REJEKIPOKER
PERKASA99
BADUTQQ
GADISQQ
BABEQQ
KEPOQQ
BUNGAQQ
TATOQ
BAJUPOKER
SEHATPOKER

Cerita Sex 2018 Ibu Kost STW Haus Akan Belaian

Kumpulan Cerita Sex dan Sange 2018 – Cerita Penis Vagina adalah cerita sex panas terbaru 2018 dengan Cerita Sex 2018 Ibu Kost STW Haus Akan Belaian. Situs ini dikhususkan untuk orang dewasa saja yang berisikan cerita-cerita seru dan terlengkap untuk usia 18 tahun keatas yang dapat meningkatkan nafsu birahi jika ingin mastrubasi atau bersetubuh dengan lawan jenis anda. Selamat membaca.

Kuliah adalah masa-masa dimana sangat menyenangkan bagiku. Dimasa itulah aku seolah menemukan jati diriku yang sebenarnya, mendapatkan kesempatan bereskpresi, serta memiliki pengalaman indah di dalam soal asmara. Sebagai seorang mahasiswa fakultas teknik, penampilanku tentunya tidaklah terlalu rapi kecuali aku memiliki badan yang cukup bagus karena tergabung di dalam club basket di kampus.

Bukannya sombong tapi tidak sedikit gadis yang menaruh perhatiannya kepadaku. Namun memang dasarnya aku ini adalah seorang yang terlalu polos, maka perhatian mereka pun hanya aku anggap sebagai hal yang biasa dalam hubungan pertemanan. Yang tidak aku duga adalah bahwa aku mendapatkan pengalaman pertamaku justru bukan dengan teman sebayaku, melainkan Ibu kosku.

Cerita ini berawal ketika aku mulai menginjakkan kaki di kota ini untuk menuntun ilmu. Jauh dari orang tua membuatku harus mandiri serta melatihku untuk menjadi sosok pribadi yang lebih dewasa. Seperti biasa, hal yang dilakukan mahasiswa baru adalah mencari kos-kosan. Setelah beberapa hari melakukan survei dan berjalan dari komplek ke komplek, akhirnya aku menjatuhkan pilihan pada sebuah rumah. Rumah itu tidak terlalu besar dan sebenarnya lebih patut disebut sebagai rumah tinggal biasa. Namun papan di depan rumah itu mengatakan kalau rumah ini menerima kos pria.

“Permisi, apakah ada orang di rumah?” seruku di luar pagar.

“Ya ada apa Mas?” munculah seorang laki-laki yang kira-kira berumur 40 an dengan wajah ramah dan murah senyum sambil membuka pagar.

“Maaf Pak. Apakah masih ada kamar kosong untuk kos-kosan?” tanyaku.

“Oh, ada Mas. Mari silahkan masuk kalau ingin melihat-lihat dulu,” jawabnya sambil masih memasang muka ramah dan penuh senyum. Ciri khas orang jawa sekali.

Akhirnya aku pun masuk ke dalam rumah itu sambil melihat-lihat kondisinya. Rumah itu memang rumah tinggal biasa, hanya saja dalamnya telah dibuat sekat yang memisahkan antara rumah induk dengan kamar-kamar yang dikoskan. Kamar mandi pun sudah terpisah antara penghuni rumah dan penghuni kos-kosan.

“Oh ya, nama bapak siapa ya?” aku bertanya.

“Saya Muklis Mas. Kalau Mas siapa namanya? Ngambil jurusan apa Mas?” laki-laki itu menjawab tanpa mengurangi sedikitpun keramahannya.

“Aku Sony Pak. Aku mengambil jurusan Elektronik. Sampai saat ini sudah berapa orang yang tinggal di sini Pak?”

“Mas ini adalah pelanggan pertama kami sejak rumah ini kami putuskan untuk dijadikan kos-kosan,” kata Pak Muklis sambil tersenyum lebar seraya menepuk-nepuk pundakku.

“Wah, suatu kehormatan bagiku nih Pak.”

Tiba-tiba dari salah satu kamar muncul seorang wanita yang berkulit putih, dengan rambut digelung ke atas sehingga memperlihatkan lehernya yang ditumbuhi rambut halus dan aku yakin akan membuat jakun setiap pria yang melihatnya naik turun. Dia mengenakan daster batik yang lumayan tipis sehingga bila terpapar sinar matahari akan memberikan bayangan yang cukup jelas akan lekuk tubuhnya yang masih padat berisi. Wajahnya manis dan sensual, mirip sekali dengan Shinta Bachir, seorang artis panas yang ngetop beberapa tahun belakangan ini.

“Mas, kenalkan ini istri saya, namanya Santi. Nanti untuk urusan administrasi silahkan ngobrol saja dengan dia. Biasa, kalau wanita biasanya lebih telaten dalam hal mengurus uang,” kata Pak Muklis membuyarkan lamunanku.

“Oh, i..iya Pak,” aku agak terkaget-kaget. “Kenalkan aku Sony, Bu,” aku pun langsung memperkenalkan diri sambil menjabat tangan putih dan halus mulus itu.

“Santi,” jawabnya singkat. Namun entah karena kepercayan diriku atau hanya perasaanku saja, dia memberikan senyuman yang mengandung arti. Semacam isyarat. Tapi, ah mungkin itu hanya khayalanku saja.

Singkat cerita, akhirnya aku pun tinggal di situ. Tidak lama setelah aku tinggal di situ, datang dua orang lagi yang tinggal di situ. Jadi total keseluruhan ada tiga orang yang tinggal di kosan tersebut. Yang satu adalah mahasiswa tingkat akhir yang sedang menyusun skripsi, sedangkan satunya lagi adalah seorang mahasiswi dari jurusan ekonomi, dan aku tidak tahu mengapa akhirnya mereka menerima kos-kosan wanita juga.

Bu Santi adalah orang yang baik dan ramah, hampir sama dengan suaminya. Pak Muklis sendiri adalah orang yang bekerja di pertambangan di Kalimantan, jadi praktis dia jarang sekali berada di rumah. Dia pulang sekitar dua minggu sekali. Dan ini berarti yang mengurus operasional kos-kosan adalah Bu Santi.

Terkadang melalui celah sekat pembatas tanpa sengaja aku melihat Bu Santi keluar dari kamar mandi hanya dengan berbalutkan handuk yang menutup dari dada sampai lututnya saja. Payudaranya yang masih cukup kencang itu seperti tertekan oleh balutan handuk, dan seperti berontak ingin keluar ketika dia berjalan menuju kamarnya. Tubuhnya yang masih terbilang bagus untuk wanita seusianya amatlah sayang untuk dilewatkan begitu saja. Dengan rambut yang masih basah tergerai sampai punggungya, dia tampak menarik dan boleh dibilang seksi. Mereka memang belum memiliki momongan, mungkin karena kesibukan Pak Muklis yang terlalu lama hidup di site, aku menerka-nerka.

Suatu malam aku sedang di kamar mengerjakan tugas gambar teknikku, terdengar suara Bu Santi memanggil-manggil, “Mas Sony, bisa minta tolong sebentar ngak?”

“Ya Bu. Ada apa?” jawabku sambil melongok ke luar kamar.

“Itu lampu kamar tidur Ibu mati, mungkin putus bola lampunya kali ya? Bisa minta tolong gantiin gak, Mas? Habisnya aku takut kalau masalah setrum gitu,” katanya menghiba.

“Oh, baiklah Bu. Ibu sudah punya lampu penggantinya atau belum?” tanyaku.

“Ada, aku sudah biasa menyimpan lampu cadangan. Ini lampunya,” jawabnya sambil menyodorkan sebuah lampu TL kepadaku.

Akhirnya kami berdua menuju kamar tidurnya. Hmmm, harum aroma bunga memenuhi kamar tersebut. Kamarnya lumayan luas dengan springbed di sudut ruangan dan lemari pakaian dari kayu di sudut satunya lagi. Ternyata Bu Santi menyiapkan bangku sebagai alat bantu untuk mengganti lampunya tersebut. Dengan temaram cahaya lampu dari ruang tengah, akhirnya aku berhasil menggantikan lampu yang sudah mati tersebut dengan lampu yang baru. Dan akhirnya, byar, ruangan kamar tidur itu menjadi terang.

Aku masih berdiri di atas bangku, dan baru menyadari pemandangan indah di bawah sana. Dari atas tampak jelas sekali belahan yang dia miliki, dan yang mengejutkanku adalah bahwa saat ini dia tidak menggunakan BH entah karena lupa atau karena biasa. Gaun tidur putih yang dikenakannya cukup tipis untuk menerawang apa yang ada di balik itu. Dua bukit kembar itu masih berdiri tegak menantang di bawah sana, membuat naluri kelelakianku bergejolak. Dan sialnya, saat itu aku hanya memakai celana pendek tanpa celana dalam. Kontolku tidak dapat dibohongi, melihat pemandangan yang indah itu pun membuatnya menggeliat, dan aku yakin Bu Santi pun pasti menyadari itu. Aku bingung, panik, malu, dan tidak tahu harus bagaimana.

“Mas, ayo turun. Kok malah melamun? Hayo lagi melamun apa itu?” suaranya mengagetkanku.

“Eh, ii…iiya, Bu. Maaf,” aku jadi kikuk. Aku pun segera turun dari kursi itu, dan mengembalikan kursi itu ke tempatnya semula di dekat sebuah meja rias di seberang pintu. Dan alangkah terkejutnya aku ketika akan berjalan menuju pintu, Bu Santi sudah menghadang langkahku sambil menutup pintu yang ada di belakangnya.

“Permisi Bu. Aku mau kembali ke kamar,” aku mulai panik.

Jantungku berdebar-debar hebat. Aku berada di dalam situasi yang tidak pernah aku duga sebelumnya. Di dalam sebuah kamar, hanya berdua dengan seorang wanita cantik dan seksi, dan sialnya dia itu Ibu kosku

“Kenapa Mas? Kok buru-buru? Kita masih punya banyak waktu kok,” jawabnya dengan nada nakal menggoda.

“Ayolah, aku tahu apa yang Mas Sony lihat dari atas tadi. Kamu pasti penasaran kan Mas? Lihat mereka, sangat kenyal dan menggairahkan bukan?” katanya sambil meremas-remas kedua buah dadanya sehingga keduanya seakan ingin meloncat keluar dari baju tidur yang tipis menerawang itu.

Bahkan hembusan nafasnya pun dapat kurasakan di leherku. Aku diam tidak bergeming sama sekali. Akal sehatku sudah lari entah kemana, nafsu yang selama ini terkurung akhirnya meloncat keluar dan mulai menguasai tubuhku.

“Tapi Bu, aku ini kan anak kos Ibu. Nanti kalau ada yang tahu bagaimana? Kalau Pak Muklis tiba-tiba pulang bagaimana?” aku masih mencoba bertahan pada seutas logika yang sudah rantas dan akan putus sebentar lagi.

“Tenang, tidak ada yang tahu kamu ada di sini. Anak-anak kos yang lain belum pulang, sedangkan Mas Muklis masih seminggu lagi baru pulang. Jadi saat ini hanya ada kamu dan aku. Aku sudah lama sekali menunggu kesempatan seperti ini, bahkan sejak kamu pertama kali datang ke rumah ini. Oh ya, dan jangan panggil Ibu lagi, tapi panggil saja Mbak,” dia menatapku dengan memelas.

Sial, berarti benar adanya ketika pertama kali kami bertemu, dia memberikan tanda-tanda yang tidak biasa, pikirku. Dia menggenggam kedua tanganku, lalu membimbing jari tanganku menuju dua bukit kemar yang dari tadi menjadi pusat perhatianku. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menyentuh payudara seorang wanita. Ah, kedua payudaranya masih begitu kenyal dan kencang. Aku merasakan di telapak tanganku tonjolan kecil dari payudaranya, ya itu putingnya dan mulai mengeras.

Dia semakin mendekat kepadaku, dan mulai menempelkan tubuhnya kepadaku. Bibirnya yang lembut pun mulai menempel ke bibirku. Lidahnya menyapu dengan lembut dan memaksa masuk ke dalam mulutku. Akhirnya aku pun menyambut lidahnya dengan lidahku.

Kami saling memagut satu sama lain, lidah kami bertarung dengan liarnya. Tangannya mulai memegang leher dan bergerak ke arah kepalaku sambil meremas-remas rambutku. Tanpa sadar tanganku mulai mengeksplorasi tubuhnya, bergerak dari payudara menuju punggung dan berakhir pada pantatnya yang padat. Sesekali dia mendesah ketika kuremas pantatnya yang sintal itu sambil terus memainkan lidahnya di dalam mulutku.

Tiba-tiba dia melepaskan ciuman kami, dan menggandengku menuju tempat tidur. Dan anehnya kali ini aku menurut saja tanpa mengajukan pertanyaan apapun. Kurasa logikaku kali ini sudah benar-benar putus, dan nafsu sudah menguasai tubuhku. Kami duduk di tepi tempat tidur ketika dia mulai melepaskan kaos dan celanaku. Secara perlahan dia pun melepaskan gaun tidur yang dia pakai, hanya menyisakan celana dalam warna putih saja di sana.

Aku menatap pemandangan di depanku dengan takjub. Dia begitu sempurna, tubuhnya masih terbilang indah, kulitnya yang mulus, dengan dua bukit yang saat ini sedang mengencang dan putingnya yang menjulang. Ibu Santi mulai menciumku lagi, tapi kali ini ciuman ringan. Lidahnya mulai menyapu bibir, kemudian bergerak ke leherku lalu menuju dadaku dan bermain-main dengan putingku. Oh, aku semakin menegang, dan kontolku di bawah sana semakin mengeras saat ada tangan lembut menggenggamnya dengan lembut.

Kupejamkan mataku saat lidah Ibu Santi yang lembut itu mulai menjilati kontolku dari ujung hingga pangkalnya. Buah zakarku juga tidak luput darinya, Bu Santi mainkan dengan tangannya, oh.. aku benar-benar dibuatnya melayang. Aku belum pernah mengalami sensasi seperti ini dalam hidupku sebelumnya.

Bu Santi mendongak dan memandang dengan penuh kelembutan. Bibirnya kembali menuju ke bibirku, kemudian dengan lembut tangannya meraih kepalaku lalu membimbing kepalaku menelusuri lehernya dan akhirnya bermuara pada kedua payudaranya. Kuciumi mereka dan kemudian kedua puting yang sudah mengeras itu tenggelam dalam mulutku secara bergantian kiri dan kanan.

Tangannya kemudian membimbing kepalaku menuju perut dan secara perlahan kulepas celana dalam Bu Santi. Sekilas kulihat celana itu sudah sedikit basah di bagian tengahnya. Akhirnya kepalaku sampai juga di depan sebuah lipatan yang indah dan sedikit tembem memperlihatkan sedikit bibir kemerahan yang menyembul dari dalam. Rupanya Bu Santi adalah orang yang pandai merawat diri. Bibir memeknya begitu mulus tanda sering dicukur.

Bu Santi mulai membuka pahanya lebih lebar, sehingga semakin tampaklah bibir yang merah dan sudah mulai sedikit basah oleh cairan pelumas. Tangan kiri Bu Santi menyibakkan bibir itu sementara tangan kananya membimbing kepalaku supaya mendekat. Secara naluri akhirnya aku pun menciumi bibir memek Bu Santi, menjilati, mengisap, dan sesekali memberikan gigitan kecil di sekitarnya. Tanganku akhirnya ikut membantu menyibak bibir memeknya Bu Santi. Lidahku merasakan ada tonjolan di bagian atas, dimana kedua bibir itu bermuara. Kuhisap, kujilati tonjolan itu yang aku tahu itu itil.

Tanpa kuduga Bu Santi mulai mendesah, melenguh, dan menggelinjang. Tubuhnya menegang sembari tangannya meremas-remas rambutku, “Oohhh… Mas,… ayo terus…. iya disitu…. Oooohh… Aawwwhh…” Bu Santi mendesah keenakan.

Aku pun semakin intens dan semakin menggila bermain dengan klitorisnya. Tangan kirinya mulai meremas-remas payudaranya sendiri sambil sesekali menarik-narik putingnya. Aku pun mulai berani memasukkan jariku ke dalam lubang memeknya Bu Santi yang sudah basah dari tadi. Lidahku masih menari-nari di klitorisnya, sedangkan tanganku mulai dengan mudahnya bermain di dalam lubang memeknya.

Tiba-tiba tubuh Bu Santi menegang lebih kencang dari yang tadi. Tangan kanan Bu Santi menjambak rambutku dan tangan kirinya meremas payudaranya sendiri lebih kencang. Jariku yang ada di dalam lubang memek Bu Santi terasa seperti dijepit dan berdenyut-denyut serta terasa lebih basah dan licin.

Bu Santi pun seperti menjerit tertahan, “Aaakkkhh…. Masss…… Aaaa… aaakuu…. keluar….” desah Bu Santi setelah mengalami orgasmenya yang pertama.

Nafasnya Bu Santi terengah-engah dan tububhnya langsung lunglai terbaring di atas kasur. Aku masih sedikit bingung dengan apa yang terjadi. Lalu Bu Santi memberi isyarat kepadaku agar aku mendekat ke wajahnya. Kemudian Bu Santi memelukku begitu erat, sambil berbisik, “Terima kasih ya Mas, tadi barusan kamu membuat aku orgasme. Sekarang aku ingin kontolmu itu masuk ke dalam lubang memekku. Masukkan pelan-pelan ya, Mas,” kata Bu Santi.

“Baik Bu. Eeh.. maksudku Mbak.”

Lalu dengan perlahan kumasukkan kontol yang sedari tadi sudah mengeras ke lubang memeknya. Mbak Santi sedikit merintih ketika kepala kontolku mulai masuk lubang memeknya. Kugerakkan pelan-pelan sampai akhirnya hampir semua batang kontolku sudah berada di dalam lubang memek Mbak Santi. Memeknya yang masih basah tidak menyulitkanku untuk menggerakan kontolku.

Awalnya gerakanku agak canggung, namun lama-lama aku sudah menemukan iramanya. Tanganku bermain-main dengan kedua payudara Mbak Santi yang bergoyang-goyang seirama dengan sodokan kontolku. Sedangkan tangannya memegang pinggulku seolah ikut mengatur irama.

Semakin lama gerakanku semakin cepat dan kurasakan denyut-denyut liar di dalam sana. Dorongan itu pun semakin kuat dan aku pun mendekap tubuh Mbak Santi erat-erat seolah tidka mau kehilangannya. Aku memompa semakin cepat dan kemudian kulihat wajah Mbak Santi mulai memerah. Tangannya mulai meremas-remas pantatku dan tubuhnya mulai menegang hingga akhirnya Mbak Santi menggelinjang untuk yang kedua kalinya. Mbak Santi menjerit kecil lagi, “Aaakkhh… Mas….. aku datang lagi….  jangan dicabut…. biarkan keluar di dalam… Uuuggghhh….”

Akhrinay dorongan itu lepas juga ketika cairan hangatku menyemprot dengan kuat ke dalam lubang memek Mbak Santi. Gerakanku melambat dan lubang memek Mbak Santi menjadi licin serta kontolku menjadi lebih sensitif. Tubuhku langsung menjadi lemas, tanganku pun seolah tidak mampu menopang berat tubuhku sendiri.

Kusandarkan kepalaku di dahinya. Mbak Santi memelukku erat kemudian memberikan ciuman yang lembut. Aku begerak ke samping dan tidur terlentang di sisinya. Lalu Mbak Santi memeluku dan kami pun segera tidur terlelap setelah mengalami kelelahan yang sangat hebat. Aku pun tidur dengan senyum mengembang di wajahku. Aku sudah tidak sempat lagi memperhatikan wajah Mbak Santi saat itu. Aku sudah terlalu lelah dan aku hanya ingi tidur.

— S E L E S A I —

Jangan lupa di share ya Cerita Sex 2018 Ibu Kost STW Haus Akan Belaian … Dibaca juga Cerita Sex Ngentot Mbak Dea Istri yang Kesepian … Dan nantikan cerita-cerita yang lebih horny dan sange dari kami www.ceritapv.com selanjutnya. Cerita Sex Sedarah 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: