Nama Situs
Games
Deposit Promo Link Daftar
RejekiPoker Poker, DominoQQ, AduQ, Capsa Susun, BandarQ, Bandar Poker, Sakong Rp 20.000 Bonus CashBack 0.3% - 0.5%
Bonus Referal 20%
Klik Di sini
RejekiPoker
BadutQQ Poker, DominoQQ, AduQ, Capsa Susun, BandarQ, Bandar Poker, Sakong Rp 15.000 Bonus CashBack 0.3%
Bonus Referal 20%
Klik Di sini
BadutQQ
GadisQQ Poker, DominoQQ, AduQ, Capsa Susun, BandarQ, Bandar Poker, Sakong Rp 15.000 Bonus CashBack 0.3%
Bonus Referal 20%
Klik Di sini
GadisQQ
BabeQQ Poker, DominoQQ, AduQ, Capsa Susun, BandarQ, Bandar Poker, Sakong Rp 20.000 Bonus CashBack 0.5%
Bonus Referal 20%
Klik Di sini
BuabeQQ
BungaQQ Poker, DominoQQ, AduQ, Capsa Susun, BandarQ, Bandar Poker, Sakong Rp 20.000 Bonus CashBack 0.5%
Bonus Referal 20%
Klik Di sini
BungaQQ
KepoQQ Poker, DominoQQ, AduQ, Capsa Susun, BandarQ, Bandar Poker, Sakong Rp 20.000 Bonus CashBack 0.3%
Bonus Referal 20%
Klik Di sini
KepoQQ
JadwalPoker Poker, Ceme, Capsa Susun, DominoQQ Rp 15.000 Bonus TurnOver 0.5%
Bonus Referal 20%+10%
Klik Di sini
JadwalPoker
Perkasa99 Poker, DominoQQ, AduQ, Capsa Susun, BandarQ, Bandar Poker, Sakong Rp 20.000 Bonus CashBack 0.5%
Bonus Referal 20%
Klik Di sini
Perkasa99
DepoQQ Poker, DominoQQ, AduQ, Capsa Susun, BandarQ, Bandar Poker, Sakong Rp 20.000 Bonus CashBack 0.5%
Bonus Referal 20%
Klik Di sini
DepoQQ
TatoQQ Poker, DominoQQ, AduQ, Capsa Susun, BandarQ, Bandar Poker, Sakong Rp 20.000 Bonus CashBack 0.5%
Bonus Referal 20%
Klik Di sini
TatoQQ
TahunQQ Poker, DominoQQ, AduQ, Capsa Susun, BandarQ, Bandar Poker, Sakong Rp 20.000 Bonus CashBack 0.5%
Bonus Referal 20%
Klik Di sini
TahunQQ

Cerita Sex Aku Garap Istri Tetangga yang Seksi 2

Kumpulan Cerita Sex dan Sange 2018 – Cerita Penis Vagina adalah cerita sex panas terbaru 2018 dengan Cerita Sex Aku Garap Istri Tetangga yang Seksi 2. Situs ini dikhususkan untuk orang dewasa saja yang berisikan cerita-cerita seru dan terlengkap untuk usia 18 tahun keatas yang dapat meningkatkan nafsu birahi jika ingin mastrubasi atau bersetubuh dengan lawan jenis anda. Selamat membaca.

Aku menahan nafsu mendengarnya, tapi ada daya, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Supaya tidak ketahuan, aku segera menjauh dari situ sambil pura-pura melihat poster di dinding. Saat Mbak Iin keluar mencariku, aku segera mendekat sambil menyapanya.

“Ada apa Mbak?” tanyaku.

“Yuk, kita pulang dulu,” kata Mbak Iin.

Aku mengikuti masuk ke ruangan tersebut, terbayang Mbak Iin tanpa BH dan celana dalam, kelihatan sangat cantik. Kelihatan Mas Herman sudah rapi meskipun terlihat mereka agak kelelahan. Dan saat itu kita pamit. “Mas, aku pulang dulu ya?” kataku.

“Makasih ya Ran, kamu telah membantu Mbakmu. Aku tidak bisa membalasnya,” kata Mas Herman.

“Sama-sama Mas, kan aku saudara sendiri,” kataku berusaha sok tulus.

“Tapi jangan sampai ganggu kuliahmu loh. Kalau perlu atau pengen apa-apa minta saja sama Mbakmu,” kata Mas Herman.

“Iya Mas,” jawabku singkat untuk memberi kesempatan mereka bicara.

“Pa, aku pulang dulu ya? Yang sabar disini,” kata Mbak Iin.

“Iya Ma. Kamu juga hati-hati di rumah, kalau perlu bantuan ngomong sama Wiran saja. Tapi kalau dia perlu atau pengen apa, kamu usahakan,” pesan Mas Herman.

Akhirnya kita keluar dari Polresta, kita diam pada pikiran masing-masing. Mbak Iin ku bonceng tetap melingkarkan tangannya di pinggangku sehingga otomatis teteknya yang tidak pakai BH menempel ketat di punggungku. Terasa emput, beda dari waktu berangkat tadi. Mbak Iin tidak menyadari atau sengaja, aku tidak tahu. Di perjalanan aku lebih berkonsentrasi pada rasa di punggungku yang hangat kenyal daripada jalan di depan yang sepi dan lengang.

Akhirnya Mbak Iin ngomong, “Ran, kita makan dulu yuk?”

“Ngak usah Mbak. Aku kalau sama Mbak kenyang terus, hahaha…” candaku.

“Kok bisa Ran?” tanya Mbak Iin heran.

“Maaf Mbak. Kan aku minum susu terus meskipun cuma punggungku,” jawabku semakin kurang ajar.

“Kamu bisa aja,” tertawa Mbak Iin.

“Mbak kok rasanya beda ya dari waktu berangkat tadi, lebih empuk?” tanyaku.

“Hahaha.. kamu ngerasa ya Ran?” jawab Mbak Iin agak malu-malu.

“Ya pasti dong Mbak. Aku kan punya kulit yang bisa merasakan. Kok empuk Mbak, apa Mbak kedinginan?” tanyaku pura-pura bloon.

“Maaf Ran, sebenarnya aku malu ngomong ini. Mbak sekarang tidak pakai BH, tadi Mas Herman minta netek. Daripada repot, ya Mbak lepas saja, sekarang belum sempat makai. Apa berhenti dulu di pom bensin? Mbak pakai dulu kalau kamu tidak nyaman,” cerocos Mbak Iin.

“Jangan Mbak, begini malah lebih nikmat,” kataku semakin berani.

“Hahahaha… kamu bisa saja Ran. Atau jangan-jangan kamu pengen netek juga ya?” tanya Mbak Iin memancing.

“Ngak kok Mbak, ngak pengen. Tapi… pengeenn banget!” jawabku penuh harap.

“Husshh, jangan ngawur. Kamu kenyang apa kentang?” kata Mbak Iin sambil mengelus kontolku.

Aku semakin berani, “Aku pegen ini,” kataku sambil memegang memeknya dari luar gamis karena terbawa nafsu. Tapi ini jadi fatal, karena Mbak Iin langsung memukul sambil berkata agak keras, “Kurang ajar kamu Ran, kamu anggap aku ini apa!”

“Maaf Mbak… maaf. Aku tidak bermaksud begitu,” kataku penuh melas.

“Iya,” jawab Mbak Iin ketus.

Aku merasa bersalah. Selama di perjalanan kami berdiam. Akhirnya sampai di depan rumahnya, aku turunkan Mbak Iin. “Maafkan kelancanganku tadi Mbak. Aku tidak akan mengulanginya lagi,” kataku pelan.

“Iya,” jawab Mbak Iin tanpa melihatku, kelihatan begitu kecewa. Aku berpikir haruskah berakhir seperti ini? Tidak, harus dilanjutkan.

Lalu kumasukan motor ke rumah. Di kamar, aku mencoba untuk tidur, tapi tidak bisa. Nonton siaran TV tidak nyaman juga. Aku terus membayangkan Mbak Iin yang sedang marah. Aku kecewa merasa kelancangan dan kegagalanku saat ini. Akhirnya aku berpikir harus menyelesaikan malam ini juga. Ada dorongan sangat kuat untuk mendatangi rumah Mbak Iin. Berani ngak, berani ngak? Mengapa ngak berani, aku kan seorang lelaki. Entah apa yang mendorongku, tahu-tahu aku sudah keluar rumah lewat tempat biasa atau jendela.

Aku mendatangi rumah Mbak Iin. Dengan berdebar-debar aku ketok pelan-pelan kaca nakonya, “Mbak Iin, aku Wiran,” kataku lirih. Terdengar gemerisik suara orang berjalan, lalu sepi. Mungkin Mbak Iin masih belum tidur dan takut. Bisa juga mengira aku maling, “Aku Wiran Mbak.” kataku lagi. Kain gorden terbuka sedikit, “Lewat samping!” kata Mbak Iin.

Aku segera menuju ke samping ke pintu ruang keluarga. Pintu terbuka, aku masuk, lalu pintu kututup kembali. Malam itu, Mbak Iin mengenakan daster di atas dengkul warna merah yang kontras dengan kulitnya yang putih dan bersih dengan seutas tali yang dikaitkan di leher sehingga teteknya yang montok kelihatan menantang, mungkin ini baju tidur kesukaannya.

Jilbabnya sudah dia lepas, rambutnya yang lurus sebahu tergerai indah membingkai wajah cantiknya. Ada bau harum sabun mandi, kelihatannya Mbak Iin baru mandi, maklum tadi sore habis dipakai Mas Herman. Aku langsung terangsang, pengen memperkosanya, tapi aku sadar aku kesini untuk minta maaf, bukan membuat masalah lagi. Aku duduk di ruang santai tempat pertunjukan kemarin, aku tidak berani melihat, hanya berani melirik Mbak Iin, kita berdua diam tanpa kata. Akhirnya kuberanikan bicara.

“Mbak, maafkan aku atas kekurangajaranku tadi,” kataku penuh harap.

“Iya Ran. Mbak juga salah telah membuat kamu kecewa, kamu kan yang paling perhatian kepadaku,” kata  Mbak Iin.

“Aku salut sama kamu, memang lelaki harus bertanggung jawab,” sambung Mbak Iin.

Aku tambah lega, tidak ada jarak lagi di antara kita. “Ran, kamu kesini mau apa?” tanya Mbak Iin.

“Hanya ingin minta maaf Mbak,” jawabku mantap.

“Iya sudah Mbak maafkan dari tadi, Wiran.. kamu pengen minta apa, tadi Mas Herman kan sudah pesan kalau perlu apa-apa ngomong langsung saja sama Mbak,” tanya Mbak Iin dengan suara parau, terlihat ada sesuatu yang ditahan.

“Iya Mbak, makasih banget. Aku kesini tadi tidak pengen apa-apa, aku sudah lega kalau Mbak maafin aku. Kalau begitu aku pulang dulu Mbak,” kataku sambil berdiri.

Mbak Iin ikut berdiri, kami lalu bersalaman. Aku berjalan ke pintu, mau membukanya dan tiba-tiba, “Ran sebentar..” panggil Mbak Iin dengan suara tertahan.

Aku langsung membalik tubuhku, menghadap ke arahnya yang berdiri agak ragu, “Iya Mbak?” jawabku penuh tanya tanya.

“Aku percaya ada yang kamu inginkan, tapi tidak berani berucap,” kata Mbak Iin, aku hanya diam kaya patung.

“Kamu mau ini, Ran hadiah untukmu,” lanjut Mbak Iin.

Aku tetap diam tidak berkedip saat melihat tangan Mbak Iin melingkar ke belakang leher sehingga teteknya yang montok makin kelihatan menantang. Dengan sedikit tarikan, dia melepas tali daster dan membiarkan kain berwarna merah itu meluncur ke bawah. Aku kaget dan terpana karena Mbak Iin langsung bugil total, ternyata dari tadi dia tidak pakai daleman.

Kuperhatikan tubuh indahnya dari atas sampai bawah, teteknya yang montok langsung terekspos dengan jelas, sangat menantang untuk dijamah. Dan astaga! memeknya yang tembem sekarang jadi gundul. Kemana gerangan jembut lebat yang kulihat tadi siang?

Aku terpana tidak mampu bergerak. Yang bisa bereaksi cuma kontolku, benda itu mulai berontak dan menegang saat melihat pemandangan indah itu. Tapi aku tidak berani berbuat apapun. Mbak Iin berjalan mendekatiku, teteknya yang montok bergoyang-goyang saata dia melangkahkan kaki. Aku hanya mematung saat Mbak Iin mengambil inisiatif dengan langsung menarik kaosku ke atas hingga terlepas.

Dia kemudian jongkok dan menurunkan celana dan celana dalamku. Aku sedikit mengangkat kakiku, memudahkan Mbak Iin melepasnya. Dia melempar celanaku entah kemana. Kontolku yang sudah tegang berat langsung meloncat dan berdiri tegak bagai tongkat. Berdua di ruang tengah rumah Mbak Iin, kami sama-sama bugil sekarang.

Aku dibimbingnya masuk ke kamar tidurnya. Aku tidak tahan lagi, segera kupeluk tubuh montok Mbak Iin erat-erat. Kuciumi pipinya, hidungnya, bibirnya, dengan lembut dan mesra, tapi penuh nafsu. Mbak Iin membalas memelukku, wajahnya disusupkan ke dadaku.

“Maaf Mbak, aku pengen banget kaya kemarin,” bisikku sambil terus menciumi dan membelai punggungnya. Nafsu kami semakin menggelora.

“Ran, aku akan kasih yang lebih dari kemarin. Jamahlah tubuh Mbak sesukamu, mana yang kamu mau, tubuh Mbak semua untukmu!” kata Mbak Iin.

“Iya Mbak. Tapi ajari aku ya, karena ini baru pertama,” kataku memohon.

“Kamu memang anak baik Ran. Jangan terburu-buru, ikuti naluri saja,” terang Mbak Iin.

Aku ditariknya ke tempat tidur. Mbak Iin kemudian membaringkan dirinya, aku langsung menidihnya. “Ran, jangan buru-buru. Nodai dulu bibirku,” kata Mbak Iin sambil menyorongkan mulutnya. Aku pun menyambutnya, bibir Mbak Iin terasa hangat dan lembut. Aku yang baru pertama berciuman, dengan kasar melakukannya, asal sedot dan lumat saja. Mbak Iin dengan santai mengajariku, aku mengikutinya. Hingga beberapa menit kemudian, kita bisa saling lumat dan hisap dengan lebih nikmat.

“Enak Ran?” kara Mbak Iin dengan sedikit senyum. Aku hanya bisa mengangguk, dia kemudian mendorong tubuhku ke atas, “Ini yang menempel di punggungmu tadi Ran. Nikmatilah, jangan bengong saja,” kata Mbak Iin sambil menyodorkan teteknya yang besar dan bulut.

Aku tidak tahan lagi, segera kujamah buah dada yang kenyal dan empuk itu. Ukurannya benar-benar besar, sampai tanganku tidak muat menangkap semuanya. Aduh! terasa nikmat sekali. Kuelus bulatan daging itu dengan lembut, kuremas pelan-pelan. Putingnya terlihat memerah dan menggemaskan. Kuciumi, kubenamkan wajahku di kedua bulatan mungil itu, sampai aku tidak bisa bernafas. Aku mainkan buah dada Mbak Iin sesuai naluri dan teori dari film bokep yang sering kulihat. Mbak Iin terlihat menikmati sambil sedikit mengarahkan kalau aku berbuat salah.

“Ran, biar wanita bisa horny kalau teteknya dimainkan kayak gini,” kata Mbak Iin. “Kamu mulai dari bagian bawah dulu, jangan langsung sentuh bagian putingnya.” terangnya.

Aku hanya menurut seperti anak TK yang nurut sama ibu gurunya. Mulai kujilati bagian bawah tetek Mbak Iin yang besar, melingkar dari kanan ke kiri. Kelihatan puting Mbak Iin tambah menjulang saat aku melakukan itu, mungkin dia benar-benar horny dan Mbak Iin terlihat sangat menikmatinya. Tanpa diduga, aku langsung menyedot dan melumat putingnya secara bergantian. “Mbak Iin kaget tapi tidak menolak, “Pinter kamu Ran… Uugghh… enak banget!” katanya.

Aku masih memainkan tetek Mbak Iin sesukaku. Istri Mas Herman itu membiarkan dan menikmatinya sambil mengelus kepalaku penuh kasih sayang, seperti perlakuan seorang ibu pada anak bayinya yang lagi netek. Aku tidak bosan-bosannya memainkan gundukan padat itu dengan mulutku, sementara tanganku mulai merogoh memeknya. Saat kurasakan benda itu jadi licin, tidak tahan aku bertanya, “Kok gundul Mbak, ngak takut banjir?” tanyaku konyol.

“Spesial untukmu Ran. Biar bersihm biar kamu tahu gimana bentuk memek yang sebenarnya, kamu kan baru belajar,” jawab Mbak Iin sabar.

“Iya Mbak,” kubelai dan kuusap-usap belahan tembem itu. Kutusukkan jari telunjukku ke lubang yang sempit, terasa sangat hangat dan basah di sana.

“Ran, Mbak tidak kuat lagi. Jilati memekku Ran!” pinta Mbah Iin sambil mendorongku ke bawah.

“Kok basah Mbak?” kataku penuh nafsu. Kupandangi bibir memeknya yang terlihat merah mengkilat karena terlumasi cairan.

“Nikmati Ran, mainin itilku!” kata Mbak tanpa menjawab pertanyaanku. Dia membuka kakinya makin lebar, membuat belahan memeknya makin terlihat jelas. Lorongnya yang sempit berwarna merah cerah hampir kekuningan. Terasa berdenyut-denyut ringan saat aku merabanya.

Kuikuti perintah Mbak Iin. Segera aku jongkok dan menghisap benda itu. Mbak Iin mengarahkan jilatanku yang masih kasar dan asal dengan membuka bagian atas memeknya. Karena memang memeknya gundul, maka segera terpampanglah daging kecil berwarna merah sebesar biji kacang miliknya. Aku pikir, ini pasti itil yang dia maksud. Langsung kujilat dan kumainkan benda itu. Mbak Iin hanya bisa mendesah, “Iya begitu Ran! Jilat terus.. sedkot.. lumat itilku dengan mulutmu Ran!” katanya.

Aku mainin terus itil itu. Terasa ada cairan yang membasahi memek Mbak Iin dengan aroma yang khas, benar-benar menambah sensasiku. Semakin kupercepat jilatanku, semakin Mbak Iin tidak tahan. Hingga ahirnya dia menarik tubuhku dan kembali menciumiku bertubi-tubi. Terasa teteknya yang bulat padat mengganjal tepat di dadaku.

“Ran, masukin kontolmu. Entoti aku. Tusuk memekku Ran!” kata Mbak Iin seperti Tante girang.

Dia segera menggenggam dan mengocok-ngocok pelan batang kontolku dari ujung hingga ke pangkalnya. Aduh, rasanya geli dan nikmat sekali. Aku jadi ngak sabar lagi. Kaki Mbak Iin kukangkangkan lebar-lebar, aku coba langsung memasukkan kontolku ke memeknya seperti Mas Herman tadi, tapi meleset terus.

“Hehehe… aku percaya kamu memang baru pertama Ran,” kata Mbak Iin. “Mbak akan nikmati perjakamu,” sambil tersenyum, dia membimbing kontolku untuk memasuki lubang memeknya yang sudah basah.

Digesek-gesekkannya ujung kontolku di bibir memeknya, makin lama semakin terasa basah, hingga ketika kudorong pelan, sudah bisa agak sedikit masuk, meski mash tetap sulit. Memek Mbak Iin terasa sangat sempit. Dia dengan sabar terus membimbingku.

“Pelan-pelan aja Ran. Kontolmu besar lebih dari milik Mas Herman,” bisik Mbak Iin gembira.

“Memek Mbak sempit banget, kontolku muat ngak Mbak?” tanyaku kaya orang bego.

Mbak Iin tidak menjawab. Dia hanya tersenyum sambil terus membimbing kontolku memasuki lubang memeknya. Aku sendiri terus menekan dengan pelan, hingga akhirnya kontolku masuk ke semakin dalam, semakin dalam… sudah setengah terbenam, kutekan terus… lagi, dan lagi dan akhirnya tinggal sedikit lagi, lau… penuh nafsu dan “Blesss!” kutekan kontolku keras-keras hingga semuanya terbenam ke dalam memek Mbak Iin yang tembem.

“Auuuww… pelan-pelan Ran.. sakit!” teriak Mbak Iin tertahan. Aku hanya diam membiarkan kontolku tetap menancap. Terasa nikmat kurasakan kontolku seperti dijepit sesuatu yang tidak tergambarkan, hangat, basah, geli, lengket, dan berdenyut-denyut. Melenguh keenakan, kunikmati lubang memek Mbak Iin.

“Ran, memek Mbak jadi penuh banget, kontolmu mantap!” teriak Mbak Iin.

“Eehmm.. memek Mbak juga enak banget! Masih sakit Mbak?” tanyaku sambil memainkan puting susunya.

“Sebentar Ran, jangan bergerak dulu. Biar kelamin kita kenalan dulu, kontolmu terlalu besar, memekku jadi kaget,” kata  Mbak Iin.

“Iya Mbak,” kau mengangguk.

Kita tetap dalam posisi seperti itu selama kurang lebih lima menit, hingga kemudian, “Ran, aku siap digoyang,” bisiknya mesra.

Aku pun mulai menggerakkan pinggulku naik turun dengan pelan seperti yang kulihat dilakukan oleh Mas Herman. Aku melakukannya dengan teratur. Aduh, nikmat sekali rasanya. Kontolku rasanya dijepit erat oleh memek Mbak Iin yang sempit dan licin. Makin cepat kukocok, makin erat memek itu mencengkeram kontolku. Aku terus menggerakkannya keluar masuk, naik turun, kadang memutar dan kutekan dalam-dalam dengan penuh nafsu, menggesek dinding memek Mbak Iin hingga membuat kami merintih keenakan.

“Oooohhh… Wiran…. enak! Yang cepat…. terus… ya begitu… Uuuugghhh…” bisik Mbak Iin sambil mendesis-desis. Kupercepat lagi genjotanku, terdengar suara Mbak Iin makin kecepak-kecepok, menambah semangatku. “Ran, aku mau keluar…. terus…. terus…. Aaahhh…” rintihnya.

Aku juga sudah mau keluar, ada sesuatu yang mau meledak di ujung kontolku. Aku percepat goyanganku, dan kontolku merasa akan segera muncrat. Kubenamkan dalam-dalam ke lubang memek Mbak Iin sampai amblas, mentok semuanya. Pangkal kontolku berdenyut-denyut, spermaku muncrat, menyembur berkali-kali di dalam memek sempit Mbak Iin.

Bersamaa dengan itu, Mbak Iin langsung mengejang terasa basah di ujung kontolku. Rupanya dia juga orgasme, kami berangkulan erat-erat, nafas kami seakan berhenti. Saking nikmatnya dalam beberapa detik, nyawaku seperti melayang entah kemana. Aku ambruk di atas tubuh montok Mbak Iin untuk beberapa saat menikmati sisa-sisa kenikmatan yang masih mendera.

Setelah rasa itu hilang, barulah kucabut kontolku dan berbaring di sisinya. Kami berdiam diri, mengatur nafas kami masing-masing. Tiada kata-kata yang terucapkan, ciuman dan belaian kami yang berbicara.

“Terima kasih Mbak atas hadiahnya. Tidak akan terlupakan,” bisikku di telinganya.

“Iya Ran. Mbak juga puas. Mbak bisa keluar lepas, tidak seperti tadi sama Mas Herman,” kata Mbak Iin keceplosan.

“Memang tadi sempat ngentot sama Mas Herman?” tanyaku pura-pura tidak tahu.

“Eh, ngak.. ngak Ran!” kata Mbak Iin gelagapan, mukanya merah padam menambah kecantikannya.

“Mbak cantik deh kalau lagi bohong,” rayuku. “Tapi Mas Herman ahli ya Mbak? Tanpa bantuan nyoblos, langsung bisa masuk,” lanjutku.

“Kamu kurang ajar ya Ran! Berarti kamu tadi ngintip… kamu memang kurang ajar,” kata Mbak Iin berlagak marah.

“Salah sendiri, ngentot di tempat gituan. Beralaskan lantai apa enaknya? Aku tidak mengintip, tapi aku lihat kok,” candaku.

“Iya Ran, aku ngaku. Habis tadi tidak tahan. Kasihan Mas Herman, masak punya istri harus pakai tangan?” akhirnya Mbak Iin mengakui perbuatannya, “Tapi kamu memang kurang ajar Ran. Masak suamiku di sel, istrinya kamu nodai!” katanya kemudian.

“Biarin, kan ini Mbak juga gatel,” kataku sambil membelai memeknya.

“Kamu keblablasan Ran,” teriak Mbak Iin sambil berdiri.

Aku kaget dengan responnya. Langsung aku diam, apa salahku lagi? Mbak Iin bikin pusing saja. Aku masih terlentang diam, sementara dia mulai bergerak mengangkangi tubuhku. Bisa kulihat sisa-sisa spermaku masih menetes-netes di celah-celah belahan memeknya.

“Ini kubalas atas kekurang ajaranmu!” maki Mbak Iin. Dia lalu memegang kontolku yang masih lesu, terus dijilati dan langsung ditelannya tanpa rasa jijik. Mendapat perlakukan seperti itu, kontolku langsung berdiri tegak lagi.

“Mbak jadi berdiri lagi, gimana ini?” rengekku pura-pura lugu.

“Dasar, kontol muda ngak ada matinya!” maki Mbak Iin sambil menggenggamnya erat.

Dia langsung naik di atas tubuhku, memeknya berada tepat di depan kontolku. Tanpa permisi, Mbak Iin menurunkan tubuhnya, batang kontolku langsung amblas ditelan lubang memeknya.

“Mbak.. Uugghh… sakit Mbak!” kataku.

“Biarin, rasakan pembalasan atas kekurang ajaranmu!” kata Mbak Iin sambil mulai bergoyang tidak beraturan. Teteknya yang besar bergoyang ke kanan dan kiri kayak mau jatuh. Aku nikmati pertunjukkan ini.

Mbak Iin seperti kesetanan. Aku rasakan meskipun badannya gemuk, kalau begini rasanya enteng,” Ran, jangan bego gitu, remas tetekku,” teriaknya gemas. Aku diam saja masak aku dikatakan bego?

“Kalau kamu kurang, rasakan ini!” kata Mbak Iin sambil menghentikan goyangannya. Terasa ada pijatan kuat yang menjepit batang kontolku, seolah-olah membetot dan menyedot spermaku. Dia melakukannya berulang-ulang hingga membuatku merintih dan menggelinjang keenakan.

“Mbak, enak banget… aku tidak takut!” teriakku tertahan. Segera kugapai gundukan payudaranya dan kuremas-remas dengan penuh nafsu.

“Gimana sedotan memeku Ran?” kata Mbak Iin sambil tersenyum.

“Enak banget Mbak, lagi dong!” pintaku sambil memilin-milin putingnya.

Mbak Iin langsung mengeluarkan jurus sedotannya yang bikin kontolku panas dingin tidak karuan. Aku nikmati sambil merem melek dan memenceti terus tonjolan buah dadanya berulang-ulang.

“Ran kamu kuat juga, biasa Mas Herman kalau aku ginikan langsung muncrat,” puji Mbak Iin.

“Darah muda Mbak,” sahutku.

“Ran, ayo goyang. Mbak sudah mau sampai, kita barengan lagi,” ajak Mbak Iin.

Tanpa diminta lagi, aku mainkan memek Mbak Iin. Kubalik tubuh sintalnya hingga dia sekarang berada di bawah, lalu aku hajar memeknya bertubi-tubi. Mbak Iin mengimbangi dengan memutar pinggulnya berlawanan arah dengan genjotan tubuhku. Kami terus melakukannya hingga akhirnya ada sesuatu yang mau mendesak keluar dari dalam batang kontolku.

“Mbak, aku mau nyampai. Siram dong kontolku!” kataku sambil balik lagi telentang, Mbak Iin kembali berada di atas tubuhku. Dia tanpa kompromi langsung menggoyang, dan aku mengikutinya. Hingga akhirnya..

“Ran, Mbak mau keluar!” teriak Mbak Iin.

“Aku juga… barengan Mbak!” kataku menyahut.

Kuikuti goyangan Mbak Iin sambil menyodok memeknya semakin dalam saat sesuatu yang basah dan hangat menyembur keluar, mengguyur kontolku hingga terasa semakin licin dan lengket.

“Aku keluar Ran.. aaaarrgghhh…..” teriak Mbak Iin tertahan. Tubuh sintalnya terkejang-kejang seiring semprotan cairan dari dalam lubang memeknya.

Aku yang juga sudah di ujung orgasme, langsung membalik dan mengenjotnya tanpa ampun dan baru berhenti saat spermaku yang kentali menyembur untuk kedua kali di dalam memek Mbak Iiin.

Kami berdua roboh berpelukan. Karena kecapekan dan kepuasan, aku tertidur di atas tubuh montok Mbak Iin dengan kontol tetap menancap di lubang memeknya. Setengah jam kami tidak sadar. Kami terbangun bersamaan saat merasakan kontolku menciut dan akhirnya lepas dengan sendirinya. Aku terlentang seperti tidak ada tenaga.

“Ran mau lagi?” tawar Mbak Iin sambil tersenyum.

“Siap Mbak, sampai pagi pun siap!” katkau mantap.

“Uhh.. maunya! Sana kamu pulang, sudah jam satu. Nanti malah ketahuan ronda kampung malah repot.” suruh Mbak Iin sambil mengecup pipiku.

“Sekali lagi Mbak. Plizz… ” pintaku memelas.

“Besok saja Mbak kasih lagi, sekarang pulanglah!” kata Mbak sambil berdiri dan keluar dari kamar.

Akhirnya aku menurut, terlihat Mbak Iin memunguti baju dan celanaku dan menyuruhku untuk memakainya, sementara dia masih tetap telanjang. Aku pakai bajuku dan duduk sambil beristirahat melihat Mbak Iin yang masih telanjang mengambil minum untukku.

“Ini, minum dulu biar kuat sampai rumah,” perintahnya sambil duduk di sebelahku dan tetap telanjang.

“Rumahku kan di sebelah Mbak. Pacarku Mbak Iin,” kataku bercanda.

“Ran, Mbak minta ini jadi rahasia kita berdua,” kata Mbak Iin.

“Iya Mbak,” sahutku.

“Kamu bisa minta kapan pun, asalkan pas suamiku tidak ada,” kata Mbak Iin lagi.

“Kamu boleh menikmati tubuhku, bibirku, tetekku dan memekku, semuanya untukmu… Tapi ingat, jangan mencintai aku. Hatiku hanya untuk Mas Herman!” sambungnya penuh nasehat.

“Berarti ini hanya untuk nafsu saja Mbak?” tanyaku.

“Ya begitulah. Kita sama-sama puas. Kamu bisa belajar dariku, tapi jangan sampai hal ini membuatmu gagal kuliah, Mbak akan sangat kecewa,” kata Mbak Iin.

“Ok guruku yang binal dan bahenol,” jawabku bergurau.

“Sekarang pulang sana, brondongku. Besok tak kasih lagi jepitanku,” suruh Mbak Iin.

“Pulang dulu ya, tante girang. Besok kusobek-sobek memekmu,” kataku sambil berdiri.

Dengan berat hati, aku pergi meninggalkan Mbak Iin. Aku masuk lewat jendela dan langsung menuju kamar. Aku berusaha tidur sambil menyesali hilangnya perjakaku. Tapi memang benar-benar luar biasa ena memek tembem Mbak Iin.

Aku bangun kesiangan dan langsung ke kampus dengan semangat akibat motivasi dari Mbak Iin. Aku tidak mau mengecewakan orang tua dan Mbak Iin. Selama tiga hari berikutnya, aku setiap malam ke rumah Mbak Iin, tetapi dia selalu menanyakan tugasku sudah selesai belum. Kalau sudah selesai baru kita cari kepuasan. Sudah banyak cara dan gaya yang Mbak Iin ajarkan, dan aku merasa menjadi lelaki kuat. Tapi aku tetap tidak berani macam-macam kalau Mbak Iin tidak meminta.

Hari pertama berikutnya, tepat jam sepuluh malam aku datang. Seperti biasa kita ngobrol sebentar baru kemudian mulai ngentot. Tapi Mbak Iin minta situasi gelap, jadi kita melakukannya di kamar tanpa ada cahaya sedikitpun. Malam itu, seperti biasa dua kali kita keluar berbarengan.

Hari kedua aku sengaja datang agak cepat, jam setengah sepuluh. Aku langsung masuk ke rumahnya dan terdengar suara gemericik air di kamar mandi. Kelihatannya Mbak Iin baru mandi. Pintu kamar mandi tidak tertutup sehingga aku dapat melihat Mbak Iin yang sedang menggosok-gosok tubuh sintalnya dengan sabun. Aku langsung pengen mengentotnya, tapi tidak berani. Akhirnya aku ikut telanjang sambil berbicara, “Mbak boleh ikut mandi?”

“Hei, ngapain kamu?” teriak Mbak Iin kaget saat aku membuka pintu kamar mandi.

“Kalau mandi ya ditutup dong pintunya!” aku membela diri.

Mbak Iin tersenyum menyadari keteledorannya, “Sini Ran, mandi sekalian,” undangnya.

Kami pun mandi bareng sambil saling usap, saling remas dan saling belai hingga akhirnya kami pun tidak tahan. Dengan posisi doggy-style, kuentot tubuh mulus Mbak Iin. Dia menungging sambil berpegangan di dinding kamar mandi, sementara aku dari arah belakang menusukknya bertubi-tubi. Ternyata enak sekali, aku bisa remas tetek Mbak Iin yang menggantung indah dan bisa kulihat wajah cantiknya lewat kaca yang cukup besar di kamar mandi, rasanya jadi tambah hot.

Malam yang dingin itu jadi panas penuh gairah oleh nafsu kami berdua. Aku dan Mbak Iin keluar bersamaan waktu doggy style. Dan setelah itu kita mandi lagi sebelum coba posisi 69 setelah berpindah ke depan TV. Memang setelah mandi ada rasa yang lain karena memek Mbak Iin jadi lebih harum, aku semprotkan spermaku di mulut Mbak Iin, sementara memek Mbak Iin banjir di mulutku. Sebelum pulang, kami lakukan posisi normal, aku di atas dan Mbak Iin di bawah, tapi terasa lebih enak. Malam kitu aku sama sekali tidak melihat Mbak Iin pakai baju. Setelah puas mengentotinya aku pun pulang.

Malam ketiga merupakan malam terakhir sebelum kepulangan Mas Herman. Sengaja agak malam aku datang, sekitar jam sebelas dan Mbak Iin kelihatan sudah menungguku. Sebelum aku sampai, dia sudah membukakan pintu. Dengan kesal Mbak Iin berkata, “Jadi kering nih memekku, Reza apa sudah bosen?”

“Maaf Mbak, ada tugas kuliah yang harus kukerjakan,” alasanku biar Mbak Iin tidak marah.

“Ya sudah, tapi malam ini harus temani Mbak sampai pagi,” pintanya sambil membuka baju dan jilbabnya.

“Oke Mbak siapa takut?” jawabku mantap.

Malam itu kita ngentot di ruang tengah, diawali dengan melihat Film Bokep koleksi Mbak Iin dan kita ikuti semua gaya yang dicontohkan disitu, kecuali anal, memang aku tidak suka dan Mbak Iin juga tidak mau terlalu jorok katanya.

Setelah selesai, Mbak Iin berkata, “Ran, aku curiga, salah satu dari kami mandul. Kalau aku subur, aku harap aku bisa hamil dari spermamu. Nanti kalau jadi aku kasih tahu.”

“Tapi Mbak, aku belum siap jadi bapak,” tanyaku agak cemas.

“Yang tahu bapaknya siapa kan hanya aku sendiri, dengan siapa aku membuat anak,” katanya sambil mencubitku.

“Mbak, malam ini terakhir bagiku ya?” tanyaku.

“Jangan khawatir Ran. Ingat, tubuh Mbak kan milikmu, jadi memek Mbak tetap kangen sama kontolmu,” jawab Mbak Iin mesra.

“Lah Mas Herman gimana?” tanyaku lebih berharap.

“Kalau Mas Herman lagi dirumah, aku milik Mas Herman. Tapi kalau pas dia lagi jalan, memek gatelku ini bisa kamu sodok,” kata Mbak iin sambil memegang memeknya.

“Kalau perlu Mbak dipakai bareng-bareng juga kuat kok,” candanya.

“Satu lubang rame-rame ya Mbak.” balasku.

“Ya tidak begitu, kan cuma dua, kamu mulut, Mas Herman memek, nanti gantian,” jawab Mbak Iin genit.

Setelah itu kita ngentot lagi, kali ini kami melakukannya di kamar Mbak Iin. Setelah tiga kali orgasme, sebelum pulang aku sempatkan sodok memek Mbak Iin sekali lagi saat dia mengantarku ke pintu. Tapi kubuat tidak sampai keluar supaya dia ketagihan. Aku semprotkan sperma terakhir malam itu di belahan payudaranya. Setelah itu, aku langsung buka pintu dan pergi meninggalkan Mbak Iin yang masih menggantung sambil tersenyum penuh kemenangan.

“Lanjutin pakai tangan dulu ya Mbak,” kataku.

“Kurang ajar kamu Ran!” umpat Mbak Iin.

Aku pun pulang dan masuk rumah lewat jendela seperti biasa. Baru juga mau tidur, tapi kok ayamnya sudah berkokok ya? Ketika kulihat jam, ternyata sudah pukul empat pagi. Pantes saja!

Hari-hari berikutnya selama dua minggu Mas Herman berada di rumah karena masih belum boleh nyetirm masih masa pemulihan katanya. Aku jadinya blingsatan tidak karuan, apa lagi ketika ketemu Mbak  Iin. Kadang kulihat dia lagi bermesraan di rumah dengan Mas Herman atau malah kadang-kadang Mbak Iin seperti sengaja memamerkan tubuhnya yang polos ketika habis mandi waktu aku sedang bermain catur dengan suaminya. Mbak Iin mengejekku sambil menjulurkan lidahnya. Sering dia meremas-remas teteknya sendiri saat aku meliriknya, itu dia lakukan ketika Mas Herman tidak melihat atau lagi di luar rumah.

Aah, dasar, awas Mbak, tunggu pembalasanku!

Setelah Mas Herman di rumah, memang aku seperti duda dan kembali ke kebiasaan lama yaitu onani, tetapi kadang aku membayangkan ngentot dengan cewek atau artis tapi ujung-ujungnya yang terbayang kebahenolan Mbak Iin, ditambah setiap hari ketemu entah dalam pakaian komplit maupun terbuka ataupun membukakan diri. Dan koleksi Film Bokepku sekarang kebanyakan wanita-wanita dengan tetek besar.

Kuingat hari itu hari kamis, aku pulang dari kuliah sampai sore. Mbak Iin datang ke rumah, ngomong kalau aku dicari Mas Herman, ada yang perlu diomongkan. Hatiku was-was apa Mas Herman tahu apa yang kami perbuat? Akhirnya setelah aku mandi, aku datang ke rumah Mas Herman. Kulihat Mas Herman duduk santai di meja tamu, dengan hati-hati aku menyapanya, “Ada apa Mas, kok mencariku?” kataku dengan was-was.

“Anu Ran, cuma tanya, kamu ada acara tidak malam ini?” tanya Mas Herman.

“Tidak Mas,” jawabku agak canggung.

“Ini kan malam jumat, aku mau ajak kamu ritual di Umbul Kendat, Pengging. Itupun kalau kamu mau, sekalian kamu nanti nemani Mbakmu,” ajak Mas Herman.

“Iya Mas. Aku besok libur kok. Ngapain ritual segala Mas?” kataku.

“Gini loh Ran, aku kan baru lepas dari cobaan kemarin dan besok minggu depan aku harus nyetir lagi. Supaya aku lancar dikemudian hari maka harus ritual,” jelas Mas Herman.

“Kalau kamu mau, boleh sekalian ikut kungkum sekalian minta apa yang kamu ingkan,” sambungnya.

“Iya Mas, sekalian aku nanti minta cepat lulus dan cepat dapat istri cantik dan bahenol kaya Mbak Iin, hahaha…” jawabku keceplosan karena kebetulan lihat Mbak Iin keluar dari kamar.

“Kamu bisa saja Ran. Mau ikut Mas Herman?” tanya Mbak Iin.

“Ya itu Ranm Mbakmu itu kalau tidak ajak tidak mau, alasannya takut. Gimana Ma kalau Wiran ikut, Mama mau tidak?” tanya Mas Herman.

“Oke Pa. Kalau gitu kan aku jadi ada temannya. Sekalian aku nanti minta biar kita cepat dapat momongan,” jawab Mbak Iin.

“Kalau semua mau gini Ran, nanti jam sembilan kita berangkat naik motor,” ajak Mas Herman.

“Nanti prosesnya gimana Mas?” tanyaku.

“Pokoknya nanti kamu ikut aku. Kalau misalnya tidak kuat, kamu naik. Nanti setelah aku hampir selesai nanti tak panggil,” jelas Mas Herman.

“Nanti bawa apa?” tanyaku penasaran meskipun aku kurang percaya hal-hal tersebut, tapi yang penting bisa bersama Mbak Iin.

“Bawa badan sehat saja Ran. Nanti semua sesaji dan yang lain aku persiapkan,” kata Mas Herman.

“Iya Mas. Aku pamit dulu, nanti kalau Mas berangkat, aku susul tapi tunggu dipertigaan,” kataku.

“Kebetulan Ran, kamu tunggu di rumah dulu, ada yang perlu dikerjakan sama Mas Herman untuk malam jumat,” kata Mbak Iin memancing.

“Apa Mbak, aku kok tidak tahu,” tanyaku.

“Mbakmu bisa saja Ran. Biasa, proses membuat momongan,” kata Mas Herman.

Aku langsung tertawa iri membayangkan Mbak Iin sama Mas Herman akan bercumbu. “Oo.. aku baru tahu, monggo. Aku pulang dulu,” kataku sambil pamit.

Aku langsung pulang dan masuk kamar, terlihat rumah Mas Herman langsung gelap, perkiraanku mereka langsung bertempur. Aku hanya bisa membayangkan dan berakhir dengan kenikmatan meskipun cuma onani. Aku terkapar beberapa menit kemudian, kulihat jam sembilan kurang seperempat, aku seketar mengguyut badan agar bugar lagi sekalian biar bersih. Motor Mas Herman sudah berderu, langsung aku keluar menyusul mereka.

Dipertigaan, mereka menungguku. Terlihat Mbak Iin membawa tas lumayan besar dan sebuah sumber air kira-kira 10m persegi, penerangan hanya dari sinar bulan yang kebetulan sedang purnama. Aku sebenarnya tidak percaya tahayul, tapi karena diajak, aku mau juga.

“Ran, ini Umbul Kendat yang sering aku kunjungi,” terang Mas Herman.

“Kok sepi Mas?” tanyaku sedikit gimana.

“Sini ramainya kalau sore. Jam segini kebanyak orang ke Pengging, tapi aku lebih senang di sini, lebih khusuk. Kamu ikut saja aku,” terang Mas Herman. “Nanyi kita ziarah dulu ke makam Kyai sambil minta apa yang kita inginkan, terus kita turun untuk kungkum, setelah itu kita bersihkan diri di pancuran itu,” jelasnya lagi.

“Tidak dingin Mas? Kalau aku ngak kuat gimana?” tanyaku.

“Gini Ranm nanti kamu sama Mbakmu ikut saja aku. Tapi waktu kungkum, aku biasa satu setengah jam. Kalau kamu tidak kuat, mungkin baru pertama, ya nanti naik dulu. Baru kalau aku sudah selesai, kamu ikut di pancuran,” jelas Mas Herman.

Mas Herman menyuruh Mbak Iin mengelar tikar dan mengeluarkan sesaji yang kita perlukan. Mbak Iin mengeluarkan handuk besar dan sarung tiga buah. Sesuai perintah Mas Herman, aku hanya mengikuti saja. Pertama kita melepas jaket, Mas Herman melepas kaos lalu memakai sarung kemudian melepas celana dan celana dalamnya dan memberikannya kepada Mbak Iin untuk dilipat. Aku hanya mengikuti tapi melipat sendiri bajuku, sambil melihat Mbak Iin melepas bajunya.

Pertama dia melepas jilbabnya, lalu mengalungkan sarung menghadap ke arah yang berlawanan. Dia mengangkat bajunya dan melepas BH-nya, kemudian menurunkan sarung untuk menutupi teteknya yang montok. Disusl melepas celana dan celana dalam sambil sedikit menggodaku dengan memperlihatkan bokongnya yang bahenol sambil tersenyum sedikit. Aku nikmati pertunjukkan itu dan tahu-tahu kontolku bergerak.

Kita berjalan, pertama Mas Herman, kemudian Mbak Iin, terakhir aku. Mas Herman memberikan sesaji sambil berdoa, aku dan Mbak Iin hanya mengamini saja. Terlihat Mas Herman sangat suka melakukannya, tapi aku lebih sering melirik tetek Mbak Iin yang kelihatan seperti mau tumpah.

Setelah berdoa, kita turun untuk kungkum atau berendam. Mas Herman mengangkat sarungnya dan langsung masuk ke dalam kolam dan meletakkan sarungnya di tepian batu yang kering. Kulihat Mbak Iin mengangkat sarungnya sehingga dia bugil, terlihat teteknya bergoyang indah ke kanan dan kiri. Meskipun aku pernah merasakan dan melihat beda itu, tapi hari ini lain karena di ruang terbuka dan ditunggui suaminya. Aku hanya berani melirik, terlihat Mbak Iin sedikit berlama-lama seperti mau memamerkannya kepadaku. Aku yang tidak kuat, langsung ikut masuk air untuk meredamkan nafsuku yang suidah di ubun-ubun.

Kolam itu ternyata lumayan dalam, aku dan Mas Herman sampai dada, Mbak Iin teteknya terendam sebatas air. Karena posisi Mas Herman sebagai petunjuk, maka dia akan di depan, aku dan Mbak Iin berdampingan di belakang. Dengan sungguh-sungguh kita berendam tnapa bersuara sedikitpun, utamanya Mas Herman. Tapi nafsuku mengalahkan semuanya. Bayangkan disampingku ada wanita telanjang yang selalu aku pengen ngentot, tapi suaminya berada didepanku.

Aku lirik Mbak Iin dengan hati-hati aku pegang dan remas tanganya. Di luar dugaan, Mbak Iin membalas meremasku. Beberapa saat kita saling remas, akhirnya Mbak Iin melepaskan tangannya sambil menoleh ke arahku dan tersenyum sangat manis. Ingin aku lumat bibirnya, tapi masih kutahan. Tidak kusangka Mbak Iin malah langsung memegang kontolku yang sudah setengah berdiri, otomatis kontolku itu langsung berdiri total karenanya. Aku hanya merem melek menikmati elusannya dan tidak tahan akhirnya tanganku memegang memeknya, kukocok dengan pelan.

Tidak terasa kita benar-benar horny. Mbak Iin menoleh ke arahku sambil mengedipkan matanya, memberi isyarat. Lalu dia menepuk Mas Herman dan ijin untuk naik duluan. Dengan tubuh telanjang, Mbak Iin naik sambil membawa sarung tanpa memakainya. Dia berjalan ke arah tikar tempat kita duduk tadi. Aku tidak konsentrasi pengen menyusul Mbak Iin, tapi masih ragu. Dalam keraguan itu, kulihat Mbak Iin menyuruhku naik dengan israyat tangan sambil memegang teteknya.

Tanpa kompromo, aku tepuk punggung Mas Herman dengan hati-hati. Mas Herman hanya mengangguk menyetujui. Aku langsung naik menyusul Mbak Iin dengan telanjang. Terlihat Mbak Iin masih telanjang, kita geser tikar deikit ke belakang batu supaya tidak terlihat oleh Mas Herman. Aku yang sudah tidak tahan langsung memeluk tubuh montok Mbak Iin dengan penuh nafsu. Mbak Iin membalasnya, menyadari situasi yang mendesak, Mbak Iis lekas merebahkan badannya. Dalam posisi mengangkang memperlihatkan memeknya, dia siap kueksekusi. Tanpa perlu diminta, aku langsung menubruknya, kutindih tubuh mulusnya. Terasa hangat badan Mbak Iin di suasana yang dingin itu.

“Mbak aku pengen. Mbak tidak takut?” bisikku.

“Aku takut kalau ada ular,” jawab Mbak Iin.

“Kalau ular ini gimana Mbak?” kataku sambil mengarahkan kontolku ke belahan memeknya.

“Ran.. Oohh.. aku rindu dengan ularmu. Cepat masukkan ke sarangku,” perintah Mbak Iin.

Tanpa kompromi, dengan tekanan yang kuat kumasukan kontolku ke lubang memeknya. Terasa mudah karena memang sudah sangat basah. “Aduhh.. Ran.. jangan kasar-kasar. memekku bisa rusak.” bisik Mbak Iin.

“Salah sendiri, aku ngak pernah dikasih,” jawabku sambil kugenjot memeknya tanpa ampun.

Mbak Iin menikmatinya sambil menggoyang pinggulnya. Kita nikmati persetubuhan terlarang ini tanpa perduli orang atau Mas Herman melihat, yang penting kami berdua bisa puas. Terdengar nafas kami yang berpacu dengan nafsu. Tidak berapa lama, terlihat Mbak Iin mulai mengejang dan akupun sudah hampir sampai.

“Mbak, aku mau keluar.” bisikku.

“Aku juga Ran. Kita barengan siram memekku!” teriaknya tertahan.

Kugenhot pinggulku tanpa aturan, hingga akhirnya diiringi teriakan yang tertahan. Aku dan Mbak Iin keluar secara bersamaan dengan posisi kontolku terbenam sempurna di dalam memeknya. Aku tahan terus sambil merasakan sisa-sisa kenikmatan yang masih menjalar. Setelah beberapa saat, baru kita mengatur nafas. Menyadari situasi, kita langsung melihat Mas Herman.

Terlihat Mas Herman masih berdoa dengan kungkumnya. Kulihat jam yang ada di tas, menujukkan pukul setengah sebelas. Aku dan Mbak Iin kemudian duduk, masih dalam kondisi tubuh telanjang. Bayangkan saja, duduk di alam terbuka dengan badan polos tanpa ada yang melekat di tubuh kami masing-masing, dimana suami Mbak Iin berada sekitar beberapa meter di depan, benar-benar memberi sensasi tersendiri.

“Ran, kamu kok kaya orang kesetanan pas ngentot aku?” tanya Mbak Iin sambil mempermainkan burungku.

“Maaf Mbak, sudah dua minggu ngak ngentot nih,” jawabku, kubalas dengan remasan-remasan bulatan payudaranya.

“Masak main langsung sodok aja tanpa permisi, jadi sakit nih memekku disodok kontolmu yang besar ini,” kata Mbak Iin.

“Mbak tidak takut ketahuan Mas Herman?” kataku agak was-was.

“Ya takut sih, tapi ngak masalah, Mas Herman kalau sudah kungkum tidak peduli siapapun, paling-paling tengah malam baru selesai,” jawab Mbak Iin.

“Mbak, katanya memeknya sakit, mungkin lecet, coba kulihat,” kataku penuh nafsu.

“Ngak usah Ran, kan gelap. Apa kelihatan?” kata Mbak Iin sambil mengangkang sehingga memeknya terhidang di depanku.

“Coba Mbak tak lihat,” kataku sambil mendekatkan mukaku ke memeknya. Tanganku meraba memeknya dan membukanya sedikit, tapi bukannya mataku yang kudekatkan, malah mulutku langsung mencium memeknya dan lidahku langsung menari di itilnya.

“Mbak Iin hanya menahan rintihan sambil berkata, “Enak Ran… Mbak jadi pengen lagi.”

“Katanya perih kok minta lagi? Kan sudah dua kontol yang masuk sejak tadi sore!” kataku.

“Tapi aku pengen kontolmu yang besar ini Ran,” kata Mbak Iin sambil mencari kontolku.

 Tanpa permisi dia langsung membalik tubuhku dengan posisi 69, kontolku langsung dimasukkan ke mulutnya, tanpa jijik Mbak Iin mengulum dan menjilatnya. Aku lebih semangat lagi menyedot dan mempermainkan memeknya. Beberapa saat kita dalam posisi 69.

“Ran, kita masih punya waktu, cumbui aku dulu,” kata Mbak Iin sambil telentang.

Melihat tubuh yang montok dan bahenol itu, aku hanya bisa mengangguk. Langsung aku lumat bibir Mbak Iin tanpa ampun. Mbak Iin mengimbanginya dengan menyedot mulutku kuat-kuat.

“Ran, kamu tidak kangen tetek Mbak?” kata Mbak Iin sambil memamerkan teteknya yang super montok itu. Meskipun hanya diterangi sinar bulan, tapi terlihat lebih menggairahkan.

Tanpa diminta dua kali, segera aku remas benda favoritku itu. Karena memang besar sehingga perlu dua tangan untuk memainkannya secara bergantian. Aku yang sudah tidak tahan langsung melumat putingnya dengan mulutku dan menyedotnya dengan sekuat tenaga. Tidak bosan-bosan aku memainkan tetek itu, Mbak Iin terlihat menikmatinya, perlahan nafasnya mulai berpacu dan menjadi berat. Menyadari itu segera aku sudahi permainan tetek. Aku mau langsung ngentoti tubuh molek Mbak Iin. Tapi Mbak Iin malah berdiri sambil melihat situasi.

“Ran, entoti Mbak dari belakang,” perintahnya.

“Oke Mbak,” jawabku sambil mengikuti berdiri.

Mbak iin langsung membungkukkan badannya sambil menahan tangannya di batu, terlihat teteknya menggantung dengan indahnya dan memeknya terlihat jelas dari belakang karena kakinya dikangkangkan lebar. Aku berdiri dibelakang Mbak Iin karena posisiku berdiri maka aku dapat melihat dengan jelas Mas Herman yang masih asyik kungkum. Aku tidak peduli itu, malah aku merasa lebih aman karena bisa ngentoti istrinya dengan lebih bebas.

“Ran, cepat entoti Mbak,” kata Mbak Iin sambil mencari kontolku. Diarahkan kontolku ke lubang memeknya yang tembem. Dengan sekali sodokan, kontolku sudah amblas menerobos memeknya.

Kupompa memek Mbak Iin sambil sesekali meremas teteknya yang menggantung kaya melon. Mbak Iin hanya menahan teriakannya, takut didengar oleh Mas Herman. Aku waspada melihat Mas Herman. Aku sempat berpikir, kalau Mas Herman sampai tahu perbuatan kami, akan aku suruh pegangin tetek istrinya biar aku ngentotnya lebih enak. Aku tarik tubuh Mbak Iin agak berdiri sehingga dapat melihat suaminya yang sedang berdoa.

Ada sensasi tersendiri kita ngentot di belakang suaminya, di alam terbuka lagi. Mbak Iin kelihatan tamba bergairah. Karena posisiku kurang nyaman untuk menuntaskannya, maka Mbak Iin langsung mendorongku untuk rebahan. Tanpa ampun dimasukkannya kontolku ke memeknya, dan langsung digoyang sehingga teteknya bergerak ke nanan dan kiri tanpa aturan.

Melihat itu, aku langsung meremasnya, Mbak Iin tampak akan keluar begitu juga denganku. Akhirnyta terasa kejang di memeknya dan ada cairan yang banyak mengguyut kontolku yang sudha di ujung orgasme. Hanya selisih beberapa detik, aku semprotkan spermaku di rahimnya. Mbak Iin langsung ambruk di tubuhku dengan kontolku tetap menancap di memeknya. Kita mengatur nafas, kemudian bangkit dan terus duduk berdampingan lagi.

“Ran, Mbak puas banget malam ini,” kata Mbak Iin.

“Iya Mbak, aku juga sama. Kok tadi tambah nafsu begitu lihat Mas Herman?” tanyaku.

“Entahlah Ran. Seperti ada perasaan aneh ketika kita ngentot di depan Mas Herman,” kata Mbak Iin.

“Kan Mbak tadi sudah sama Mas Herman,” kataku.

“Mbak pengen dientoti dua orang Ran. Kelihatannya enak banget ya?” kata Mbak Iin.

“Apa Mbak kuat menerima kontolku dan kontol Mas Herman?” tanyaku.

“Siapa takut. Tunggu waktunya Ran,” jawab Mbak Iin penuh teka-teki.

Kita ngobrol sebentar, terus Mbak Iin berjalan ke kolam untuk menyusul suaminya. Aku disuruh nanti supaya Mas Herman tidak curiga. Dengan langkah gontai, Mbak Iin berjalan menyusul suaminya dengan menggunakan sarung, dan masuk ke air untuk membersihkan memeknya yang habis kuhajar. Mereka berendam sebentar, kelihatan Mas Herman sudah mau selesai. Dia melihat kanan kiri mencariku, kemudian memanggilku saat sudah melihatku. Aku yang pura-pura tidur langsung ikut masuk kolam dengan lemas, pura-pura kelihatan baru bangun.

Proses kungkum sudah selesai, terakhir kita mandi di pancuran dengan telanjang. Mas Herman menutup kontolnya dengan tangan, aku mengikutinya. Terlihat Mbak Iin mau pakai sarung, tapi oleh Mas Herman dilarang, disuruh menutup memek dan teteknya dengan tangan. Kebetulan pancuran ada tiga, aku paling kiri membelakangi mereka, Mas Herman di tengah menghadap Mbak Iin, sedangkan Mbak Iin di kanan membelakangi kami berdua. Aku tidak berani meliriknya, setelah bersih, kiita naik. Aku mendahului untuk ganti baju. Terlihat Mas Herman horny memeluk istrinya. Aku hanya bisa melihat dari jauh tapi hanya sebatas itu. Kemudian mereka naik ke atas untuk berganti baju. Kita duduk sebentar, Mbak Iin menuangkan kopi yang dibawa dari rumah dengan termos. Kita minum sambil ngobrol.

“Ran, kamu kalau pengen berhasil permintaanmu harus kuat, jangan tidur saja,” kata Mas Herman.

“Iya Mas. Besok aku tahan lebih lama,” kataku sambil melirik Mbak Iin yang sudah berpakaian lengkap.

“Masak diajak tirakat malah tidur?” sambung Mbak Iin untuk menutupi perbuatan kami. Aku hanya tertawa menanggapinya, “Gimana Mas, sudah siap untuk keluar kota?” tanya Mbak Iin pada Mas Herman.

“Sudah, Mas kalau habis dari sini jadi mantap. Mama sendiri gimana, sudah siap hamil?” canda Mas Herman.

“Ya tergantung semprotannya Papam pas apa tidak?” canda Mbak Iin.

“Beres itu, nanti sampai rumah tak semprot lagi, biar ini segera isi,” kata Mas Herman sambil mengelus perut istrinya.

“Ih malu Pa. Ada Wiran, mosok tadi berangkat minta, pulang minta lagi?” kata Mbak Iin munafik.

“Namanya suami istri, ya ngak apa-apa dong, biar cepat jadi. Kan tadi sudah minta ke Kyai, kalau semprotannya Papa kurang pas, nanti biar dibantu Wiran… Hahaha..” canda Mas Herman.

Aku dan Mbak Iin langsung kaget. Wajahku langsung terlihat pucat, tapi karena gelap jadi tidak terlihat jelas.

“Gimana Ran, mau nyemprot Mbakmu tidak?” tanya Mas Herman sambil tertawa terbahak-bahak.

“Papa! Masak istrinya ditawarkan? Kasihan itu Wiran jadi bingung,” elak Mbak Iin.

Aku hanya tersenyum kecut. Dalam hati aku berkata, sudah berulang kali memek istrimu kusemprot Mas! Kita langsung beres-beres mau pulang, tapi Mas Herman merasa ada sesaji yang tertinggal di makan. Dia pergi untuk mengambilnya.

“Apa tidak rusak tuh memek dipakai terus?” candaku kepada Mbak Iin waktu Mas Herman pergi.

“Ini kan bukan buatan Jepang, setelah mandi juga jadi bagus lagi,” kata Mbak Iin.

“Mbak tidak capek, digarap terus semalaman?” tanyaku.

“Untuk itu tidak ada capeknya Ran. Kan Mas Herman baru sekali, biar dia tidak curiga,” jawabnya.

“Apa nanti tidak longgar, kan habis disodok kontol yang lebih besar?” tanyaku.

“Kan sudah direndam, jadinya normal lagi. Bisa jepit kuat, mau coba?” canda Mbak Iin.

Terlihat Mas Herman sudah kembali berjalan ke arah kami.

“Mbak terima kasih hadiahnya, ngentot outdor penuh sensasi,” katak.

“Ran, kamu pengen hadiah yang lain? Tunggu saja nanti. Malam ini aku milik Mas Herman, tapi besok, dua malam memekku milikmu sepenuhnya karena Mas Herman sudah mulai keluar kota,” kata Mbak Iin.

“Iya Mbak, gigolomu ini siap untuk tante girangku,” candaku.

“Besok malam kutunggu semprotanmu biar mengisi rahimku Ran,” pesan Mbak Iin.

Mas Herman datang, kita langsung pulang. Aku duluan sampai rumah, baru setelah aku masuk kamar, kulihat mereka datang, kuintip dari jendela kamarku. Terlihat Mas Herman memasukkan motornya. Tidak sadar atau memang sengaja, Mbak Iin membuka jendelanya sehingga dari kamarku dapat terlihat jelas apa yang dilakukan orang yang di dalam. Terlihat Mbak Iin membuka bajunya hingga telanjang bulat, tahu-tahu Mas Herman masuk juga sudah dalam posisi telanjang. Langsung dia melumat bibir Mbak Iin dan menggerayangi tetek Mbak Iin yang besar sambil berdiri. Aku sudah akan onani sambil menonton saat kemudian mereka tidak terlihat, mungkin Mbak Iin sudah terbaring ngangkang dientoti oleh Mas Herman.

Dalam kegundahanku, aku berbicara sendiri, “Itu memek kok ngak ada matinya? Tunggu Mbak, nesok gantian kupakai.” Akupun merebahkan diri dan tidur sampai siang. Esoknya Mas Herman sudah mulai menyupir truk lagi ke Surabaya, berarti perlu dua malam. Senangnya, jadi ada memek nganggur dua malam ke depan siap kusemprot.

Aku bangun dari tidur setelah ritual yang melelahkan karena kenikmatan. Aku makan siang, terus buka buku kuliahku kalau-kalau ada tugas. Aku ingat bahwa ada tugas yang belum aku kerjakan. Dengan terpaksa aku berangkat ke kost temanku untuk kerjakan tugas yang terlupakan. Setelah sampai kost, ternyata teman-temanku sudah ngumpul, sudah mengerjakan tugas yang cukup menyita waktu itu. Aku langsung nimbrung ngerjakan tugas dengan semangat, jangan sampai aku tidak berhasil gara-gara memek Mbak Iin. Aku lupakan dulu semua, karena Mbak Iin pun mungkin akan menerima alasanku tidak nyodok memeknya. Sampai tengah malam, aku baru selesai. Akhirnya aku tertidur kelelahan di rumah temanku sampai pagi.

— S E L E S A I —

Jangan lupa di share ya Cerita Sex Aku Garap Istri Tetangga yang Seksi 2 … Dibaca juga kisah Cerita Sex Ngentoti Tante Sexy Di Rumah Sakit …. Dan nantikan cerita-cerita yang lebih horny dan sange dari kami www.ceritapv.com selanjutnya. Cerita Sex Sedarah 2018

2 thoughts on “Cerita Sex Aku Garap Istri Tetangga yang Seksi 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: