REJEKIPOKER
PERKASA99
BADUTQQ
GADISQQ
BABEQQ
KEPOQQ
BUNGAQQ
TATOQ
BAJUPOKER
SEHATPOKER

Cerita Setengah Baya Ngentot Janda Umur 50an

Cerita Setengah Baya Ngentot Janda Umur 50an – Bu Dona adalah ibu kostku, dia seorang janda beranak 2, semua anaknya sudah kawin dan tidak tinggal serumah lagi dengan Bu Dona. Umur ibu kost ku ini berkisaran 50 tahunan, namun bagiku, untuk ukuran wanita setengah baya, tubuh Bu Dona masih terbilang bagus, meski agak gemuk namun tetap saja montak dengan pantatnya yang semok dan buah dadanya yang besar.

Rambutnya yang hitam panjang selalu di jepitnya di belakang kepalanya. Orangnya sangat tenang dan ramah. Kalau sedang dirumah Bu Dona paling sering memakai daster sehingga bentuk tubuhnya menggodaku agar terus melihatnya. Buah dadanya yang besar itu juga sering ku lihat terkadang tanpa di tutupi BH sehingga nampak menggantung bergoyang-goyang saat badannya menunduk membersihka tanamannya.

Ada satu hari ketika itu aku kerja masuk siang jadi agak santai. Setelah aku membeli koran dan kembali ke kamar untuk membacanya, pintu kamar ku biarkan saja terbuka. Beberapa saat kemudian ku lihat ibu kost berjalan ke arah kamar mandi sambil membawa handuk, rupanya dia mau mandi.

“Koq belum berangkat Rud,” tanyanya kepadaku.

“Iya bu, hari ini masuk siang,” jawabku.

“Wah enak dong bisa santai..” kata Bu Dona lagi sambill tersenyum dan meneruskan langkahnya menuju kamar mandi.

Dari kamar mandi aku mendengar Bu Dona bersenandung kecil dengan suara bunyi air. Saat itu pikiranku langsung ngeres dengan membayangkan tubuh Bu Dona yang telanjang dan itu membuat kemaluanku mengeras. Lalu timbul keinginanku untuk mengintipnya.

Sesegera mungkin kututup pintu kamarku dan dengan sangat berhati-hati aku mencari celah sambungan papan antara kamarku dengan kamar mandi. Ternyata ada sedikit lubang tipis yang karena catnya sudah hancur, celah itu tepat agak dibawah dekat bak mandi. Dengan hati senang, aku intip Bu Dona, tampak dia telanjang bulat, badannya masih bahenol untuk ukuran usianya. Payudaranya sudah agak turun tapi besar dan menantang, sedangkan kemaluannya ditutupi bulu cukup lebat.

Aku melihat dia menyabuni dua gunungnya agak lama, lalu dia permainkan putingnya dengan jari-jari tangan kanannya, sedangkan tangan yang satu lagi menyabuni memeknya, jari tengahnya sesekali dia masukan sedangkan matanya tampak terpenjam mungkin sedang menikmati. gerakannya itu kulihat seperti orang bersetubuh.

Setelah itu Bu Dona menghentikan kegiatannya lalu berjongkok tepat menghadapku untuk mencuci BH dan celana dalamnya sehingga dapat kulihat memeknya dengan jelas. Hal itu membuat penisku langsung berdiri tegap, lalu kumainkan dengan tangaku tak kuperdulikan lagi kemungkinan seandainya Bu Dona mengetahui apa yang aku lakukan. Semakn lama nafsu ku semakin tidak terkendali, kepalaku sudah tidak bisa berfikir jernih lagi, yang ada di kepalaku sekarang adalah bagaimana caranya bisa menikmati tubuh Bu Dona.

Pada akhirnya Bu Dona pun selesai mandi, setelah mengelap tubuhnya dengan handuk, dililitkannya handuk itu menutupi tubuhnya, sedangkan pakaiannya dimasukan ke dalam ember yang ada di dalam kamar mandi.

Aku pun langsung bersiap-siap dengan rencanaku. Ketika Bu Dona melewati kamarku cepat ku buka pintu kamarku dan tanpa berkata-kata lagi kupeluk butuh Bu Dona dari belakang sambil menarik handuk yang di pakai Bu Dona hingga akhirnya telanjang, tanganku langsung meremas buah dadanya.

“Aww, aduhh.. apa-apaan ini..” Bu Dona terkejut.

“Aduhh Rud, jangan Rudi…” Bu Dona mencoba menghindar.

Aku tetap tidak perduli lagi, tangan kananku malah ku arahkan ke memeknya, ku masuk dan keluarkan lalu ku colok dengan jariku masuk ke dalamnya sambil ku ciumi lehernya dari belakang. Tubuh Bu Dona mencoba berontak agar lepas tapi aku tidak memberikan kesempatan dengan semakin mempererat pelukanku.

“Aduhh.. Rud ingat Rud.. ibu sudah tua Rud. Lepasin ibu Rud,” kata Bu Dona memohon.

“Gak bu, ibu masih seksi koq, buktinya saya nafsu sama ibu.. Udah deh mendingan ibu nikmati aja lagian kan ibu sudah lama tidak beginian,” kataku sambil memaksa.

“Tapi ibu malu rud, nanti kalau ada orang yang tahu gimana..?” tanya Bu Dona.

“Ya makanya, mending ibu nikmati saja, kalau begitu kan tidak ada yang bakal tahu,” balasku.

Akhirnya Bu Dona pun terdiam, tubuhnya tidak berusaha memberontak lagi aku pun semakin leluasa menjelajahi semua bagian tubuh Bu Dona, kadang ku elus-eluskan terkadang ku remas-remas seperti pada pantatnya yang besar dan montok itu. Menyadari sudah tidak ada penolakan dari Bu Dona, aku semakin bersemangat.

“Akhhh.. ssshhh, aaahhh, geli Rud,” Bu Dona mendesah pelan pertanda nafsu seksnya sudah bangkit.

Ku putar tubuhku menghadap Bu Dona, sambil tetap ku peluk, ku ciumi bibirnya dan lidahku kumasukan ke dalam mulutnya. Bu Dona ternyata mulai mengimbangiku, dia balas ciuman ku dengan ketat, aku dan Bu Dona bergantian saling menghisap bibir dan lidah. Sambil begitu ku tuntun tangan Bu Dona ke kemaluanku dan ku selipkan tangannya ke dalam celana pendek yang ku pakai.

Tanpa ku minta Bu Dona menarik ke bawah celanaku hingga kemaluan ku bebas mengacung. Digenggamnya penisku, dengan jempolnya ke kepala penisku dielus-elusnya kemudian dikocoknya. Buah zakarku pun tidak luput di jamahnya dengan meremasnya pelan, sesekali jarinya terasa menelusuri belahan pantatku melewati anus, sensasi seks yang kurasakan benar-benar lain.

Sementara itu, leher Bu Dona ku ciumi lalu turun ke bagian dadanya. Buah dadanya yang besar itu kuciumi, kuremas-remas, kusedot-sedot dan ku jilati sepuasnya sedangkan pada putingnya selain ku jilat, aku hisapi seperti bayi yang sedang menetek pada ibunya, ternyata membuat Bu Dona semakin hot. Tangannya mengacak-acak rambutku dan terkadang menekan kepalaku ke payudaranya.

“Aduhhh… ahhh… shhh.. terus Rud, ahhhh..”

Dengan posisi tubuh Bu Dona yang tetap berdiri, aku menurunkan badanku, kuarahkan mulutku ke selangkangannya, Bu Dona ternyata tau apa yang akan kulakukan, di bukanya kedua kakinya lebar sehingga sedikit mengangkang yang membuatku lebih leluasa menciumi memeknya.

Aku mainkan lidahku di bibir memek Bu Dona, itilnya aku jepit dengan bibirku sebelum kuhisap-hisap. Tidak ketinggalan jariku pun ku colokan masuk ke dalam memek Bu Dona.

Apa yang ku lakukan itu membuat Bu Dona semakin horny dengan mulutnya yang tak berhenti berdesah-desah.

“Ahhh… Awww.. yahhh… shh… terus Rud…”

Begitu nafsunya aku dan Bu Dona bercinta, hingga aku dan Bu Dona sudah tidak perduli lagi kalau waktu itu kami bermain di udara terbuka di belakang rumah Bu Dona. Tapi akhirnya kekhawatiranku muncul juga. Ku hentikan sejenak aktifitasku.

“Bu sebentar yah, aku mau mengunci pintu dulu, takut ada yang datang,” kataku sambil beranjak.

“Ohh iya. untung kamu ingat, tapi cepat ya Rud, ibu sudah ngak tahan neh,” jawabnya nakal. Aku pun tersenyum, sambil berlalu kuremas dulu dada Bu Dona.

Bisa dibilang jarak ke pintu hanya beberapa meter saja, berhubung aku dan Bu Dona sedang dinaungi rasa nikmat hingga tidak mau kehilangan waktu sedetik pun. Setelah menuntup pintu aku kembali, penisnya terayun-ayun waktu berjalan karena celana dalam ku terlepas meskipun aku masih memakai baju.

“Kalau pagar depan dikunci ngak Bu? tanyaku ketika sudah dekat Bu Dona.

“Dikunci koq, dari pagi Ibu belum membukanya,” jawab Bu Dona sambil merangkul tubuhku ke pelukannya.

“Rud kita pindah ke kamar yuk,” kata Bu Dona.

“Disini aja ya Bu, cari suasana lain, pasti Ibu belum pernah ngentot di sini kan sama bapak dulu.”

“Ah,, kamu ini ada-ada aja,” jawab Bu Dona sambil membuka bajuku.

Aku dan Bu Dona kembali berpelukan di atas kursi yang ku tarik dari kamar depanku, tubuh Bu Dona ku pangku di atas pahaku, Bu Dona semakin aktif menciumi ku, pentilku pun di hisap dan di jilatinya sedangkan tanganku mulai aktif mencari memeknya yang semakin basah.

Bu Dona kemudian berdiri lalu jongkok di hadapanku, di langsung memasukan mulutnya ke penisku, di hisap-hisapkannya dengan menggerakan kepalanya maju mundur, kemudian kedua telur kecil ku juga di hisapnya. Gerakan lidah Bu Dona benar-benar membuatku mabuk kepayang.

“Ahh, enak Bu..,” erangku penuh nafsu.

Tanganku juga ku arahkan ke buah dadanya yang menggantung bergoyang-goyang, sesekali ku remas rambutnya dan ku tekan kepalanya agar semakin dalam mulutnya menghisap penisku. Bu Dona lalu menghentikan hisapannya pada penisku.

“Rud, ayok penismu masukin sekarang, memek Ibu sudah pengen banget dimasukin penismu itu,” pintanya sambil membaringkan tubuhnya di atas tikar dengan kedua kakinya dilebarkan.

Tanpa basa-basi lagi, aku menyusul Bu Dona dan ku kangkangi tubuhnya dari atas, Bu Dona meraih penisku lalu di arahkannya ke lubang memeknya. Setelah pas lalu ku tekan pelan-pelan hingga penisku masuk semuanya dalam memek Bu Dona, ku tarik dan ku masukan lagi dengan gerakan semakin cepat. Mulut Bu Dona terus berdesah menahan nikmat. Tubuh Bu Dona terhentak karena dorongan tubuhku, buah dadanya yang bergerak-gerak indah ku remas penuh nafsu, sambil terus bergerak aku dan Bu Dona berpelukan erat, mulutku dan mulutnya saling hisap.

Bu Dona lalu memintaku berganti posisi di atas, aku pun berbaring dan Bu Dona duduk di atas selangkanganku setelah penisku di masukannya ke dalam memeknya. Bu Dona bergoyang-goyangkan pantatnya, terasa seperti memeknya membelit penisku. Dari bawah buah dada Bu Dona tampak lebih indah menggantung bergoyang-goyang.

Aku dan Bu Dona kembali ke posisi semula, gerakan aku dan Bu Dona semakin liar saja. Tusukan penisku semakin cepat dan diimbangi dengan gerakan pantat Bu Dona yang kadang bergoyang ke kira dan ke kanan, kadang juga ke atas dan ke bawah semakin panasnya permainan seks yang aku lakukan dengan Bu Dona. Hingga akhirnya ku rasakan cairan spermaku segera keluar.

“Bu aku mau keluar,,,” desahku.

“Ibu juga mau keluar Rud,” erangnya.

Aku dan Bu Dona saling berpelukan dengan ketat, bibirku dan bibir Bu Dona saling hisap dengan erat dan spermaku pun menyemprot di dalam memek Bu Dona.

Beberapa saat aku dan Bu Dona saling diam menikmati sisa-sisa kenikmatan. Sambil berbaring di atas tikar di bawah pohon rambutan yang rindang dengan tubuh sama-sama telanjang aku dan Bu Dona melepas lelah sambil ngobrol dan bercanda. Tanganku mempermainkan buah dada Bu Dona, entah kenapa aku suka sekali dengan buah dada Bu Dona itu.

Aku dan Bu Dona lalu pergi membersihkan badan di kamar mandi, saling gosok dan sambil meremas hingga gairah ku dan gairah Bu Dona kembali bangkit, aku dan Bu Dona kembali bersetubuh di kamar mandi sampai puas.

Wanita seusia Bu Dona memang sangat berpengalaman dalam memuaskan pasangannya, mereka tidak egois dalam menyalurkan gairah seksnya, bahkan yang kurasakan Bu Dona cenderung memanjakanku agar dapat kenikmatan yang setinggi-tingginya. Maka karena itulah aku pun merasa di tuntut untuk bisa mengimbanginya.

Gairahku kepada Bu Dona entah kenapa selalu menyala, maunya setiap hari aku bisa menggaulinya, dan ternyata Bu Dona pun demikian. Hal ini ku dengar sendiri ketika aku mengajaknya untuk bersetubuh padahal ketika itu teman kostku sedang ada di kamarnya.

Saat Bu Dona sedang mencuci piring ku dekap dia dari belakang, tapi dengan halus Bu Dona menolaknya.

“Jangan sekarang Rud, nanti temanmu tahu,” kata Bu Dona.

“Tapi Bu, aku sudah ngak tahan..” sanggahku.

“Ibu juga sama, malahan ibu pengennya setiap hari begituan sama kamu.”

Akhirnya aku mengalah dan kembali ke kamarku dengan kepala penuh hasrat yang tidak terlampiaskan. Sudah lebih dari 4 hari hasratku tidak tersalurkan, aku dan Bu Dona hanya bisa saling bertukar kode tanpa bisa berbuat lebih, hingga pada suatu sore, mendadak temanku mau pulang ke kampungnya setelah dapat telepon ibunya sakit. Setelah temanku pergi ku kunci pintu lalu segera aku mencari Bu Dona. Di dalam rumah tampak Bu Dona baru keluar dari kamarnya.

Bu Dona ketika itu memakai baju berkerudung seperti Bu Dona mau pergi mengaji.

“Mau ke mana Bu? tanyaku mendekatinya.

“Ibu mau pergi ngaji dulu Rud,” jawab Bu Dona.

“Bu, ayok dong, sudah lama nih..,” bujuku.

“Nanti aja ya Rud, Ibu cuma sebentar saja koq ngajinya.”

“Ayo lah Bu sebentar saja..,” paksaku sambil ku peluk Bu Dona.

Tanganku segera aja menjalar ke balik baju Bu Dona yang gombrong. Buah dada Bu Dona yang besar selama beberapa hari ini ku rindukan, jadi mainanku.

“Dasar kamu nakal banget,, tapi sebentar saja ya,” ucap Bu Dona sambil pasrah.

Ternyata Bu Dona sudah panas, ciuman bibirku segera di balasnya dengan begelora. Meskipun saat ini Bu Dona memakai kerudung tidak menghalangi aku dan Bu Dona untuk saling berbagi kenikmatan malahan aku merasa ada nuansa yang lain kian membuat gairah bercintaku menjadi-jadi dan permintaan Bu Dona melepaskan kerudungnya pun ku larang.

“Rud, kerudungnya Ibu lepaskan dulu yah,” tanya Bu Dona.

“Jangan Bu, biarin saja, saya semakin bernafsu melihat Ibu pakai kerudung..” larangku.

“Ahh, kamu ini ada-ada saja.”

Sambil terus berciuman Bu Dona melepas BHnya, lalu bajunya ku angkat ke atas dan ku sorongkan wajahku menjamah buah dadanya. Ku ciumi dan ku jilati sepuas-puasnya. Bu Dona merengek kecil sambil tangannya mengerumasi rambutku.

“Ahh,, shhhh,,, ahhh..” suara Bu Dona pelan.

Tangan Bu Dona menarik celanaku hingga penisku yang sudah keras itu mengacung bebas, lalu di permainkannya penisku dengan meremas-remasnya. Kain bawahan yang di pakai Bu Dona ku angkat dan ku gulungkan di pinggangnya, lalu pantatnya ku remas-remas ku tarik celana dalamnya.

“Rud, ayo cepat masukin…” pinta Bu Dona.

“Iya Bu, disini aja ya bu,” jawabku sambil membimbing tubuh Bu Dona ke kursi panjang yang ada di ruang tamu.

“Tapi nanti kalau ada orang gimana Rud?” tanya Bu Dona khawatir.

“Tenang saja bu, kan kita ngak telanjang.”

“Rud, Ibu di atas yah,” Bu Dona meminta posisi di atas.

Aku pun mengiyakan kemauan Bu Dona, ku dudukan tubuhku di atas kursi panjang dengan posisi agak berbaring, selanjutnya Bu Dona menempatkan tubuhnya di atasku, dengan kedua kaki melipat sejajar dengan pahaku, lalu Bu Dona menurunkan tubuhnya dan mengarahkan memeknya ke penisku. Penisku di pegangnya agar pas dengan lubang memeknya.

Setelah itu Bu Dona menekan tubuhnya hingga penisku masuk ke dalam memeknya sampai dasar lalu di putar-putar dengan gerakan semakin cepat. Buah dada Bu Dona yang besar bergoyang keras mengikuti gerakan tubuh Bu Dona yang semakin liar itu segera ku sosor dengan mulutku, ku ciumi dan ku hisapi hingga meninggalkan tanda merah, sementara tanganku meremas-meremas pantatnya.

Biarpun Bu Dona tidak melepaskan pakaian dan kerudungnya persetubuhan aku dan Bu Dona tetap dahsyat malah semakin membuatku bernafsu. Ku imbangi gerakan Bu Dona dengan menghentakan pantatku ke atas apabila Bu Dona menekan ke bawah hingga aku merasakan penisku seperti menghujam ke dalam memek Bu Dona, hal itu membuatnya semakin terhempas dalam kenikmatan.

“Akhhh.. akhhh.. mmhhh…” mulut Bu Dona tidak berhenti mendesah.

“Ayo Rud, terus masukan lebih dalam lagi..” katanya di sela-sela desahan.

Setelah beberapa saat aku dan Bu Dona saling menggenjot dengan posisi Bu Dona tetap di atas, kurasakan spermaku mau keluar.

“Bu, aku mau keluar..” erangku.

“Ibu juga Rud, mau keluar.. akhhh..” balas Bu Dona.

Gerakan tubuhku dan tubuh Bu Dona sudah tidak beraturan lagi, aku dan Bu Dona semakin liar menjelang klimaks. Tubuhku dan tubuh Bu Dona saling berpelukan erat, bibir ku dan bibir Bu Dona saling hisap, hingga akhirnya tubuhku dan tubuh Bu Dona sama-sama mengejang, spermaku pun tumpah di dalam memek Bu Dona. Aku dan Bu Dona bersama-sama menikmati puncak permainan seks yang bergelora walaupun tidak begitu lama.

Aku dan Bu Dona sama-sama terdiam dengan masih berpelukan menikmati sisa-sisa gairah. Setelah keadaan dirasa normal Bu Dona mengangkat tubuhnya lalu berdiri, baru tampak olehku kalau pakaian dan kerudung yang dipakai Bu Dona begitu acak-acakan akibat pertemuparan tadi.

“Sudah ya Rud, Ibu mau berangkat,” kata Bu Dona sambil beranjak menuju kamar mandi.

Aku lalu mengikutinya dan sama-sama masuk kamar mandi untuk membersihkan cairan sisa pertempuran. Sambil saling bercanda aku dan Bu Dona saling tuduh.

“Gara-gara ini nih Ibu jadi terlambat,,” kata Bu Dona sambil meremas pelan penisku yang mulai layu.

Aku hanya tersenyum mendengar gurauan Bu Dona. Setelah dirasa bersih aku dan Bu Dona keluar dari kamar mandi, aku masuk ke dalam kamarku sedangkan Bu Dona berjalan ke dalam rumah. Ku ganti kaos dan celanaku lalu aku duduk di depan kemarku sambil merokok dan baca koran. Dari dalam terlihat Bu Dona berjalan ke arahku dia sekarang sudah rapi kembali.

“Rud, ibu berangkat ngaji dulu yah..kalau mau istirahat jangan lupa pintu depan kunci dulu,” kata Bu Dona.

“Iya bu,” jawabku sambil berdiri dan berjalan mengikuti Bu Dona, iseng dari belakang ku remas pantat Bu Dona yang bergoyang-goyang. Bu Dona hanya berkata manja.

“Rud, akhh nakal kamu, belum puas ya..?”

“Ngak tahu nih bu, kalau ngelihat Ibu bawaannya jadi nafsu saja,”

Setelah menutup pintu aku kembali ke kamar untuk tidur. Malamnya aku dan Bu Dona nonton TV berdua di rumahnya, kami hanya ngobrol dan bercanda saja, tak enak juga mengajak Bu Dona bersetubuh lagi kasih sepertinya dia kecapean. Ketika aku mau kembali ke kamar telepon Bu Dona berbunyi yang ternyata dari cucunya Bu Dona yang mengatakan bahwa besok siang mau berkunjung. Wah alamat gairahku bisa tidak tersalurkan lagi nih, kataku dalam hati.

Jam setengah tujuh pagi aku bangun dan langsung bergegas ke kamar mandi, saat berjalan ke kamar mandi ku lihat Bu Dona sedang berada di dapur dengan hanya memakai daster tipis dan langsung membuat gairahku naik. Ketika mandi pikiranku tertuju terus ke Bu Dona, dan acara mandi pagi pun ku percepat. Pikirku kalau sekarang ngak bisa menikmati tubuh Bu Dona bisa gigit jari, soalnya cucu Bu Dona datang bisa berhari-hari mereka akan tinggal.

Aku segera mengganti kaos, sedangkan celana pendek tetap ku pakai biar praktis. Aku lalu mengendap-ngendap mendekati Bu Dona yang sedang berdiri di depan meja dapur dengan posisi membelakangiku. Setelah dekat dengan Bu Dona kepalaku langsung ku arahkan ke bawah pantat Bu Dona setelah terlebih dulu bagian bawah dasternya ku angkat dan langsung ku ciumi belahan pantat Bu Dona yang ternyata tidak memakai celana dalam.

“Aww.. apaan nih,,” teriak Bu Dona terkaget-kaget setelah tiba-tiba merasa ada sesuatu yang mendesak-desak pantatnya, tapi setelah tahu aku yang melakukannya Bu Dona pun tenang kembali.

“Iiihh, kamu ini ngapain sih, ngagetin Ibu aja, untung ibu ngak jantungan.”

Aku terus saja menciumi sekeliling pantat Bu Dona yang masih berwangi sabun, rupanya Bu Dona juga baru habis mandi. Dari balik dasternya, tangaku ku julurkan ke atas untuk meraih teteknya yang menggantung yang juga tidak memakai BH, setelah terpegang lalu ku remas-remas, sedangkan Bu Dona sejauh ini masih cuek saja dengan terus memilih sayuran.

“Rud, ibu sih sudah menebak kalau pagi ini kami pasti minta jatah sama Ibu,” kata Bu Dona.

“Memangnya kenapa bu? tanyaku dari dalam dasternya.

“Iya, kamu semalam dengar kan kalau cucu ibu mau datang. kasihan deh  kami Rud bakal nganggur beberapa hari ini, he.. he.. hee.. hee,” jawab Bu Dona sambil tertawa sambil membayangkan penderitaanku nanti.

“Nasib-nasib..” sesalku. Bu Dona kembali tertawa mendengar ratapanku itu.

Sambil terus menciumi pantat Bu Dona, ku minta dia agar sedikit melebarkan kedua kakinya dan setelah kedua kakinya lebar mengangkang ku geser tubuhku sekami ke dalam lalu ku balikan badan dengan wajahku menghadap keatas pas di bawah memeknya.

Memek Bu Dona yang berbulu tebal itu lalu ku ciumi dan ku jilati, dan lubang memeknya ku masukan dengan jari tengahku sambil ku putar-putar di dalamnya. Bu Dona pun mengimbangi dengan menggoyang-goyangkan dan menekan-nekan pantatnya, sepertinya gairah Bu Dona pun mulau naik.

“Rud berhenti dulu sebentar,” mintanya.

Dan setelah aku menghentikan kegiatanku dengna masih tetap berdiri di tariknya kursi makan di sebelahku lalu diangkatnya satu kakinya dan di letakan di atas kursi, dengan posisi seperti itu memungkinkan aku bebas menjelajahi memeknya.

Memek Bu Dona kembali ku jelajahi dan tidak lama berselang kurasakan Bu Dona mengejang dengan kepala kini menumpu di atas meja satu tangannya menekan kepalaku tersuruh kian dalam ke memeknya.. lalu gerakan Bu Dona pun melemah kemudian terhenti, hanya terdengar nafasnya masih cepat.

Seiring dengna melemahnya gerakan Bu Dona, aku pun menghentikan permainan ku pada memek Bu Dona. Tanganku kini berpindah meremasi buah dada Bu Dona yang menggantung bergoyang-goyang karena kepala Bu Dona masih tergeletak di atas meja dan tubuhnya menjadi kondong ke depan. Mulutku ikut menyerbu buah dada Bu dona dengan rakus ku ciumi, ku hisapi dan ku remas-remas.

Setelah merasa pulih, Bu Dona lalu bangkit dan aku pun kemudian duduk di atas kursi. Bu Dona lalu memelukku dari arah depan hingga kedua teteknya yang empuk menghimpitku karena saat itu aku masih duduk di kursi. Bu Dona menciumi kepalaku lalu ciumannya turun ke wajah, aku dan Bu Dona saling berbalas lidah.

Bu Dona lalu jongkok, di tariknya celana pendekku hingga penisku yang sudah keras itu mengacung. Di permainkannya penisku dengan mengocoknya lalu dimasukannya ke dalam mulutnya sambil dihisap-hisap.

Aku dan Bu dona menuju ke menu utama permainan dengan menurunkan dasternya, Bu Dona lalu tengkurap diatas meja satu kakinya tetap menginjak lantai sedangkan yang satunya di angkat melintang di atas meja, menampilkan pemandangan erotis pada memeknya. Terlihat memeknya sedikit mendongkak. Segera ku arahkan penisku ke belahan memek Bu Dona, kemudian ku dorong hingga amblas dan ku tarik lagi dengan lebih cepat.

Tubuh Bu Dona terhempas terdorong oleh hentakanku, untung saja meja makan yang di jadikan tumpuan tubuh Bu Dona kuat, itupun sesekali  beradu juga dengan dinding hingga menimbulkan suara berdegup.

Aku dan Bu Dona lalu berganti posisi dengan berbaring di lantai dapur. Bu Dona memiringkan tubuhnya, aku yang sudah jongkok di depannya segera mengangkat dan menahannya dengan pundak satu kaki Bu Dona hingga terpentang, lalu kuarahkan penisku ke memek Bu dona yang tampak memerah itu dan kutusukan hingga dasar memek Bu Dona.

Ketika kurasakan saat-saat puncak sudah dekat, kusetubuhi bu Dona dengan menindihnya dari atas, mulutku menciumi buah dada Bu Dona. Kedua kaki Bu Dona melingkar di pingganku hingga aku akhirnya klimaks, sprermaku tumpah di dalam memek Bu Dona. Aku dan Bu Dona berpelukan erat dengan bibir saling beradu sambil mengakhiri kepuasan.

Setelah itu aku dan Bu Dona segera bangkit karena khawatir kalau cucu Bu Dona datang, dan benar saja tidak lama setelah aku tidur-tiduran di kamarku terdengar cucu-cucu Bu Dona datang. Ternyata cucu Bu Dona tinggal lama karena sekolahnya sedang libur panjang, tinggal aku yang sengsara menahan gairah sama Bu Dona yang tidak dapat tersalurkan.

Akhirnya aku tidak tahan lagi, suatu sore ketika Bu Dona hendak mandi dan cucunya sedang main di depan, ku hentikan langkah Bu Dona di depan kamarku dengan berpura-pura ngobrol aku utarakan hasratku pada Bu Dona.

“Bu, saya sudah ngak tahan lagi nih,,” ucapku pada Bu Dona.

“Sabar dong Rud, kamu kan tahu sendiri cucuku, ibu juga sama, sudah kepengen, tapi yang gimana,” jawab Bu Dona.

“Tuh ibu juga sama, sudah kepengen kan ayolah Bu, sebentar saja,” desakku.

“Iya sih, tapi ngak ada kesempatannya, cucu ibu itu lho, maunya sama ibu terus..”

“Bu, gimana kalau nanti malam, setelah cucu ibu tidur, ibu pura-pura sakit perut atau setelah semua tidur ibu nanti ke sini.”

“Terus kalau pas kita lagi begitu ada yang ke kamar mandi gimana?” kata Bu Dona khawatir.

“Kitakan begituannya tidak di kamar mandi.”

“Habis dimana?.. di kamarmu?” tanya Bu Dona lagi.

“Ya ngak lah itu sih resikonya sama, di situ aja tuh, tempatnya kan gelap, orang ngak akan melihat kita, lagian kalau ada orang rumah yang keluar kita bisa segera tahu,” kataku sambil menunjuk tempat dekat pohon belimbing di depan gudang yang gelap kalau malam.

“Ya sudah deh kalau begitu, nanti malam ibu coba kesini, sudah ya nanti ada yang lihat,” jawab Bu Dona sambil tersenyum.

Saat Bu Dona berjalan, aku sempatkan meremas pantatnya setelah melihat keadaan di dalam rumah Bu Dona sepi. Bu Dona hanya merintih pelan sambil terus berjalan ke kamar mandi.

Untuk semakin mematangkan rencana, dari sehabis sholat aku berpura-pura tidur dan lampu kamarku pun kumatikan. Menjelang tengah malam sekitar jam sebelas aku dengan pintu belakang rumah Bu Dona di buka, segera ku intip dari celah jendela, dan seperti yang ku harapkan terlihat memang Bu Dona yang keluar.

Segera aku bangun dan keluar. Tanpa mengeluarkan kata, setelah menutup kembali pintu rumahnya dan melihatku keluar dari kamar, Bu Dona langsung menuju tempat yang telah direncanakan, aku menyusulnya sambil hati-hati.

Setelah berdekatan, aku dan Bu Dona langsung saling berpelukan sambil berciuman dengan panas, bibirku dan bibir bu Dona saling balas dengan liar dan penuh nafsu untuk melepaskan hasrat yang tertunda. Tanganku dan tangan bu Dona sama-sama sibuk saling merabah. Ku nyusupkan tanganku ke balik daster Bu Dona hingga bagian bawah daster Bu Dona ikut terangkat ketika tangaku mulai meremas ke belahan pantatnya lalu berpindah ke depan sambil merabah memeknya yang ternyata tidak bercelana dalam.

Bulu jembutnya yang lebat ku permainkan dulu dengan menarik-narik dengan pelan sebelum menjamah memeknya. Memek Bu dona yang tembam itu lalu kupermainkan, itilnya kucubit-cubit halus, jariku lalu ku masukan ke belahan memek Bu Dona dan kuputar-putar di dalamnya. Sedangkan tangan Bu Dona segera mencari penisku yang sudah tegang di kocok-kocoknya perlahan batang penisku seperti sedang mengurut, kemudian berpindah meremas buah zakarku.

Karena situasinya tidak begitu kondusif aku dan Bu Dona tidak berlama-lama melakukan pemanasan, segera saja aku dan Bu Dona bersetubuh, dengan tetap berwaspada kalau ada orang rumah yang keluar.

Tubuh Bu Dona berdiri menyender di dinding dengan ujung daster bagian bawah di tariknya ke atas, satu kakinya naikan ke atas dan ku tahan dengan tanganku, tubuhku menghimpit tubuh Bu dona ke dinding dan setelah dirasa posisinya pas mulai ku masukan penisku ke memek Bu Dona.

Biarpun dalam keadaan yang tidak begitu  leluasa, aku dan Bu Dona saling berciuman dengan liar. Aku dan Bu Dona sama-sama penuh gairah dalam persetubuhan yang kami lakukan. Nafasku dan nafas Bu Dona saling memburu, dengan tetap menusuk-nusukan penisku tubuh Bu Dona sedikit ku angkat dengan tanganku yang sebelumnya meremas-remas bongkahan pantat Bu Dona.

Aku dan Bu Dona terus bergerak untuk saling berbagi kenikmatan dengan mulut yang tanpa mengeluarkan suara kutahan. Dengan cara seperti itu ternyata aku merasakan sensasi bersetubuh yang lain, yang tidak kalah nikmatnya dengan persetubuhan biasa. Aku dan Bu Dona menjadi lebih panas dan penuh gairah untuk segera menuntaskan permainan penuh nafsu ini.

Mukaku langsung ku arahkan di tengah-tengah payudara Bu Dona setelah Bu dona membuka kancing dasternya, lalu ku permainkan buah dada Bu Dona dengan mulutku dengan menciumi dan menghisapinya dan pada putingnya seperti menyusui, hal itu membuat Bu Dona menahan kenikmatan.

Dan akhirnya dengan tanpa merubah posisi kami yang tetap berdiri aku dan Bu Dona sampai ke ujung klimaks, tubuhku dan tubuh Bu Dona semakin merapat, pantat Bu Dona bergoyang-goyang tak beraturan dengan semakin liar dan ku tancapkan penisku semakin kencang sedangkan bibirku dan bibir Bu Dona terus beradu dengan ganas saling melumat dan bertukar lidah, hingga pada akhirnya tubuhku dan tubuh bu Dona sama-sama mengejang menahan kenikmatan yang tiada tara itu, spermaku pun tumpah memenuhi rongga-rongga memek Bu Dona.

–SELESAI–

Berakhir sudah Cerita Setengah Baya Ngentot Janda Umur 50an.. nantikan cerita-cerita panas dari kami admin www.ceritapv.com selanjutnya..

One thought on “Cerita Setengah Baya Ngentot Janda Umur 50an

  • January 15, 2018 at 10:10 am
    Permalink

    O…begitu toh
    Izin paraf buku tamu

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: