan berpikir dia mulai termakan rayuanku, tapi.. “Tidak! Kata Mbak tidakk!! Sekarang keluar kamu!”

Aku gemetar, tapi tetap berusaha, “Mbak sebaiknya pikirkan lagi, disini cuma aku yang mengajukan diri memuaskan Mbak, aku satu-satunya kesempatan Mbak, kalau Mbak tidak mengambil kesempatan ini, Mbak akan rugi!” kataku sedikit tegas.

Lama kulihat Mbak Siti terdiam, bahkan dia kini terduduk lemas di samping ranjangnya. Aku pura-pura mengalah, “Ya sudahlah, jika Mbak tidak mau, aku pergi saja, aku tidak cuma kasihan ngelihat Mbak!” kataku sambil beranjak pergi.

Tetapi kulihat Mbak Siti hanya diam terduduk di ranjangnya, aku membatalkan niatku, pintu yang telah kubuka kini kututup lagi dan kukunci dari dalam. Perlahan aku mendekati Mbak Siti, kulihat dia menangis. “Mbak jangan menangis, aku tidak ada masuk sedikitpun menyakiti Mbak,” kataku sambil mulai mengelap air matanya dengan tanganku.

Lalu pelan-pelan kupegang pundak Mbak Siti dan kudorong pelan dia agar berbaring di ranjang. Ternyata Mbak Siti hanya menurut saja, aku kesenangan, rayuanku berhasil meruntuhkan pendiriannya. Kemudian aku mulai membuka resleting celana panjangnya, dia tampaknya menolak, tetapi aku dengan santai menepis tangannya dan memasukkan tanganku ke dalam celananya. Tanganku masuk ke dalam celana dalamnya, lalu langsung jariku menuju ke tengah lubang memeknya. Aku sudah terburu nafsu, menusuk-nusukkan jemariku ke dalam lubang itu berkali-kali.

“Aaakkkhh… Aaahhhh… Aaakkkhhh…” desahan Mbak Siti mengiringi setiap tusukan jemariku.

Aku ingin membuatnya terangsang dan mencapai orgasme. Lalu dengan cepat kutarik celana panjang dan celana dalamnya, sehingga terlihatlah pahanya yang putih dan mulus, aku langsung mencium paha mulus itu bertubi-tubi, menjilat paha putih Mbak Siti dengan merata. Aku pun mengincar itilnya Mbak Siti yang tersembul keluar dari bagian atas memeknya.

Langsung aku sedot itilnya itu di dalam mulutku, “Oooohhhh… Eeeeggghhh…. Uuuuhhh,” dan lidahku menari-nari di atasnya, terkadang kugigit pelan-pelan berkali-kali.

“Aaakkhh.. Ooouuuhh… Aaaakkkhhh…” suara Mbak Siti mendesah kuat tanda terangsang.

Jemari tanganku semakin kupercepat menusuk memek Mbak Siti dan lidahku makin menggila menari-nari di atas itilnya yang berwarna merah jambu itu. Perlahan kubimbing Mbak Siti mencapai puncaknya, hingga akhirnya, “Aaaakkkhhhh… ” erang pelan Mbak Siti mengiringi orgasmenya.

Kulihat jemari tanganku basah, bukan karena liurku tetapi karena cairan memek Mbak Siti yang orgasme. Aku mencium memeknya itu, tercium bau khas cairan memek wanita yang orgasme. Aku pun tersenyum, hatiku senang karena bisa membawa Mbak Siti mencapai orgasmenya. Tetapi aku tidak berhenti sampai disitu saja. Setelah memelankan tusukan jariku, kini tusukan itu kembali kupercepat.

“Aaaahhh… Aaaahh…. Yeesss… terus No…. “suara Mbak Siti mulai meracau.

Sementara tangan kiriku beroperasi di memek Mbak Siti, tangan kananku mulai meremas-remas blus Mbak Siti, dengan cepat tangan kananku merobek blus itu dan menarik BH-nya hingga keluarlah payudara Mbak Siti yang indah membukit. Kemudian aku menghisap kedua puting itu sambil tangan kananku meremas payudara Mbak Siti bergantian, “Slurrppp… Slluurrrppp… Slluurrrppp….” aku menghisap puting Mbak Siti, sementara desahan Mbak Siti terdengar halus di telingaku.

“Aaakkhh… terus… terus…. Ni…nnooo…” sementara tangan kiriku tetap beraksi di memek Mbak Siti, dan memeknya itu semakin basah, “Plokkk… Plokkk… Plokkkk…”

Kini mulutku mulai merangkak maju menuju bibir Mbak Siti yang mendesah-desah begitu wajah kami bertatapan, kulumat bibir mungil itu dalam-dalam dan Mbak Siti sedikit kaget.

“Oooohh… Ouuuhhh…. Mmmhhhhm….” Mbak Siti tidak bisa lagi bersuara, karena bibirnya telah kulumat, lidahnya kini bertemu dengan lidahku yang menari-nari.

Aku memang berusaha membimbing Mbak Siti agar orgasme untuk kedua kalinya. Agar di saat orgasmenya itu aku bisa memasukkan kontolku dan mempenetrasi ke memeknya. Karena aku sadar penetrasi itu akan sangat sakit karena ukuran kontolku lebih besar dari punya Mas Indra yang biasa masuk kesitu. Sambil mencium dan merangsang memek Mbak Siti, tangan kananku mulai melepas celana panjang dan celana dalamku, lalu memleparkannya begitu saja ke lantai. Tangan kananku mengelus-elus kontolku yang terasa mulai mengeras.

Tidak lama, akhirnya Mbak Siti mencapai orgasmenya yang kedua kali, “Ooouuuhhhhh….. Aaaaahhhh…” dia mengerang, tetapi belum selesai erangannya, aku langsung menusukkan kontolku pelan-pelan ke dalam lubang memeknya yang sempit itu.

“Aaaakkkhhh….” suara Mbak Siti terpekik, matanya sayup-sayup menatap syahdu ke arahku, aku tersenyum.

Aku pun mengambil psosi duduk dan mengangkangkan kedua paha Mbak Siti dengan kedua tanganku, lalu kulakukan penetrasi kontolku pelan-pelan lama kelamaan menjadi semakin cepat. Bunyi kecepak-kecepok pun mulai terdengar dan terus berulang-ulang seiring dengan irama tusukanku.

“Aaakkhhh… Yaaaa…. terus….. Noo…..” suara desahan Mbak Siti keenakan. Aku pun semakin mempercepat tusukan, kini kedua kakinya kusandarkan di pundakku, pinggul Mbak Siti sedikit kuangkat dan aku terus mendorong pinggulku berulang-ulang. Sementara dengan sekali sentakan kulepaskan jilbabnya, tampaklah rambut hitam sebahu milik Mbak Siti yang indah, sambil menggenjot aku membelai rambut hitam itu.

“Aaahhh… Aaakkkhh… Aaaaahhhh..” suara Mbak Siti mendesah keras.

“Ooouuhhh.. Mbak…. Eeeennnaaakk banget… Aaaaahhh…” suara desahanku terdengar bergantian seperti irama musik alam yang indah.

Setelah lama, aku mengubah posisi Mbak Siti, badannya kutarik sehingga kini dia ada di pangkuanku dan kami duduk berhadap-hadapan, sementara kontolku dan memeknya masih menyatu. Tanganku memegang pinggul Mbak Siti, membantu badannya untuk naik turun. Kepalaku kini dihadapkan pada dua buah dada montok dan segar itu bergelayut dan tergoyang-goyang akibat gerakan kami berdua. Langsung kubenamkan kepalaku ke dalam kedua payudara itu, menjilatnya dan menciumnya bergantian.

Tidak kusangka, genjotanku membuahkan hasil, tidak lama kemudian, “Oooohhhhh….” lenguhan panjang Mbak Siti menandai orgasmenya yang ketiga, kepalanya terdongak menatap langit-langit kamarnya saat pelepasan itu terjadi. Aku senang sekali, kemudian kupelankan genjotanku dan akhirnya kuhentikan sesaat. Lama kami saling bertatap-tatapan, aku lalu mencium mesra bibir Mbak Siti dan Mbak Siti juga menyambut ciumanku, jadilah kami saling berciuman dengan mesra, ohh indah sekali.

Tak lama, aku menghentikan ciumanku, aku kaget, Mbak Siti ternyata menangis! “Kenapa Mbak? Aku menyakiti Mbak ya?” tanyaku lembut penuh sesal. Masih terisak, Mbak Siti menjawab, “Ahh, ngak, kamu justru telah membuat Mbak bahagia.”

Kami berdua tersenyum, kemudian pelan aku baringkan Mbak Siti. Perlahan aku mengencangkan penetrasiku kembali. Sambil meremas kedua payudaranya, aku membolak-balikkan badan Mbak Siti ke kiri dan ke kanan. Kami berdua mendesah bergantian.

“Aaaaahhhh…. Aaaakkkkhhh… Aaaaaahhhh…” suaran desahan Mbak Siti.

Terus lama, sehingga akhirnya aku mulai merasakan urat-uratku menegang dan cairan kontolku seperti berada di ujung, siap untuk meledak. Aku ingin melakukannya bersama dengan Mbak Siti. Untuk itu aku memeluk Mbak Siti, menciumi bibirnya dan membelai rambutnya pelan. Usahaku berhasil karena perlahan Mbak Siti kembali terangsang, bahkan terlalu cepat.

Dalam pelukanku, kubisikkan ke telinga Mbak Siti, “Tahan… Taaahhannn Mbak, kita lakukan bersama-sama ya.”

“Ooouuhh… Aaaahhh…. aku sudah tidak tahan lagi,” desah Mbak Siti, kulihat matanya terpejam kuat menahan orgasmenya.

“Pelan-pelan saja Mbak, kita lakukan serentak,” kataku membisik sambil kupelankan tusukan kontolku.

Akhirnya yang kuinginkan terjadi, urat-urat syarafku menegang, kontolku makin mengeras. Lalu sekuat tenaga aku mendorong pinggulku berulang-ulang dengan cepat. “Aaaakkkhh… Ooohh…. Oouugg…” suara Mbak Siti mendesah. Kepalanya tersentak-sentak karena dorongan kontolku.

“Lepaskan…. lepaskannn …. Mbakk…. sekaranggg!!” suaraku mengiringi desahan Mbak Siti.

Mbak Siti menuruti saranku, dia pun akhirnya melepaskan orgasmenya. “Aaaaakkkkhhh… Nino… Aaaakkkkhhh…. Uuuhhhhhh….” erangnya Mbak Siti yang begitu terdengar di kamar itu.

“Ooouuhhh…. Aaaaaakhhhh…” suara berat menandakan ejakulasiku, mengiringi orgasme Mbak Siti. Erat kupeluk dia ketika pelepasan orgasme itu kulakukan. Setelah permainan itu, dalam keadaan bugil aku tiduran telentang di samping Mbak Siti yang juga telanjang. Mbak Siti memelukku dan mencium pipiku berkali-kali seraya membisikkan sesuatu ke telingaku, “Terima kasih No.”

— S E L E S A I —

Jangan lupa di share ya Cerita Sex Aku Jadi Pemuas Nafsu Istri Tetanggaku … Dibaca juga kisah Cerita Sex Aku Garap Istri Tetangga yang Seksi 2 …. Dan nantikan cerita-cerita yang lebih horny dan sange dari kami www.ceritapv.com selanjutnya. Cerita Sex Sedarah 2018

One thought on “Cerita Sex Aku Jadi Pemuas Nafsu Istri Tetanggaku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: